BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Lumbung Penuh, Hati Kosong

Petani menyusun hasil panen padi di dalam lumbung. (ist)

Senin, 19 Oktober 2026. Hari Biasa Pekan XXIX. Efesus 2:1-10; Lukas 12:13-21

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI-saudari terkasih, ada orang yang bekerja keras membanting tulang untuk mengumpulkan uang dan harta demi menjamin masa depannya. Ketika semuanya sudah dimiliki, rumah mewah, mobil mentereng, dan penampilan parlente, ia justru menangis terisak-isak saat berdoa.

Entah beban apa yang sedang dipikulnya, mungkin belum dapat menikmati hidup karena kemewahan ternyata tidak selalu menjamin ketenangan hati. Hartanya boleh bertambah, tetapi hatinya belum tentu bahagia.

Inilah bahaya yang diingatkan Yesus dalam Injil hari ini. Seorang kaya merasa masa depannya aman karena hasil panennya melimpah. Ia membangun lumbung yang lebih besar dan berencana untuk menikmati hidupnya.  Namun, malam itu juga nyawanya diambil.

Yesus mengingatkan bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaan yang dimilikinya (Luk 12:15). Lumbungnya penuh, tetapi hidupnya miskin di hadapan Allah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Dalam Kristus, Bersatu dalam Misi

Di sinilah Rasul Paulus meneguhkan kita melalui suratnya kepada jemaat di Efesus. Dahulu kita mati karena dosa, tetapi Allah yang kaya akan belas kasihan telah menghidupkan kita bersama Kristus. Kita diselamatkan oleh rahmat, bukan karena kehebatan atau hasil usaha sendiri (Ef 2:4–9).

Bahkan Paulus menegaskan bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah disiapkan Allah (Ef 2:10). Hidup adalah anugerah, bukan milik yang dapat kita kuasai sesuka hati.

Orang kaya dalam Injil lupa akan hal itu. Ia sibuk menghitung hasil panennya, tetapi tidak memikirkan Allah maupun orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Karena itu, saudara-saudari, kita boleh bekerja keras, menabung, dan merencanakan masa depan. Namun, di tengah kesibukan mengejar kemapanan, kita tetap perlu menikmati dan membangun hidup yang Tuhan anugerahkan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Hidup Membawa Damai

Alangkah indahnya bila saldo rekening yang terus bertambah diimbangi dengan deposit kasih yang semakin melimpah dalam hati. Jadikan setiap berkat sebagai kesempatan untuk mengisi hati dengan damai dan sukacita, agar tangan kita semakin ringan membantu sesama dan meninggalkan jejak kebaikan dalam lumbung hati mereka.

Kita tidak perlu menunggu sampai memiliki segalanya untuk mulai berbagi, sebab kemurahan hati jauh lebih berharga daripada lumbung yang penuh. Ingatlah, ketika hidup berakhir, seluruh harta akan kita tinggalkan. Namun, kasih yang telah kita wujudkan, sukacita yang kita bagikan, dan kebahagiaan yang kita hadirkan bagi sesama, itulah kekayaan sejati kita di hadapan Allah.

Petikan BUSA-H #19/10/2026

”Kemewahan dapat memenuhi rumah kita dengan segala sesuatu, tetapi hanya kasih Allah yang mampu memenuhi hati dengan damai dan sukacita.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Depan Tampak Baik, di Belakang Berbuat Lain

“Alangkah indahnya bila saldo rekening terus bertambah, sementara deposit kasih dalam hati semakin melimpah dan mengalir menjadi berkat bagi sesama.”

“Kita tidak perlu menunggu memiliki segalanya untuk mulai berbagi, sebab hati yang murah hati jauh lebih berharga daripada lumbung yang penuh.”

“Pada akhir kehidupan, yang tinggal bukanlah kekayaan yang berhasil kita kumpulkan, melainkan kasih yang telah kita wujudkan dan kebahagiaan yang kita hadirkan bagi sesama.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan