Senin, 21 September 2026. Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil. Efesus 4:1-7.11-13; Matius 9:9-13.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih, ada macam-macam cara kita mengenal seseorang. Ada yang dikenal karena kebaikan, kejujuran, kerendahan hati, atau prestasinya. Tetapi ada juga orang yang justru dikenal karena kesalahan, kegagalan, masa lalu yang kelam, bahkan karena dosanya yang viral.

Dan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Kita tentu senang kalau orang mengingat yang baik dari diri kita. Tetapi ketika orang terus mengingat keburukan dan kesalahan kita, kita bisa merasa malu, terluka, bahkan merasa tidak pantas.

Berbeda amat dengan Matius. Ia terkenal sebagai seorang pemungut cukai, profesi yang membuatnya dipandang buruk dan dijauhi oleh banyak orang pada zamannya. Tetapi Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat indah.

Ketika orang lain melihat Matius seorang pemungut cukai, Yesus justru melihat seorang manusia yang memiliki masa depan. Yesus tidak memulai dengan daftar kesalahan Matius. Ia hanya berkata, “Ikutlah Aku!” Dan Matius berdiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemurahan Tuhan Lebih Besar daripada Perhitungan Kita

Betapa kuatnya satu kata itu. Berdiri. Matius tidak hanya berdiri dari tempat duduknya. Ia bangkit dari hidup lamanya, dari identitas yang selama ini melekat padanya, dan mulai berjalan bersama Yesus.

Di sinilah kabar baik bagi kita hari ini. Tuhan tidak melihat siapa kita kemarin. Tuhan melihat siapa kita hari ini dan menjadi apa kita ke depan jikalau kita memberikan diri kita disentuh oleh kasih-Nya.

Kasih Yesus bukan hanya memanggil. tetapi duduk makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Itulah yang paling mengejutkan. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mengganggu.“Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Bukankah pertanyaan yang sama kadang-kadang keluar juga dari mulut kita? Kita mudah membuat meja yang hanya cukup untuk orang yang kita sukai, kelompok kita, mereka yang sependapat dengan kita, mereka yang hidupnya kita anggap baik.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dalam Proses, Bertumbuh dalam Ketekunan

Di rumah kita bisa tinggal serumah tetapi hati berjauhan. Di lingkungan dan paroki kita bisa menerima Komuni yang sama tetapi sering saling menuduh, memberi cap, ada persaingan, prasangka, dan keengganan untuk saling menyapa. Di tengah masyarakat, perbedaan begitu mudah berubah menjadi jarak.

Karena itu Paulus mengingatkan umat di Efesus supaya hidup rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu, dan memelihara kesatuan Roh. Kesatuan bukan berarti semua orang harus sama.

Paulus justru berbicara tentang karunia dan pelayanan yang berbeda-beda, tetapi semuanya membangun satu tubuh. Yesus tidak menunggu Matius menjadi baik dahulu baru duduk semeja dengannya. Ia mendekat, dan kedekatan dengan-Nya itulah yang membuka jalan bagi hidup yang baru.

Maka pada Pesta Santo Matius hari ini, mungkin satu pertanyaan ini dapat kita ajukan kepada diri kita masing-masing. Dari meja apa kita masih harus berdiri? Mungkin dari meja kepahitan yang sudah terlalu lama kita duduki. Meja luka lama yang terus kita pelihara. Meja ambisi, kesombongan, kecemasan, kebiasaan menghakimi, atau rasa bersalah yang membuat kita merasa tidak layak dicintai Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Berhenti Berjalan Bersama Kristus

Hari ini Kristus melewati tempat kita duduk itu dan berkata kepada kita seperti kepada Matius, “Ikutlah Aku!” Ia tidak memanggil kita karena kita sudah sempurna. Ia memanggil kita karena kasih-Nya sanggup mengubah kita. Dan setelah berdiri, kita pun diutus untuk menghadirkan meja yang lebih luas, tempat orang lain menemukan belas kasih, bukan penghakiman.

Maka marilah kita datang dan makan semeja dengan Kristus dalam Ekaristi ini. Dari meja-Nya, kita menerima belas kasih dan kekuatan untuk berdiri, meninggalkan cara hidup yang lama, lalu berjalan bersama-Nya sebagai manusia baru.

Saya mengakhiri renungan ini dengan sebuah pantun:

Mentari pagi bersinar cerah,
Burung berkicau di dahan cemara.
Mari berdiri tinggalkan yang salah,
Berjalan bersama Kristus dalam kasih-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diampuni oleh Rahmat. Diubah untuk Mengasihi

Petikan BUSA-H #21/09/2026

“Kita sering melihat sesama dari masa lalu, tetapi Tuhan memandang kita dari kemungkinan baru yang dapat dilahirkan oleh kasih-Nya.”

“Jangan mengunci seseorang dalam kesalahannya, sebab orang yang hari ini kita hakimi mungkin sedang dipanggil Tuhan untuk menjadi manusia baru.”

”Pertobatan dapat dimulai dengan keberanian untuk berdiri dari meja lama dan mengikuti Kristus.”

“Di meja belas kasih Kristus, masa lalu tidak menjadi hukuman terakhir, sebab selalu ada tempat untuk pengampunan, perubahan, dan sebuah awal yang baru.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan