BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Ramai Ibadahnya, Tapi Bernas Pertobatannya
Selasa, 10 Februari 2026. Peringatan Wajib St. Skolastika, Perawan. 1 Raja-Raja 8:22-23,27-30; Markus 7:1-13
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARA dan saudari terkasih, doa yang paling indah bukanlah yang paling panjang, dan ibadah yang paling benar bukanlah yang paling ramai, melainkan yang lahir dari hati yang sungguh rindu akan Allah dan mau diubah oleh-Nya.
Di zaman yang sibuk dengan tampilan luar dan pencitraan rohani, kita mudah rajin berdoa dengan bibir, tetapi lalai berdoa dengan hati, rajin beribadah dengan tubuh, tetapi enggan bertobat dalam hidup.
Sabda Tuhan hari ini menggugah kita untuk kembali pada iman yang jujur dan relasi yang hidup dengan Allah yang mendengar seruan hati yang tulus.
Dalam bacaan pertama, Salomo berdiri di hadapan Allah dan berseru agar Tuhan berpaling kepada doa dan permohonan umat-Nya. Ia sadar bahwa Allah tidak dapat dibatasi oleh gedung yang megah, sebab langit pun tidak sanggup memuat Dia, namun Allah berkenan mendengarkan doa yang dipanjatkan dengan hati yang merendah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Bait Suci ke Jalanan, Allah yang Menyembuhkan
Sabda ini menegaskan bahwa Allah yang Mahatinggi sekaligus Allah yang dekat, yang memilih tinggal bukan pertama-tama di bangunan yang indah, melainkan di hati manusia yang terbuka. Karena itu, doa yang sederhana, jujur, dan penuh kepercayaan sering lebih berkenan di hadapan Tuhan daripada doa yang panjang tetapi kosong dari pertobatan.
Apa artinya doa yang kosong? Injil hari ini menjawab dengan menelanjangi bahaya iman yang berhenti di permukaan. Yesus menegur keras sikap munafik ketika bibir memuliakan Allah, tetapi hati jauh dari-Nya. Ibadah menjadi sia-sia ketika yang diajarkan hanya aturan manusia tanpa pertobatan hidup.
Allah rindu disembah dalam kebenaran hati, bukan sekadar dalam kerapian ritual. Percuma beribadah jika hidup tidak disentuh oleh kasih dan kebenaran Allah. Percuma doa dilantunkan jika hati tetap keras, enggan mengampuni, sombong, dan menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Itulah iman yang tinggal di bibir, tetapi tidak turun ke hidup. Iman sejati harus bernapas dalam kejujuran, bertumbuh dalam kesederhanaan, dan berbuah dalam komunio.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Memberi Rasa dan Cinta
Pada peringatan Santa Skolastika hari ini, kita diingatkan bahwa kekudusan tidak dibangun dari kepatuhan lahiriah semata, melainkan dari hati yang tekun tinggal bersama Allah. Skolastika hidup dalam keheningan doa, kesetiaan, dan relasi kasih dengan Tuhan, sehingga seluruh hidupnya menjadi ibadah yang hidup.
Ia mengajarkan bahwa doa bukan pelarian dari dunia, melainkan kekuatan untuk mengasihi dunia dengan hati yang telah disentuh Allah. Dari hati yang dekat dengan Tuhan lahir keberanian untuk hidup benar, rendah hati, dan penuh bela rasa.
Saudara dan saudari terkasih, hari ini Tuhan mengundang kita untuk memurnikan kembali ibadah kita. Datanglah kepada-Nya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan hati yang mau diubah. Rawatlah doa bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai perjumpaan. Hiduplah iman bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai jalan pertobatan setiap hari.
Ketika hati kita dekat dengan Tuhan, ibadah kita menjadi hidup, relasi kita dipulihkan, dan hidup kita menjadi kesaksian bahwa Allah sungguh mendengar doa hamba-Nya dan mengubah dunia lewat hati yang tulus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)Hikmat dan Keheningan yang Berbuah Belas Kasih
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Allah tidak pernah bosan mendengar doa kita, tetapi doa yang dapat mengubah hidup.”
”Lebih baik beribadah dengan doa dan kotbah yang tenang, daripada berdoa dan berkotbah panjang yang tidak mengubah apa-apa.”
Tuhan memberkati kita.





