Tahun ke-10 Kopdit Obor Mas Mengelola KUR, Buah Kerja Keras Empat Tahun Menata Diri
MAUMERE, dewadet.com-Dua tahun selepas perayaan HUT ke-40 KSP Kopdit Obor Mas tanggal 4 November 2012, manajamen dan pengurus memulai satu tahapan sangat strategis. Tekad yang dituju membawa Kopdit Obor Mas menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Kerja keras dimulai menata sistim, manajemen dan sumber daya manusia (SDM). Pengorbanan tenaga, waktu dan biaya yang tidak kecil. Lebih dominan pembenahan internal, tapi campur tangan eksternal juga sangat dibutuhkan.
Memenuhi lima syarat menjadi penyalur KUR bukan hal yang gampang. Pertama, kesehatan Kopdit yang dinilai oleh Kantor Akuntan Publik dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Penilaian kesehatan koperasi juga dilakukan oleh pemerintah atau lembaga yang legal lainnya yang punya kewenangan memberi penilaian seperti Puskopdit dan Indkopdit.
Syarat kedua, Non Performance Loan (NPL) harus kecil atau sama dengan 5 persen. Ketiga, memiliki dana cadangan minimal 10 persen dari total aset. Keempat menjalin kerjasama dengan perusahaan penjamin simpanan, dan syarat yang kelima punya jaringan online data KUR dengan sistim Informasi Kredit Program (SKIP).
Baca juga:SK Menko Perekonomian Pukul 21.41 Wita, Kopdit Obor Mas Salurkan KUR Rp 200 Miliar
Dari kelima syarat tersebut, tak satupun syarat yang dipunyai oleh Kopdit Obor Mas. Maka bukan hal yang gampang membangun dan menata ulang dan menyiapkan semua syarat itu.
Tantangan luar biasa berat. Tapi tekad baja sudah dikumandangkan oleh General Manajer KSP Kopdit Obor Mas,Leonardus Frediyanto Moat Lering. Yanto, sapaan tipikal petarung. Semangat pantang menyerah sebelum terwujud impian membawa KUR ke Kopdit Obor Mas.
Saat itu beber Yanto seperti dituangkan dalam “Buku 50 Tahun Kopdit Obor Mas, Terus Menjadi Cahaya,” karya penulia Eugenius Moa, pada tahun 2012 dan bawaan tahun-tahun sebelumnya, dana cadangan masih rendah. Setiap tahun, alokasi dana cadangan hanya 20 persen. Tak ada piliihan, dana cadangan harus dinaikan menjadi 40 persen.
Semangat menaikan dana cadangan jugab bukan kerja mudah diwujudkan. Ia harus mendapat persetujuan anggota dengan segala macam asumsi dan argumentasi.
Baca juga:Pesan Romanus Woga; KUR Rp 200 Miliar, Semua Tergantung Anggota, Utamakan Pelayanan
“Pada waktu RAT, saya jelaskan kepada semua anggota. Ada yang setuju, tapi banyak juga yang tidak setuju. Tapi saya tetap ngotot perjuangkan. Akhirnya memang disetujui, tapi dengan marah-marah dan gebrak meja,” kenang Yanto.
Begitu pula NPL. Sampai tahun 2012, NPL Kopdit Obor Mas menyentuh angka 20 persen. Angka yang terlampau tinggi itu merupakan bawaan dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun menekan NPL sampai angka 5 persen apalagi dibawah 5 persen bukan kerja mudah dilakukan. Tapi memenuhi syarat menyalurkan KUR, NPL harus dibawah 5 persen.
“Strateginya saya bangun dan lakukan selama empat tahun. Sampai akhir tahun 2016, NPL Kopdit Obor Mas 4,3 persen,” imbuh Yanto.
Pengelolaan KUR harus dilaksanakan oleh pengelola yang profesional. Maka pada tahun 2026, Yanto menghadirkann Puskopdit dan Inkopdit ke Maumere memberikan pelatihan dan sertifikasi kompetensi keahlian. Para manajer menjadi prioritas,,menyusul kasir dan member. (bersambung).





