BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Bait Suci ke Jalanan, Allah yang Menyembuhkan
Senin, 9 Februari 2026. Hari Biasa Pekan V. 1 Raja-Raja 8:1-7.9-13; Markus 6:53-56.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARA dan saudari terkasih, kita sering ke mana-mana ketika sakit tak kunjung sembuh, dan mencari damai serta sukacita ke banyak tempat, namun hati tetap gelisah. Kita sibuk mencari ke luar, padahal Tuhan telah menunggu di dekat kita, bahkan datang tepat waktu ke dalam hidup kita. Kita lelah mencari, sementara Dia setia menanti.Bukan Tuhan yang jauh dari kita, kitalah yang terlalu jauh melangkah dari-Nya.
Karena itu, yang perlu kita lakukan bukan menambah jarak dengan Tuhan, melainkan berani berhenti, mendekat, dan menjamah Yesus dengan iman yang sederhana, namun teguh, sebab di sanalah kesembuhan dan damai itu mengalir.
Pengalaman menjamah Yesus dengan iman menuntun kita untuk melihat bahwa sejak awal Allah selalu rindu hadir dan tinggal di tengah umat-Nya. Dalam bacaan pertama, kita mendengar bagaimana para imam membawa tabut perjanjian ke tempat mahakudus. Tabut itu bukan benda ajaib, melainkan tanda kehadiran Allah di tengah umat. Ketika tabut ditempatkan di rumah Tuhan, awan memenuhi Bait Allah sebagai tanda kemuliaan dan hadirat-Nya. Allah memilih tinggal di tengah umat-Nya. Ia tidak jauh, tidak dingin, dan tidak acuh. Ia hadir dalam perziarahan hidup umat.
Secara teologis, ini menegaskan bahwa Allah yang Mahatinggi berkenan tinggal di tengah manusia yang rapuh. Realitas ini menguatkan kita bahwa rumah Tuhan bukan sekadar bangunan, melainkan ruang perjumpaan dengan Allah yang hidup dan menyembuhkan. Karena itu, setiap kali kita masuk Gereja kita mesti percaya bahwa Alah menyembuhkan dan menghidupkan kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Memberi Rasa dan Cinta
Jika dalam bacaan pertama Allah hadir memenuhi rumah-Nya dengan kemuliaan, kini hadirat itu berjalan di tengah debu kehidupan manusia. Injil hari ini memperlihatkan wajah hadirat Allah yang bergerak. Yesus tidak tinggal diam di satu tempat. Ke mana pun Ia pergi, orang membawa yang sakit dan lemah. Mereka tidak menuntut mukjizat besar. Mereka hanya ingin menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Kesembuhan itu bukan karena jubah-Nya, melainkan karena iman yang menjamah pribadi Yesus.
Allah tidak hanya hadir di tempat suci, tetapi juga di pasar, di jalanan, di kampung-kampung, di ruang hidup manusia yang paling sederhana. Secara pastoral, ini menegaskan bahwa Tuhan mau disentuh oleh iman yang kecil, oleh doa yang sederhana, oleh hati yang datang dengan harap.
Dalam hidup sehari hari, banyak dari kita datang ke gereja dengan tubuh yang mungkin sehat, tetapi hati yang lelah. Ada yang datang dengan keluarga yang retak, usaha yang macet, doa yang terasa kering, iman yang mulai letih. Kadang kita merasa Tuhan jauh karena doa belum terjawab.
Sabda hari ini menguatkan kita. Datanglah dan jamahlah Yesus dengan iman. Datanglah apa adanya. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu kuat. Iman yang kecil tetapi jujur sudah cukup untuk membuka ruang bagi kuasa Allah bekerja. Dan ketika kita menjamah Yesus, kita pun dipanggil menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)Hikmat dan Keheningan yang Berbuah Belas Kasih
Kita menjadi hadirat Allah yang berjalan di tengah dunia ketika kita menyentuh yang lemah dengan kasih, menguatkan yang jatuh dengan pengharapan, dan hadir bagi yang terluka dengan bela rasa.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kita sering lelah mencari kesembuhan ke banyak tempat, padahal damai sejati mengalir saat kita berhenti, mendekat, dan menjamah Yesus dengan iman yang jujur.”
”Allah tidak menunggu kita sempurna untuk menyembuhkan, Ia hanya menunggu hati yang berani datang dan menyentuh-Nya.”
Tuhan memberkati kita.
-
Ping-balik: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Ramai Ibadahnya, Tapi Bernas Pertobatannya – Dewadet





