BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Menjadi Terang dalam Kasih
Senin, 29 Desember 2025. Hari Kelima dalam Oktaf Natal. Surat Pertama Rasul Yohanes 2:3-11; Lukas 2:22-35
Oleh:Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran masing-masing, orang sering kali fasih berbicara tentang iman, namun gagap ketika diminta menampakkan buah-buah iman itu sendiri, terutama dalam kasih.
Ketika kasih yang jujur memudar, relasi mudah menjadi dingin, perbedaan cepat berubah menjadi jarak, dan kesalehan kerap berhenti pada simbol tanpa keberanian untuk menyentuh sesama. Kita hidup dalam zaman ketika orang dapat mengaku mengenal Allah, namun pada saat yang sama membiarkan saudaranya berjalan sendirian dalam kegelapan relasi yang kehilangan belarasa. Dari kenyataan inilah Sabda Tuhan bangkit dan menantang hati nurani kita hari ini.
Rasul Yohanes dalam bacaan pertama tidak berputar-putar. Ia menyatakan dengan lantang bahwa mengenal Allah bukan pertama-tama soal hafalan ajaran, melainkan kesediaan hidup dalam kasih. Barangsiapa berkata bahwa ia berada dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia sesungguhnya masih tinggal dalam kegelapan.
Sebaliknya, barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang. Terang bukan sekadar konsep rohani, melainkan ruang hidup tempat manusia tidak saling menjatuhkan, tidak saling meniadakan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menjauh. Kasih adalah ukuran keaslian iman. Tanpa kasih, iman menjadi suara yang nyaring tetapi kosong.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dari Keluarga Nazaret ke Rumah Kita
Injil memperlihatkan kepada kita sumber terang itu. Simeon menggendong Kanak-Kanak Yesus dan berseru bahwa Dialah Kristus, cahaya bagi para bangsa. Terang itu tidak datang dengan gemerlap kekuasaan, melainkan dalam kelembutan seorang bayi.
Allah memilih masuk ke dalam sejarah manusia bukan dengan menyingkirkan kerapuhan manusia, melainkan dengan meneranginya dari dalam. Dan, terang Kristus yang menerangi dari dalam ini tidak menjadikan kita merasa lebih unggul dari sesama, melainkan memanggil kita untuk semakin bertanggung jawab satu sama lain.
Terang itu menuntut keputusan konkret untuk mengasihi, bukan sekadar sebagai niat baik, melainkan keberanian untuk hadir, mendengarkan, dan melangkah bersama. Dalam kehidupan sehari-hari, terang itu menjadi nyata ketika kita memilih berdamai di tengah konflik, memilih dialog dalam perbedaan, dan memilih berhenti menilai sesama dengan ukuran kita sendiri untuk mulai memahami. Dalam tindakan-tindakan inilah iman sungguh diuji, bukan pertama-tama di altar yang indah, melainkan dalam relasi yang nyata.
Saudari dan saudara terkasih, selama masa Natal ini kita dipanggil menjadi pantulan terang Kristus, bukan karena paksaan, melainkan sebagai tawaran kasih yang menunggu jawaban. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tinggal di dalam terang, dan terang itu tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan mengalir dan menuntun banyak orang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Natal: Iman yang Menjelma dari Kata Menjadi Kasih
Jika Natal sungguh kita hidupi, maka iman kita akan tampak bukan dari banyaknya kata yang kita ucapkan, melainkan dari besarnya kasih yang kita bagikan dalam kehidupan sehari-hari.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan tentang Allah, tetapi menjelma menjadi kasih yang berani tinggal bersama sesama dengan yang menderita.”
”Terang Kristus tidak diukur dari seberapa bernas kita berbicara tentang iman, melainkan dari seberapa hangat kita mengasihi di tengah perbedaan.”
Tuhan memberkati kita.





