BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ditemukan untuk Hidup Bagi Kristus
Kamis, 06 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXI. Roma 14:7-12; Lukas 15:1-10
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Kita hidup di tengah zaman ketika banyak orang merasa harus selalu membuktikan diri lewat pencapaian, kekuasaan, atau pengakuan dari sesama. Banyak yang sibuk mengatur hidup orang lain, menilai dari tampilan luar, seolah tahu siapa yang layak dan siapa yang tidak.
Namun di balik semua itu, banyak hati yang sebenarnya kosong, tersesat, kehilangan arah dan makna hidup. Dalam hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan yang menggugah: untuk siapa aku hidup?
Rasul Paulus hari ini memberikan jawaban yang menembus inti eksistensi manusia: “Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada yang mati untuk dirinya sendiri. Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.”
Kalimat ini bukan sekadar teologi indah, melainkan kebenaran yang menata kembali seluruh hidup kita. Paulus mengingatkan bahwa hidup bukan milik pribadi, tetapi persembahan bagi Allah. Hidup menjadi bermakna bukan karena panjangnya usia atau besarnya prestasi, tetapi karena dijalani dalam kasih dan pengabdian, pelayanan dan persembahan hidup.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Kasih yang Tidak Pernah Lunas
Dan, karena hidup ini milik Tuhan, maka kita tidak berhak menghakimi sesama. Kita semua, kata Paulus, “akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah.” Artinya, bukan penilaian manusia yang menentukan, tetapi kasih Allah yang menuntun.
Yesus dalam Injil hari ini menunjukkan seperti apa belas kasih dan pengampunan itu. Ia menceritakan dua perumpamaan yang mengguncang hati: tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Gambaran sederhana, tetapi penuh makna. Seorang gembala meninggalkan 99 domba demi satu yang tersesat. Seorang perempuan mengobrak-abrik rumah hanya untuk menemukan satu keping perak yang hilang.
Logika manusia berkata: “Untuk apa repot demi satu?” Tapi logika kasih berkata: “Setiap satu itu berharga di mata Allah.” Inilah wajah Allah yang sejati bukan hakim yang menghitung kesalahan, melainkan Bapa yang mencari dan memeluk yang hilang.
Paus Fransiskus pernah berkata, “ Allah tidak pernah lelah mengampuni; kitalah yang sering lelah memohon ampun.” Itulah inti Injil hari ini: Allah tak berhenti mencari kita bahkan ketika kita berhenti mencari Dia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Jangan Sibuk Sampai Lupa Datang ke Pesta Tuhan
Saudara-saudari terkasih, kita semua pernah menjadi “yang hilang”: hilang arah, hilang damai, hilang kasih, hilang persaudaraan. Namun, Allah tidak menyerah. Ia mencari kita melalui banyak cara lewat orang yang menasihati kita, peristiwa yang menyentuh hati, atau bahkan melalui penderitaan dan kegagalan yang menyadarkan kita untuk kembali. Maka, jangan pernah merasa tak layak di hadapan Tuhan. Di mata-Nya, tidak ada hidup yang sia-sia, tidak ada jiwa yang tak berharga.
Filsuf Blaise Pascal pernah berkata, “Ada ruang kosong dalam hati manusia yang hanya dapat diisi oleh Allah sendiri.”
Ketika kita mencoba mengisinya dengan ego, ambisi, dan dosa, kita justru semakin tersesat. Tetapi ketika kita membiarkan kasih Allah masuk, kita “ditemukan kembali” bukan sekadar diselamatkan, tetapi dihidupkan untuk menjadi saksi kasih-Nya.
Maka marilah kita bertanya dengan jujur: Apakah aku masih hidup hanya untuk diriku sendiri, atau sudah hidup untuk Kristus? Apakah aku hanya menghitung kesalahan orang lain, atau ikut bersukacita ketika seseorang kembali ke pelukan Allah?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Berbuah di Surga
Yesus mencari kita bukan untuk menegur, tetapi untuk memeluk. Ia menemukan kita bukan untuk mengingatkan masa lalu, tetapi untuk memberi masa depan. Maka, marilah kita hidup bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk Dia yang lebih dahulu mencintai dan menemukan kita.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kita benar-benar hidup hanya ketika kita hidup bagi Dia yang telah mencari kita tanpa lelah.”
”Kasih Allah tidak berhenti di batas dosa manusia; Ia terus mencari hingga kita ditemukan di dalam hati-Nya.”
Tuhan memberkati kita.





