Minggu, 08 November 2026. Hari Minggu Biasa XXXII. Kebijaksanaan 6:12-17; 1 Tesalonika 4:13-18; Matius 25:1-13

OLEH: RD. Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih, kebijaksanaan selalu bermula dari kesadaran akan keterbatasan pengetahuan diri sendiri. Kesadaran ini menggerakkan orang bijaksana untuk terus belajar, mendengarkan nasihat, dan memikirkan akibat dari setiap keputusan hidupnya.

Betapa banyak orang yang memiliki kecerdasan tinggi, kedudukan terhormat, dan nama baik yang dibangun selama puluhan tahun, akhirnya kehilangan segalanya akibat satu keputusan yang mengabaikan suara hati nurani. Ada yang terjerat skandal, kehilangan kepercayaan, bahkan harus menjalani sisa hidup dalam penyesalan.  Sebab satu keputusan yang kehilangan kebijaksanaan dapat menghancurkan seluruh perjuangan hidup yang telah dibangun bertahun-tahun.

Kenyataan ini menyadarkan kita betapa pentingnya memohon kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan. Dalam bacaan pertama, Kitab Kebijaksanaan menggambarkan kebijaksanaan sebagai anugerah yang cemerlang, yang dengan rela memperlihatkan diri kepada orang-orang yang sungguh mencarinya.

Kebijaksanaan itu menuntun manusia untuk memahami kehendak Allah, menjaga kejernihan hati nurani, dan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Sebab kebijaksanaan sejati tumbuh dalam hati yang rendah hati untuk belajar, jernih dalam berpikir, peka mendengarkan suara Tuhan, dan matang mempertimbangkan akibat sebelum mengambil keputusan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kekayaan Hati Lahir dari Rasa Cukup untuk Setia Sampai Akhir

Kebijaksanaan itulah yang diajarkan Yesus melalui perumpamaan sepuluh gadis dalam Injil hari ini. Lima gadis bijaksana membawa pelita beserta persediaan minyak untuk menyambut mempelai. Mereka menyadari bahwa penantian membutuhkan kesiapan, ketekunan, dan kemampuan memikirkan apa yang akan terjadi. Minyak dalam perumpamaan ini mengingatkan kita akan kehidupan iman yang harus terus dipelihara melalui doa, pertobatan, kesetiaan, dan perbuatan kasih.

Kedatangan mempelai pada tengah malam menggambarkan kedatangan Tuhan yang waktunya tidak diketahui manusia. Karena itu, Yesus bersabda, “ Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

Kita pun perlu menjaga persediaan minyak rohani setiap hari. Sebuah ponsel perlu diisi daya secara teratur agar tetap menyala dan siap digunakan. Demikian pula kehidupan iman membutuhkan perhatian dan pemeliharaan yang terus-menerus. Luangkan waktu untuk berdoa, bacalah Sabda Tuhan, ikutilah Ekaristi dengan sungguh-sungguh, dan rawatlah hati nurani melalui pemeriksaan batin.

Sebab kebijaksanaan rohani adalah kesadaran untuk mempersiapkan diri sejak hari ini, agar pelita iman tetap menyala dan hati selalu siap menyambut kedatangan Tuhan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Cerdik Mengelola Hidup, Bijak Menyiapkan Kekekalan

Kesiapan menyambut Tuhan itu memperoleh pengharapan yang menghibur dalam bacaan kedua. Rasul Paulus menguatkan jemaat Tesalonika yang sedang berduka karena kehilangan orang-orang terkasih. Ia menegaskan bahwa melalui wafat dan kebangkitan Yesus, orang-orang yang meninggal dalam Kristus memiliki pengharapan akan kebangkitan.

Karena itu, Paulus berkata, “Hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.” Sabda ini mengajak kita memandang kehidupan dengan iman dan pengharapan. Saat mendengar kabar seseorang meninggal secara mendadak, hati kita sering terguncang dan menyadari betapa rapuhnya kehidupan manusia.

Kesadaran itu mengundang kita untuk semakin bijaksana dalam menjalani hidup. Kebijaksanaan itu tampak dalam cara kita merawat kehidupan yang Tuhan anugerahkan, melalui pola makan yang sehat dan teratur, waktu istirahat yang cukup, olahraga, serta kemampuan mengatur aktivitas sehari-hari dengan disiplin.

Kita juga perlu berani meninggalkan kebiasaan yang merusak kesehatan dan masa depan, seperti sering begadang tanpa keperluan, mengonsumsi minuman keras secara berlebihan, merokok, dan menyalahgunakan narkoba. Gunakanlah waktu yang Tuhan berikan untuk melakukan hal-hal yang berguna, menolong orang yang membutuhkan, dan menumbuhkan kehidupan iman.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tak Seorang Pun Hilang dari Kerinduan Hati Allah

Sebab orang bijaksana menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan kesempatan berharga untuk mempersiapkan perjumpaan abadi dengan Tuhan.

Saudari-saudara terkasih, hari ini Yesus mengajak kita melihat kembali keadaan pelita kehidupan masing-masing. Apakah minyak doa kita masih tersedia? Apakah nyala iman kita masih terpelihara? Apakah hati kita sudah siap menyambut Tuhan?

Lima gadis bijaksana mengajarkan bahwa kesiapan rohani merupakan tanggung jawab pribadi yang harus dibangun sepanjang hidup. Kebijaksanaan itu tumbuh melalui setiap keputusan yang diambil dengan hati nurani yang jernih, kejujuran dalam menggunakan uang dan harta, kepedulian kepada orang yang kesulitan, keberanian meninggalkan kebiasaan yang merusak kehidupan, serta kesetiaan menjalankan kehendak Allah.

Setiap perbuatan baik adalah setetes minyak yang menjaga pelita iman kita tetap menyala. Semoga Tuhan menganugerahkan kebijaksanaan agar kita mampu menghargai setiap kesempatan, menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab, dan menghadapi masa depan dengan iman serta pengharapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhenti Membenarkan Diri, Mulailah Membenahi Hati

Ingatlah, suatu hari langkah kita di dunia akan berakhir dan Tuhan akan memanggil kita pulang. Semoga pada saat itu pelita iman kita tetap menyala, hati kita dipenuhi kasih, dan seluruh perjalanan hidup kita menjadi persembahan yang indah di hadapan-Nya.

Berbahagialah orang yang mempersiapkan perjumpaannya dengan Tuhan sejak hari ini, sebab ia akan menyambut panggilan terakhir dengan hati yang damai dan sukacita untuk memasuki perjamuan abadi bersama-Nya.

Petikan BUSA-H #08/11/2026

“Satu keputusan yang mengabaikan suara hati dapat meruntuhkan kehormatan yang dibangun sepanjang hidup.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hidup Bagi Kristus, Bertumbuh dalam Kerendahan Hati

“Setiap perbuatan baik adalah setetes minyak yang menjaga pelita iman kita tetap menyala hingga tiba saatnya kita berjumpa dengan Tuhan.”

“Orang bijaksana mensyukuri setiap detik kehidupan, merawat tubuh sebagai anugerah Tuhan, dan mengisi waktunya dengan kasih serta kebaikan.”

“Kebijaksanaan menjaga pelita iman tetap menyala hingga kita menyambut Tuhan dengan sukacita di rumah Bapa.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan