Jumat, 8 Agustus 2025. Peringatan Wajib St. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam. Kitab Ulangan 4:32-40; Matius 16:24-28.

Oleh: RD.Fidelis Dua

“SATU-satunya buku yang kupergunakan untuk mempersiapkan khotbah adalah buku cinta, yaitu Injil Yesus Kristus,” demikian kata St. Dominikus.

Paus Fransiskus menegaskan semangat yang sama ketika berkata, “Injil itu hidup dan penuh kuasa. Ia mengubah hati jika kita membiarkannya berbicara.”

Kedua tokoh ini seakan bersepakat bahwa Injil bukan sekadar teks untuk dibaca, melainkan kekuatan yang membentuk hati, mengubah hidup, dan mendorong kita untuk membagikannya.

Inilah panggilan setiap orang beriman: menjadikan Injil sebagai sumber inspirasi yang menghidupkan, penuntun langkah dalam kesetiaan kepada Allah, dan kekuatan untuk mengikuti Kristus dengan penyerahan total. Semangat untuk setia mendengarkan dan menghidupi firman inilah yang kita lihat dalam pengalaman iman umat Allah pada bacaan pertama, ketika mereka diajak merenungkan kembali karya besar Tuhan dalam perjalanan hidup mereka.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman dalam Tekanan: Antara Batu dan Salib

Musa mengajak Israel merenungkan sejarah penyelamatan dengan menegaskan bahwa tidak ada bangsa lain yang pernah mengalami Allah berbicara dari tengah api atau dibebaskan dari perbudakan dengan tangan perkasa seperti mereka, dengan bersabda: “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah, di langit dan di bumi, tidak ada yang lain.” Ajakan dan penegasan Musa mau menunjukkan bahwa iman sejati bertumbuh dari ingatan akan karya Tuhan dan diwujudkan dalam kesetiaan hidup.

Sebab itu, dalam kehidupan umat beriman saat ini, kita pun dipanggil untuk tidak melupakan jejak kasih Allah dalam perjalanan hidup kita dari berkat kecil hingga mukjizat besar. Melupakan kebaikan Tuhan dapat membuat kita mudah berpaling kepada “allah-allah” lain yang menjanjikan kepuasan sesaat, seperti materi, status, dan kenyamanan semu.

Karena itu, Sabda Tuhan menegaskan bahwa hanya kesetiaan kepada-Nya yang membawa kita pada kehidupan yang sejati dan damai yang tidak tergoyahkan oleh keadaan apapun. Semangat inilah yang menemukan puncaknya dalam pewartaan Yesus, yang dalam bacaan Injil mengajak para murid untuk mengikuti Dia dengan penyerahan total, meski jalan yang ditempuh adalah jalan salib.

Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” Yesus pun menambahkan dengan menunjukkan tantangan: “Apa gunanya bagi seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Ini tidak sekadar berbicara mengenai penderitaan, melainkan menegaskan arah hidup. Mengikuti Kristus berarti memilih jalan-Nya, bukan jalan yang paling mudah, serta menempatkan keselamatan jiwa di atas segala pencapaian duniawi.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dipanggil untuk Diubah Rupa Bersama Kristus

Dengan demikian bagi kita, salib bisa berarti kesetiaan pada kebenaran saat dunia menawarkan kompromi, kejujuran saat godaan curang begitu dekat, atau kesabaran mengasihi meski tidak dibalas. Injil mengajak kita berani mengambil langkah-langkah iman yang tidak populer, karena di sanalah hidup kita menemukan makna sejati.

Saudari dan saudara terkasih, dari teladan hamba Allah yang memimpin umat di padang gurun, tampak panggilan untuk selalu mengingat karya-Nya dan tetap setia. Dari Sang Guru yang menuntun murid-murid-Nya, tersingkap ajakan untuk menyangkal diri dan mengikuti jalan yang telah Ia tunjukkan. Dari pewarta yang seluruh hidupnya diabdikan bagi Sabda, terlihat bahwa sumber kekuatan untuk setia dan berani hanya dapat ditemukan ketika Injil dihidupi sebagai “buku cinta” yang mengarahkan seluruh langkah.

Maka, marilah menjadikan Sabda Tuhan bukan sekadar bacaan mingguan, melainkan panduan harian yang membentuk hati, menuntun setiap pilihan, dan mengarahkan seluruh tindakan. Karena itu, mulailah dari hal-hal sederhana: merenungkan Injil sebelum memulai aktivitas, membiarkan sabdanya mempengaruhi cara berbicara di rumah, cara bekerja dengan jujur, dan cara bersikap kepada sesama. Jadikan setiap langkah, pilihan, dan keputusan sebagai kesempatan untuk mewartakan kasih Allah, sehingga hidup kita sendiri menjadi “khotbah” yang dapat dibaca dan dirasakan oleh semua orang.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Musa dan Petrus: Dua Wajah Iman yang Sejati

Butiran Sabda Allah hari ini:

“ Tuhanlah Allah, di langit dan di bumi, tidak ada yang lain.” (Ul. 4:39)

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” (Mat. 16:24)

Petikan Bijak untuk kita hari ini:

”Injil bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi hingga hidup kita sendiri menjadi pewartaan yang nyata.”

”Kesetiaan pada Sabda dan keberanian memikul salib adalah jalan menuju damai yang tidak dapat digoyahkan oleh keadaan apa pun.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan