BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah yang Menggendong dan Mencari Hingga Menemukan
Selasa, 9 Desember 2025. Hari Biasa Pekan II Adven. Kitab Yesaya 40:1-11; Matius 18:12-14
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI -saudara terkasih, kedua bacaan hari ini berbicara dengan sangat indah tentang siapa Allah kita: Yesaya menegaskan bahwa manusia itu rapuh seperti rumput yang kering, namun Allah datang membawa penghiburan.
Sementara Yesus dalam Injil meyakinkan kita bahwa Bapa tidak menginginkan seorang pun tersesat atau hilang.
Yesaya berbicara kepada umat yang lelah, bangsa yang hancur oleh pembuangan, dan hati yang mulai patah. “Seluruh umat manusia seperti rumput,” katanya.
Sebuah gambaran tentang kerapuhan kita: rapuh oleh kelelahan, oleh tekanan ekonomi, konflik keluarga, frustasi hidup, dan luka-luka batin yang kadang kita sembunyikan di balik senyum. Kita rapuh oleh kecemasan tentang masa depan, rapuh oleh ketidakstabilan dunia modern yang bergerak terlalu cepat dan banyak yang terhanyut di dalamnya.
Tetapi pesan Yesaya bukan tentang kerentanan saja. Di tengah kegersangan itu, Allah berseru: “Hiburkanlah umat-Ku!” Dalam kata Ibrani nakhamu yang berarti “mengangkat kembali”, “menguatkan tulang yang lemah” , “menyembuhkan hati yang retak”. Artinya, Allah tidak duduk menonton penderitaan kita. Ia turun, Ia mendekat, Ia memeluk.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rahmat yang Mendahului Segalanya
Tindakan Allah ini dalam masa Adven mengingatkan kita bahwa Allah selalu memulai pembaruan lebih cepat daripada kejatuhan kita.
Yesaya bahkan melukiskan Allah sebagai Gembala: “Ia menggendong domba-domba yang kecil.” Menggendong bukan sekadar memimpin dari jauh, tetapi mengangkat, memeluk, dan membawa pada dada-Nya. Betapa kontras dengan pola dunia modern yang menuntut produktivitas, kecepatan, hasil, dan performa. Dunia menilai seseorang dari seberapa kuat orang berdiri; Allah menilai kita dari seberapa berani kita membiarkan diri-Nya menggendong kita.
Dan, inilah yang diteguhkan Injil hari ini. Yesus bersabda: “Bapamu tidak menghendaki seorang pun hilang.” Ini bukan sekadar pernyataan teologis; ini adalah pengakuan mendalam tentang hati Allah. Allah bukan seorang manajer yang menghitung kerugian ketika satu hilang; Ia adalah Bapa yang berlari mencari sampai menemukan.
Penulis rohani Henri Nouwen mengatakan bahwa manusia modern sering hidup seolah-olah “tidak ada yang mencari”. Pada hal Allah selalu mencari. Ia mencari sampai menemukan dan membawa pulang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Datanglah, Tuhan, Pulihkanlah Kami!
Berapa banyak dari kita pada masa Adven ini hidup seperti domba yang tersesat? Tersesat dalam karier yang menekan jiwa. Tersesat dalam dinamika keluarga yang penuh pergolakkan. Tersesat dalam pergumulan batin, kemarahan, kecanduan, atau relasi yang tidak harmonis. Namun Injil mengingatkan bahwa yang hilang adalah yang paling dicari; yang paling rapuh adalah yang paling diangkat; yang paling jauh adalah yang paling dirindukan.
Saudari-saudara terkasih, Adven adalah saat untuk pulang. Bukan pulang karena kita sempurna, tetapi karena Allah rindu memeluk kita. Adven selalu mengundang kita untuk membiarkan diri ditemukan. Maka hari ini marilah kita membuka hati agar Tuhan menggendong kita kembali dan memulihkan hidup kita. Sebab Allah yang kita sembah bukan Allah yang kehilangan. Ia adalah Allah yang mencari, dan Ia tidak akan berhenti sampai Ia menemukan kita.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Di hadapan Allah, kekuatan kita bukan diukur dari seberapa lama kita sanggup berdiri, tetapi dari seberapa berani kita membiarkan Dia menggendong ketika kita rapuh.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Belas Kasih yang Menyentuh Kerapuhan
“Adven mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar tersesat, sebab Allah adalah Bapa yang mencari tanpa lelah dan menemukan tanpa pernah menyerah.”
Tuhan memberkati kita.





