Rabu, 06 Agustus 2025. Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Nubuat Daniel 7:9-10.13-14 atau Surat Kedua Rasul Petrus 1:16-19; Lukas 9:28b-36.

Oleh: RD.Fidelis Dua

MENDIANG Paus Fransiskus pernah berkata, “Iman bukanlah cahaya yang mengusir semua kegelapan, tetapi pelita yang membimbing langkah-langkah kita di malam hari.” Ungkapan ini menegaskan bahwa iman tidak serta-merta menyingkirkan penderitaan atau ketakutan, tetapi memberi kita panduan dan harapan dalam perjalanan menuju kemuliaan. Hari ini, melalui dua bacaan suci, kita diajak untuk naik ke “gunung” bersama Yesus dan belajar melihat kemuliaan sejati yang memancar dalam ketaatan, pengorbanan, dan harapan akan kebangkitan.

Saudari dan saudara yang terkasih, dalam bacaan pertama, Rasul Petrus menegaskan bahwa iman kita tidak didasarkan pada mitos atau dongeng rohani, melainkan pada pengalaman nyata. Ia sendiri menyaksikan kemuliaan Yesus di atas gunung, mendengar suara Bapa dari surga yang menyatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Pengulangan kata-kata ini oleh Petrus merupakan sebuah kesaksian yang memperkuat kepercayaan umat, khususnya dalam masa-masa sulit dan penganiayaan. Iman kita membutuhkan pijakan yang kokoh dan kesaksian seperti ini sebagai satu fondasi kuat yang menyinari jalan kita, seperti “pelita yang bercahaya dalam kegelapan.” Dalam dunia yang sering kali mempertanyakan kebenaran iman, kita dipanggil untuk menjadi saksi yang meyakinkan bukan karena argumen, tetapi karena pengalaman pribadi akan terang Kristus yang hidup.

Selanjutnya dalam Injil, kita dibawa naik ke gunung bersama Yesus, Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Di sana, saat Yesus sedang berdoa, wajah-Nya berubah, pakaian-Nya menjadi putih berkilauan, dan Musa serta Elia menampakkan diri dalam kemuliaan. Transfigurasi ini bukan sekadar mukjizat visual, tetapi pewahyuan tentang siapa Yesus sebenarnya: Anak Allah yang akan menapaki jalan salib menuju kemuliaan.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dipanggil untuk Diubah Rupa Bersama Kristus

Yang menarik adalah bahwa momen kemuliaan ini terjadi di tengah doa dan pembicaraan tentang pengorbanan Yesus di Yerusalem. Maka, kemuliaan tidak bisa dipisahkan dari salib. Kita pun belajar bahwa dalam doa yang sungguh, kita bisa melihat terang Allah dan diubah oleh-Nya. Petrus ingin tinggal di sana, membangun kemah namun suara dari surga mengingatkan: “Dengarkanlah Dia.” Mendengar dan taat adalah kunci untuk ikut mengalami perubahan.

Saudara dan saudari terkasih.  Dari kedua bacaan ini kita diingatkan bahwa kemuliaan bukanlah untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk disaksikan, dijalani, dan dibagikan. Kesaksian Petrus dan pengalaman para murid menunjukkan bahwa mendengarkan suara Tuhan dan percaya kepada-Nya membawa kita ke dalam perubahan batin yang mendalam.

Ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan, dan percaya, kita pun perlahan diubah rupa seperti Yesus bukan secara fisik, tetapi dalam hati, dalam cara hidup, dan dalam kesaksian. Maka, mari kita naik ke “gunung” doa setiap hari, membuka telinga bagi sabda-Nya, dan membiarkan terang Kristus menyinari serta mengubah kita menjadi cerminan kemuliaan-Nya di dunia ini.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Musa dan Petrus: Dua Wajah Iman yang Sejati

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam penolakan salib, tetapi dalam ketaatan dan kesetiaan di tengah penderitaan.”
“Ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan sabda Tuhan dan mempercayainya, hidup kita pun akan diubah rupa menjadi terang di tengah dunia yang gelap.”

Pantun Butiran Sabda Allah hari ini:

Naik ke gunung saat fajar merekah,
Yesus berdoa, wajah-Nya bersinar terang.
Kemuliaan tampak di tengah langkah lelah,
Menyala iman dalam hati yang bimbang.

Suara Bapa terdengar begitu nyata,
“Inilah Anak-Ku, dengarkanlah Dia.”
Di tengah gelap, terang-Nya meraja,
Membimbing jiwa menuju surga.

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan