Sabtu, 13 Desember 2025.  Peringatan Wajib St. Lusia, Perawan dan Martir.  Kitab Putra Sirakh 48:1-4.9-11; Matius 17:10-13.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara terkasih, bacaan hari ini berbicara tentang Elia yang akan datang untuk memulihkan segala sesuatu, dan Injil menegaskan bahwa Elia itu telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis, tetapi tidak dikenali dan ditolak.

Di tengah terang Sabda ini, Gereja menghadirkan St. Lusia, perawan dan martir, yang bersaksi dengan hidupnya akan kebenaran yang sama melalui keyakinannya: “Mereka yang murni hatinya adalah bait Roh Kudus.”

Kitab Putra Sirakh menggambarkan Elia sebagai nabi api, yakni api yang membakar ketidakadilan, api yang memurnikan hati umat, api yang memanggil manusia kembali kepada Allah. Elia bukan sekadar tokoh masa lalu atau figur penantian masa depan; Elia adalah simbol panggilan abadi Allah untuk pertobatan, pemulihan, dan keberanian.

Tetapi Injil mengingatkan kita pada tragedi rohani: ketika Elia itu datang dalam diri Yohanes Pembaptis, manusia tidak mengenalnya, bahkan memperlakukannya menurut kehendak mereka sendiri. Kebenaran hadir, tetapi ditolak karena tidak sesuai dengan selera dan kenyamanan hati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menyelaraskan Hati dengan Jalan Tuhan

Di sinilah pesan Injil menjadi sangat aktual. Kita hidup di zaman yang juga menantikan “Elia” — menantikan pembaruan, keadilan, dan damai tetapi sering menolak suara profetis yang mengganggu kenyamanan hidup kita. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, tetapi ditolak. Yesus menawarkan keselamatan, tetapi disalibkan.

Paus Fransiskus dengan tajam berkata: “Kita sering lebih suka Tuhan yang tenang dan aman, daripada Tuhan yang mengguncang dan mengubah hidup.” Maka jangan heran, kata Yesus, jika Anak Manusia pun menderita oleh penolakan manusia.

Di titik inilah St. Lusia berdiri sebagai saksi terang. Ia hidup di dunia yang gelap oleh kekerasan dan ketamakan, tetapi memilih kemurnian hati sebagai bentuk perlawanan rohani. Kemurnian bagi Lusia bukan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk hidup sepenuhnya bagi Allah.

Ketika tubuhnya dihancurkan oleh kekerasan, imannya tetap teguh; ketika matanya dicabut menurut legenda Gereja, matanya yang sejati justru semakin terbuka pada terang Kristus. Ia membuktikan bahwa terang sejati tidak pernah bisa dipadamkan oleh kegelapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjadi Peziarah Pengharapkan di Lourdes

Saudari-saudara, masa Adven adalah masa Elia datang kembali bukan dalam gemuruh api, tetapi dalam bisikan Sabda yang memanggil kita pada kemurnian hati. Pertanyaannya sederhana tetapi radikal: apakah kita mengenali kehadiran Tuhan ketika Ia datang melalui suara yang menegur, mengajak bertobat, dan memanggil kita hidup lebih jujur? Atau kita justru menolaknya karena terlalu menuntut perubahan?

St. Lusia mengajarkan kepada kita bahwa kemurnian hati bukanlah soal kesempurnaan moral tanpa cela, melainkan kesetiaan total kepada Allah dalam situasi apa pun. Kekudusan bukan keindahan yang lembut dan nyaman, tetapi keberanian untuk tetap setia ketika kebenaran harus dibayar mahal.

Dalam masa Adven ini, kita dipanggil bukan hanya menantikan Tuhan yang datang, tetapi mempersiapkan hati agar hidup kita menjadi tanda kebenaran dan kejujuran di tengah dunia yang penuh manipulasi.

Kita harus jujur mengakui bahwa tidak sedikit dari kita hidup dalam kompromi, manipulasi, dan kepalsuan di rumah, di tempat kerja, dalam relasi, bahkan dalam hidup beriman. Kita sering memilih aman daripada benar, nyaman daripada jujur, diterima daripada setia. Di sinilah suara profetis St. Lusia menggugah kita: iman sejati selalu menuntut kejelasan sikap dan kemurnian hati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Datanglah: Ketika Kita Lelah dan Allah Tidak Letih Menopang 

Maka marilah kita belajar dari St. Lusia untuk berani menjadi terang di dunia yang gelap, berani menjadi suara kebenaran di tengah kebisingan, dan berani menjadi Elia-Elia kecil yang hidup jujur, murni, dan setia bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan konkret setiap hari. Sebab hanya hati yang murni mampu mengenali Tuhan ketika Ia datang, dan hanya hati yang berani sanggup mengikuti-Nya sampai tuntas.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Kemurnian hati yang berani bertobat dan terang kesetiaan mampu menyambut Allah yang datang.”

”Kebenaran sering ditolak karena tidak nyaman, tetapi hanya kebenaran yang memerdekakan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan