Sabtu, 14 Februari 2026. Peringatan Wajib St. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup 1Raja-Raja 12:26-32; 13:33-34; Markus 8:1-10.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, dosa jarang datang sebagai badai besar. Dosa sering datang sebagai bisikan kecil yang terasa wajar, gampang dikompromi dan terasa aman, sebagai pilihan yang tampak menguntungkan. Namun justru dari yang kecil, terasa wajar dan aman itulah lahir kerusakan yang besar.

Hati yang tidak gubris bisikan Suara Tuhan dan perlahan menjauh dari Tuhan akan mudah menciptakan berhala baru, sementara hati yang terbuka pada belas kasih Tuhan akan selalu menemukan jalan kebaikan. Sabda Tuhan hari ini memperhadapkan kita pada dua wajah manusia, yang satu keras kepala membangun ilah-ilah palsu, yang lain lapar dan lelah tetapi dijumpai oleh belas kasih Allah.

Dalam bacaan pertama, Yerobeam memilih jalan yang tampak cerdik menurut perhitungan dunia. Ia membangun anak lembu emas agar umat tidak kembali ke Yerusalem.

Secara politik kelihatan masuk akal, tetapi secara iman itu adalah awal kehancuran. Ia tahu kehendak Tuhan, namun memilih mengatur Tuhan sesuai kepentingannya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Effata untuk Hidup yang Terbelenggu

Di sinilah kita belajar bahwa hati yang gampang berkompromi akan mengganggap penyimpangan sebagai kebiasaan dan terasa wajar. Selanjutnya, ketika kebiasaan kecil yang salah dibiarkan, maka orang akan jatuh pada kesalahan besar. Sebab hati mulai terbiasa menawar kehendak Tuhan, sehingga pelahan menjadi tumpul, suara Tuhan makin samar, dan relasi dengan-Nya makin renggang. Inilah jalan yang membawa kehancuran, bukan karena Tuhan berhenti setia, melainkan karena manusia menutup diri untuk mendengarkan-Nya.

Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang berlawanan dengan kekerasan hati Yerobeam. Yesus melihat orang banyak yang lapar dan letih. Ia tidak membiarkan mereka pulang dengan perut kosong. Belas kasih-Nya mendahului segala perhitungan. Dari sedikit roti, Tuhan mengenyangkan banyak orang. Mukjizat lahir karena hati Yesus tergerak oleh belas kasih.

Di sini kita mengalami bahwa Tuhan bekerja bukan pertama-tama karena kelayakan dan kecukupan kita, melainkan karena kelimpahan kasih-Nya. Kasih Tuhan sanggup membuat yang sedikit menjadi cukup dan mengubah keletihan menjadi kekuatan. Belas kasih Tuhan mengubah kondisi yang meragukan menjadi lebih pasti untuk bersyukur.

Mukjizat sering lahir dari kerendahan hati untuk meminta dan bersyukur atas belas kasih Allah yang tak pernah kering membasahi jalan-jalan hidup kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Besarnya Berkat, Tetapi Setianya Hati

Saudari dan saudara yang terkasih, krisis bela kasih dan kedegilan hati bisa membuat orang menjadi berhala. Kita belajar dari St. Sirilus dan St. Metodius yang tidak membangun berhala baru, tetapi membawa orang kepada Allah yang penuh belas kasih. Mereka tidak memilih jalan mudah demi aman, tetapi setia pada perutusan meski penuh risiko. Mereka percaya bahwa kasih Tuhan sanggup mengenyangkan dahaga iman banyak orang.

Maka, marilah kita waspada terhadap dosa kecil yang kita biarkan tumbuh dan menjadi kebiasaan. Hati-hati jangan biasakan hal yang salah, melainkan biasakan hal-hal yang benar dan luhur. Datanglah kepada Yesus dengan hati yang rindu akan belas kasih. Biarlah Yesus mengenyangkan hidup kita, agar dari hidup yang dikenyangkan rahmat, kita pun menjadi roti yang dibagikan bagi sesama.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Dosa tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan, tetapi sering menyelinap sebagai hal kecil yang terasa aman dan dibiarkan menjadi biasa namun perlahan membelenggu dan menghancurkan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemilauan Luar Bisa Menipu, Terang Hati Menentukan

”Ketika manusia membangun berhala dari rasa aman yang palsu, Tuhan tetap membangun hidup kita dengan belas kasih yang mengenyangkan dan memulihkan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan