Selasa, 05 Agustus 2025. Hari Biasa Pekan XVIII. Kitab Bilangan 12:1-13; Matius 14:22-36.

Oleh: RD.Fidelis Dua.

MENDIANG Paus Benediktus XVI pernah berujar, “Iman adalah kepercayaan mendalam kepada Tuhan yang membuka manusia kepada kebenaran yang lebih besar daripada dirinya sendiri.”

Ungkapan ini mengajak kita merenungkan bagaimana iman tidak lahir dari kesombongan atau penghakiman, tetapi dari hati yang rela mendengarkan dan melangkah dalam ketundukan serta keberanian.

Dua bacaan hari ini menunjukkan dua sisi dari iman sejati, yakni kerendahan hati untuk tidak melawan rencana Allah dan keberanian untuk berjalan menuju kepada Tuhan di tengah badai.

Saudara dan saudari yang terkasih. Kecemburuan yang lahir dari hati yang tidak murni dan sombong seringkali membuat kita buta terhadap cara Allah berkarya melalui sesama. Itulah yang terjadi dalam kisah Miriam dan Harun terhadap Musa dalam bacaan pertama hari ini di mana iri hati dapat menutup mata terhadap karya Allah.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Letih Bersama Tuhan

Dalam bacaan pertama, Miriam dan Harun mempersoalkan kepemimpinan Musa karena alasan pribadi, pernikahannya dengan seorang wanita Kush. Namun sesungguhnya, akar dari kritik mereka adalah kecemburuan terhadap kedekatan Musa dengan Allah. Tuhan menjawab dengan menegaskan bahwa Musa bukan nabi biasa; ia berbicara langsung dengan-Nya, tanpa perantara.

Ada pesan yang sangat kuat tersirat di sini bagi kita supaya jangan menghakimi cara Allah bekerja dalam diri sesama hanya karena kita tidak mengerti atau tidak dilibatkan. Iri hati bisa menutup mata kita terhadap karya Tuhan dalam hidup orang lain. Musa sendiri menunjukkan teladan luar biasa: alih-alih membalas atau menyombongkan diri, ia justru berdoa memohon kesembuhan bagi Miriam. Di tengah kritik, Musa tetap rendah hati dan penuh belas kasih. Itulah kekuatan sejati dari orang yang hidup dekat dengan Allah.

Saudari dan saudara yang terkasih. Dari kisah iri hati yang membutakan mata rohani dalam bacaan pertama, kita kini dibawa kepada Injil yang menunjukkan bagaimana mata iman meskipun sempat goyah dapat membawa kita melangkah di tengah badai saat tetap terarah kepada Yesus. Iman yang berani dapat melangkah di tengah Badai.

Dalam bacaan Injil, Yesus berjalan di atas air menuju murid-murid-Nya yang sedang dilanda badai di tengah danau. Ketika Petrus melihat-Nya, ia berkata, “ Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.” Yesus menyuruhnya datang, dan Petrus pun melangkah namun saat ia mulai takut, ia tenggelam, dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Kristus Bertanya: Di Mana Hartamu?

Ini merupakan gambaran indah tentang iman yang tumbuh saat kita berani keluar dari perahu kenyamanan kita, melangkah menuju Kristus meski dikelilingi ketakutan dan badai kehidupan. Namun, iman bukan hanya soal keberanian awal. Iman butuh ketekunan, fokus, dan kepercayaan terus-menerus. Ketika kita mulai ragu, kita mulai tenggelam. Tapi kabar baiknya adalah Tuhan selalu siap mengulurkan tangan.

Saudara dan saudari yang terkasih. Dari Sabda Tuhan ini, kita belajar bahwa iman yang sejati bukanlah soal status, penampilan, atau perbandingan dengan orang lain, melainkan soal kerendahan hati dan keberanian untuk melangkah bersama Allah. Musa menunjukkan bahwa kedekatan dengan Tuhan membuat seseorang semakin rendah hati dan penuh kasih. Petrus menunjukkan bahwa keinginan untuk mendekat kepada Tuhan memerlukan iman yang terus diperbarui.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya mengizinkan iri hati atau rasa takut menahan langkah iman saya? Apakah saya bersedia tetap percaya saat badai datang? Tuhan memanggil kita untuk menjadi seperti Musa, lembut dan taat dan seperti Petrus, berani melangkah dan jujur mengakui kelemahan. Dalam kelemahan, kita kuat oleh Tuhan; dalam iman yang sederhana, Tuhan hadir.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Berani Pulang, Berani Tegar: Jejak Yobel dan Yohanes

Petikan Butiran Sabda Allah bagi kita hari ini:

”Iri hati membutakan mata terhadap karya Allah dalam diri sesama; namun iman membuka hati untuk melihat kasih Tuhan bahkan dalam badai.”

“Tuhan tidak mencari mereka yang paling sempurna, melainkan mereka yang cukup rendah hati untuk berdoa seperti Musa dan cukup berani untuk melangkah seperti Petrus.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan