Sabtu, 8 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXI. Roma 16:3-9.16.22-27; Lukas 16:9-15.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Satu realitas yang tak terpungkiri saat ini, yaitu banyak orang sibuk membangun relasi demi kepentingan, bukan demi kasih. Persahabatan sering diukur dari manfaat, bukan dari makna. Orang mudah dekat bila ada yang bisa diberikan, tapi menjauh ketika tidak lagi menguntungkan. Di tengah realitas seperti ini, kasih sejati dan kesetiaan sering menjadi langka.
Dalam bacaan pertama hari ini, Rasul Paulus memberikan kesaksian yang menyentuh tentang keindahan persaudaraan sejati. Ia menyebut satu per satu nama orang yang telah menjadi rekan sekerjanya dalam Kristus: Priska dan Akwila, Epenetus, Maria, Andronikus, dan banyak lainnya.
Paulus tidak memuji kekayaan atau jabatan mereka, tetapi kesetiaan mereka dalam melayani Injil. Ia menunjukkan bahwa Gereja bukan dibangun oleh orang besar, melainkan oleh hati-hati yang setia dan bersahabat dalam kasih. Di sinilah tampak bahwa iman bukan sekadar hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dalam relasi kasih persaudaraan dengan sesama.
Paulus mengajarkan bahwa dalam hidup beriman, setiap relasi adalah kesempatan untuk memuliakan Allah. Ia menutup suratnya dengan sebuah doa indah: “Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, segala kemuliaan sampai selama-lamanya.” Artinya, setiap persahabatan, kerja sama, dan pelayanan harus bermuara pada kemuliaan Tuhan, bukan diri sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bijak Mengelola Anugerah Allah
Yesus dalam Injil hari ini menegaskan hal yang sama dengan kata yang tajam: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Yesus bukan menolak kekayaan, tetapi mengingatkan agar hati manusia tidak diperbudak olehnya. Harta, kedudukan, dan pengaruh hanyalah alat, bukan tujuan. Harta menjadi berkat bila dipakai untuk membangun kasih; sebaliknya menjadi racun bila membuat kita menindas sesama.
Paus Fransiskus pernah berkata, “Yang berbahaya bukanlah memiliki harta, tetapi ketika harta memiliki kita.”
Itulah inti dari kebijaksanaan Injil hari ini: menjadi pengelola yang bijak, bukan penguasa yang rakus. Menggunakan apa yang dipercayakan Tuhan baik waktu, tenaga, maupun kekayaan untuk menebar kasih dan menegakkan keadilan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ditemukan untuk Hidup Bagi Kristus
Saudari-saudara, hidup ini pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki, paling berkuasa, atau paling dikenal, tetapi siapa yang paling setia dalam hal kecil dan tetap jujur di hadapan Allah. Sebab seperti kata Yesus, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
Maka, mari kita belajar dari Paulus dan para sahabatnya: mengasihi dengan kesetiaan, melayani dengan kerendahan hati, dan menggunakan setiap anugerah bukan untuk menguasai, tetapi untuk mengasihi. Sebab hanya dalam kasih yang tulus, hidup kita menjadi pantulan kemuliaan Allah yang sejati.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kesetiaan dalam hal kecil sering luput dari mata manusia, tetapi justru di sanalah Tuhan menumbuhkan kebesaran hati.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Kasih yang Tidak Pernah Lunas
”Segala anugerah kehilangan maknanya bila tidak menjadi sarana untuk mengasihi; sebab hanya kasih yang membuat hidup bernilai kekal.”
Tuhan memberkati kita.






