BUSA-H ( Butiran Sabda Allah–Harian) Engkaulah Anak yang Kukasihi: Nama yang Diberi, Hidup yang Diutus
Minggu, 11 Januari 2026. Pesta Pembaptisan Tuhan. Kitab Yesaya 40:1-5.9-11; Titus 2:11-14; 3:4-7; Lukas 3:15-16. 21-22.
SAUDARI dan saudara terkasih. Banyak orang yang telah dibaptis menjalani hidup dengan identitas iman yang perlahan terlupakan. Nama baptis yang diambil dari seorang santo atau santa melekat pada diri dan tercantum dengan indah dalam dokumen serta panggilan resmi, namun arah hidup sering belum sungguh mencerminkan makna terdalam dari pembaptisan dan teladan nama yang dipilih.
Pemilihan nama baptis sesungguhnya bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan iman dan harapan akan sebuah hidup yang dituntun oleh teladan kekudusan. Nama baptis adalah tanda identitas rohani, doa Gereja, dan panggilan hidup untuk meneladan iman serta cara hidup santo atau santa yang menyertainya.
Namun dalam kehidupan nyata, rahmat pembaptisan kadang hanya tinggal sebagai sebutan yang indah di atas kertas, disebut ketika upacara resmi atau ditulis dalam administrasi Gereja dan sosial, tetapi kurang dihidupi dalam sikap, tindakan, dan relasi sehari-hari; misalnya seseorang menyandang nama seorang santo yang dikenal karena kasih dan pengorbanan, tetapi hidupnya justru dikuasai oleh ego, kemarahan, dan ketidakpedulian.
Sabda Tuhan pada Pesta Pembaptisan Tuhan ini memanggil kita untuk kembali bertanya dengan jujur siapa kita sebenarnya dan kepada siapa nama yang kita sandang itu diarahkan dalam seluruh perjalanan hidup kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian): Sukacita Orang yang Tidak Merebut, Tetapi Menerima
Kesadaran akan identitas yang kita terima dalam pembaptisan itulah yang diteguhkan oleh Sabda Tuhan melalui suara para nabi. Nabi Yesaya menyampaikan seruan yang menguatkan hati umat. ”Hiburlah umat-Ku; perhambaan telah berakhir, kesalahan telah diampuni, dan kemuliaan Tuhan akan dinyatakan.”
Allah tidak datang sebagai hakim yang menghitung kegagalan, melainkan sebagai gembala yang menghimpun, memeluk, dan menuntun dengan penuh perhatian. Inilah wajah Allah yang pertama kali kita terima dalam pembaptisan. Sejak awal hidup beriman, kita tidak disambut dengan tuntutan, melainkan dengan penghiburan.
Seperti seorang gembala memangku anak domba, demikian pula Allah memeluk kita dengan kesetiaan yang tidak goyah. Pembaptisan menjadi tanda bahwa hidup kita berada dalam tangan yang setia, bukan di bawah kuasa ketakutan.
Rasul Paulus dalam surat kepada Titus menegaskan bahwa kasih karunia Allah mendidik kita untuk hidup secara baru. Pembaptisan bukan sekadar upacara rohani, melainkan permandian kelahiran kembali. Karena itulah dalam pembaptisan digunakan air. Air membersihkan, menyegarkan, dan memberi kehidupan. Melalui pembaptisan, kita dimasukkan ke dalam hidup Kristus dan mengambil bagian dalam identitas-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) “Aku Mau”: Sabda yang Menyembuhkan Hidup
Itulah sebabnya kita disebut Kristen, yakni orang-orang yang hidupnya dilekatkan pada Kristus. Air yang diberkati dan dicurahkan ke atas kepala bukan sekadar simbol, melainkan tanda bahwa Roh Kudus turun dan bekerja dalam diri orang yang dibaptis.
Hidup yang diperbarui oleh Roh Kudus bukanlah hasil usaha kita, melainkan anugerah murni dari Allah. Paulus menegaskan bahwa keselamatan terjadi bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya melalui perjumpaan dengan Pribadi yang mengubah arah hidup manusia.
Karena itu hidup yang baik, benar, bijaksana, dan adil bukanlah beban moral, melainkan buah yang tumbuh dari rahmat pembaptisan yang bekerja diam-diam namun nyata dalam diri kita. Orang yang sadar akan rahmat pembaptisan tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan membiarkan kasih Allah mengalir melalui kata, sikap, dan perbuatan nyata dalam keseharian.
Maka, jika kita telah dibaptis dengan air, kita pun dipanggil untuk belajar menjadi seperti air. Air tidak memaksa, tetapi menembus. Air tidak berteriak, tetapi melembutkan. Dalam menghadapi orang-orang dan situasi yang sulit, kita dipanggil hadir secara menenangkan, bukan mengeraskan suasana. Ketika rahmat pembaptisan dihidupi, kehadiran kita menjadi perjumpaan yang menyegarkan, memulihkan, dan menghadirkan damai Allah di tengah dunia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kasih yang Berani, Iman yang Menang atas Dunia
Rahmat yang memperbarui hidup dan mengalir dalam keseharian itu menemukan sumber dan puncaknya ketika kita memandang Yesus sendiri, yang dalam pembaptisan-Nya menyingkapkan makna terdalam dari identitas dan perutusan setiap orang yang dibaptis.
Injil Lukas memperlihatkan puncak pewahyuan pada peristiwa pembaptisan Yesus. Langit terbuka, Roh Kudus turun, dan suara Bapa menyatakan kasih dan perkenanan. Yesus berdiri di antara orang banyak, mengambil tempat bersama mereka, dan berdoa. Di sanalah identitas-Nya ditegaskan. ”Engkaulah Anak yang Kukasihi.”
Inilah pernyataan Allah yang meneguhkan identitas Yesus sebagai Anak yang diterima sepenuhnya oleh Bapa, bukan karena apa yang Ia lakukan, melainkan karena siapa Ia adanya, sehingga kasih mendahului tugas dan penerimaan mendahului perutusan. Karena itulah pembaptisan bukan hanya pembersihan, melainkan juga pengutusan.
Yohanes Pembaptis berkata bahwa Ia akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api. Api ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memurnikan dan menyalakan semangat. Setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk hidup sebagai anak yang dikasihi dan diutus membawa terang di mana pun berada.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Akhir Menuju Awal di Dalam Firman
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa pembaptisan menjadikan kita murid misioner, bukan penonton iman. Rahmat itu menuntut gerak, keberanian, dan kesaksian.
Untuk itu, saudari dan saudara terkasih, Pesta Pembaptisan Tuhan memberi pesan yang kuat bagi kehidupan kita sehari-hari, yakni panggilan untuk sungguh-sungguh menghidupi rahmat pembaptisan dalam pilihan-pilihan konkret. Kita dipanggil untuk memilih jujur ketika ada peluang untuk berbohong, memilih mengampuni saat ego ingin membalas dendam, memilih setia ketika godaan untuk menyerah dan ingkar janji datang, serta memilih kasih di tengah sikap acuh dan tidak peduli.
Semua pilihan itu bukan lahir dari kekuatan diri, melainkan dari Roh Kudus yang bekerja diam-diam dalam keheningan hati. Melalui pembaptisan, hidup yang tampak biasa diubah menjadi ruang perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang setia hadir dan bekerja di tengah pergumulan hidup kita.
Inilah iman pembaptisan. Bukan sekadar teori di kepala atau hafalan doa di bibir, melainkan identitas yang dihidupi setiap hari, bahkan ketika langkah hidup terasa berat dan tidak lancar. Dan kita bisa menjalaninya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kasih yang Menembus Ketakutan
Sebab kita adalah milik Allah. Kita dikasihi, diperbarui, dan diutus. Maka, jangan biarkan rahmat pembaptisan meredup dalam rutinitas hidup. Hiduplah sebagai anak yang dikasihi, mengalirlah seperti air yang memberi kesejukan, dan nyalakanlah api kasih Allah melalui hidup yang sederhana, setia, dan penuh harapan.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Pembaptisan bukan hanya memberi kita sebuah nama, melainkan menyingkapkan siapa kita di hadapan Allah dan ke mana hidup kita harus diarahkan.”
”Ketika rahmat pembaptisan dihidupi, hidup yang sederhana pun menjadi tanda kehadiran Allah yang mengalir, menghangatkan, dan menerangi dunia.”
Tuhan memberkati kita.





