Senin, 1 September 2025. Hari Biasa Pekan XXII. 1 Tesalonika 4:13-17; Lukas 4:16-30.

DI tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering menyaksikan kesedihan, kehilangan, dan ketidakpastian. Banyak orang yang merasa hidupnya hampa, terasing, atau diabaikan oleh sesama di sekitarnya.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Hidup yang dilalui dalam kepercayaan pada Kristus memberi harapan, bahkan di tengah gelapnya dunia dan ketidakpastian hari ini.” Sabda Allah hari ini menuntun kita untuk menemukan penghiburan dalam janji Tuhan, dan keberanian untuk menjadi utusan-Nya, meski sering tidak dihargai di tempat asal kita sendiri.

Saudari dan saudara terkasih, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa janji hidup dalam Kristus melampaui kematian, menyalakan semangat dan menumbuhkan harapan bagi setiap hati yang percaya, bahkan di tengah kehilangan dan kesedihan. Paulus menulis kepada umat di Tesalonika bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-Nya, dan iman mereka membangkitkan semangat serta memberi harapan dan makna hidup bagi yang masih berjalan di dunia ini (1 Tes 4:13-17).

Rasul Paulus hendak meneguhkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang dijanjikan Allah, dan bahwa pengharapan Kristiani harus menguatkan langkah kita sehari-hari.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Merendah di Tengah Ambisi: Pelita Bagi Negeri

Ketika kita kehilangan orang terkasih, atau menghadapi kegagalan dan kesedihan, iman menjadi jangkar yang meneguhkan hati, menyalakan semangat, dan menumbuhkan harapan yang tidak tergoyahkan. Dan dari pengharapan yang dibangkitkan oleh janji hidup dalam Kristus, kita diyakinkan bahwa panggilan untuk menjadi utusan-Nya membawa kita melangkah dengan keberanian, meski sering menghadapi penolakan dan tantangan di tengah dunia yang gelap ini.

Dalam Injil, Yesus membaca di sinagoga, mengumumkan bahwa Dia diutus membawa kabar baik kepada orang miskin dan terpinggirkan, tetapi kaum-Nya sendiri menolak-Nya (Lukas 4:16-30). Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi pembawa terang, utusan kasih, dan penyampai kabar baik tidak selalu mudah, seringkali kita menemui penolakan, skeptisisme, atau bahkan permusuhan dari orang-orang di sekitar kita.

Namun, keberanian untuk tetap setia pada panggilan Allah menuntun kita menaburkan harapan, membantu yang lemah, dan memperjuangkan keadilan dan kasih dalam dunia yang gelap dan penuh tantangan.

Saudari dan saudara terkasih, renungkanlah hari ini: setiap kehilangan dapat menjadi penguat iman; setiap penolakan dapat menjadi panggilan untuk bersandar kepada Allah; dan setiap langkah yang dilakukan dengan keberanian dan ketulusan menjadi saksi hidup bagi kasih Kristus.

Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Memimpin dengan Kebijaksanaan dan Kemurahan Hati

Mari kita hidup dengan hati yang terbuka, menaruh kepercayaan sepenuhnya pada janji Allah, dan menjadi utusan-Nya yang setia untuk memberi pengharapan bagi yang lelah, damai bagi yang gundah, dan terang bagi dunia yang sering diselimuti kegelapan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Ketika dunia menutup pintunya, iman menyalakan jendela-jendela harapan; ketika manusia menolak, kasih Kristus mengundang kita untuk tetap bersinar.”

“Setiap langkah yang diambil dengan keberanian dan ketulusan adalah saksi hidup bahwa janji Tuhan tidak pernah meninggalkan hati yang percaya, bahkan di tengah gelap dan penolakan.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eugenius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan