Jumat, 13 Februari 2026. Hari Biasa Pekan V. 1 Raja-Raja 11:29-32.12:19; Markus 7:31-37

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARA dan saudara terkasih, hidup kita sering retak bukan karena goncangan yang dahsyat, melainkan karena hati yang pelan-pelan menutup diri. Hidup bersama bisa koyak ketika kesetiaan mulai luntur, dan arah hidup bisa melenceng ketika telinga dan mulut tertutup terhadap kebenaran.

Sabda Tuhan hari ini datang untuk melembutkan kembali apa yang mengeras dalam diri kita dan membuka apa yang tertutup dalam telinga dan lidah kita.

Dalam bacaan pertama, kita melihat perpecahan Israel bukan sekadar persoalan politik, melainkan buah dari hati yang tidak lagi setia kepada Tuhan. Ketika kesetiaan goyah, relasi pun rapuh. Pemberontakan terhadap keluarga Daud mencerminkan pemberontakan hati manusia yang enggan dibentuk oleh kehendak Allah.

Dalam hidup sehari-hari, perpecahan sering bermula dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk. Telinga yang enggan mendengar nasihat dan teguran, lidah yang lebih suka membela diri, dan hati yang menutup diri terhadap kebenaran.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Besarnya Berkat, Tetapi Setianya Hati

Keluarga retak karena tidak mau saling mendengarkan. Komunitas pecah karena enggan saling mengerti. Gereja melemah ketika kita lebih setia pada ego daripada pada komunio.

Di tengah kenyataan hati yang mudah tertutup itulah, Injil hari ini memperlihatkan wajah Allah yang tidak menyerah pada manusia. Yesus memisahkan orang tuli dan bisu itu dari keramaian, menyentuh telinganya, menyentuh lidahnya, menengadah ke langit, lalu bersabda ”Effata,” terbukalah. Dan yang tertutup pun terbuka. Yang terikat pun dilepaskan.

Mukjizat ini bukan hanya penyembuhan fisik, melainkan tanda pemulihan batin. Tuhan ingin membuka telinga kita yang tuli terhadap Sabda-Nya, membuka hati kita yang beku terhadap kebenaran, dan melepaskan lidah kita dari belenggu dendam, iri hati, dan kebencian.

Kita bisa mendengarkan suara apa saja,  tetapi tidak peka mendengarkan suara hati. Kita bisa lancar berbicara, tetapi lidah sulit berkata jujur tentang kebaikan bersama. Kita bisa aktif melayani tetapi hati masih penuh perhitungan diri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemilauan Luar Bisa Menipu, Terang Hati Menentukan

Di sinilah Sabda Tuhan hari ini menyatukan kedua bacaan dalam satu panggilan yang menyentuh. Pemberontakan Israel menunjukkan apa yang terjadi ketika manusia menutup diri dari kehendak Allah. Mukjizat Yesus menunjukkan apa yang terjadi ketika manusia membuka diri untuk disentuh oleh rahmat.

Tuhan tidak hanya menegur perpecahan, Ia juga memulihkan yang retak. Ia tidak hanya menunjukkan luka, Ia juga menyembuhkan yang terluka. Ia menjadikan segala-galanya baik kembali ketika kita mau membuka diri.

Karena itu, saudari dan saudara terkasih, biarkan Sabda ”Effata” bergema dalam derap hidup kita hari ini. Terbukalah telinga kita untuk mendengarkan kebenaran, meski tidak selalu nyaman. Terbukalah lidah kita untuk berkata jujur dan membangun, bukan melukai, gosip, dan mencemarkan. Terbukalah hati kita untuk diubah, bukan untuk membenarkan diri.

Datanglah kepada Yesus dalam Ekaristi dengan telinga yang rindu mendengar dan hati yang mau disentuh. Dan pulanglah dengan komitmen baru dengan telinga yang peka mendengarkan, lidah yang membawa berkat, dan hati yang setia. Hanya dengan demikian, hidup kita menjadi ”Effata” bagi sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Ramai Ibadahnya, Tapi Bernas Pertobatannya

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Hidup jarang runtuh karena satu badai besar, tetapi karena luka-luka kecil yang tak sembuh dan diam-diam menusuk hati setiap hari.”

“Tuhan tidak lelah membuka yang terkunci, melembutkan yang mengeras, dan menjadikan hidup kita jalan terbuka bagi sesama.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan