Sabtu, 27 Desember 2025. Pesta St. Yohanes, Rasul, Penginjil (Hari Ketiga dalam Oktaf Natal).
1 Yohanes 1:1-4; Yohanes 20:2-8.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih. Manusia zaman ini hidup di tengah banjir kata, gambar, dan informasi. Kita mendengar banyak suara, melihat banyak hal, menyentuh banyak pengalaman, namun tidak semuanya memberi makna.
Banyak orang merayakan Natal dengan simbol, dekorasi, dan rutinitas, tetapi tetap merasa sunyi di tengah keramaian. Di tengah dunia seperti inilah Gereja mengajak kita mendengarkan suara seorang saksi istimewa Natal, Santo Yohanes, rasul yang paling dekat dengan Yesus, rasul yang berani berkata bahwa imannya bukan teori, melainkan pengalaman hidup yang nyata.
Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes, kita mendengar kesaksian yang sangat kuat: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar dan kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan, dan kami raba dengan tangan kami; yakni Firman hidup.”
Iman Kristiani tidak lahir dari rumor, ide, atau filsafat kosong, melainkan dari perjumpaan dengan Pribadi. Firman itu bukan konsep, melainkan hidup. Dalam terang Natal, Sabda itu menjadi manusia, dapat disentuh, didengar, dan dihidupi.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Natal yang Berani: Dari Palungan Menuju Kesaksian
Paus Benediktus XVI pernah berkata bahwa iman Kristiani bukan hasil keputusan etis atau gagasan besar, melainkan perjumpaan dengan peristiwa dan Pribadi yang memberi arah baru pada hidup. Itulah iman Yohanes, iman yang lahir dari kedekatan dan relasi.
Injil Yohanes menampilkan sebuah adegan yang sederhana namun penuh makna. Murid yang lain berlari lebih cepat daripada Petrus dan lebih dahulu sampai di kubur. Tradisi Gereja melihat murid itu sebagai Yohanes sendiri. Ia berlari bukan karena ingin mendahului, melainkan karena cinta membuatnya peka dan tanggap. Ia melihat tanda-tanda, kain kafan yang terletak, dan ia percaya. Iman yang lahir dari kasih selalu lebih cepat mengenali karya Allah.
Paus Fransiskus pernah menegaskan bahwa iman tanpa kasih berubah menjadi ideologi, tetapi kasih membuat iman hidup dan bergerak.
Tradisi menceritakan bahwa Yohanes mengalami penyiksaan, namun tidak mati sebagai martir seperti rasul-rasul lain. Ia justru hidup panjang, merenung, berdoa, dan menggali misteri Kristus hingga usia lanjut. Barangkali dari perjalanan panjang itulah lahir Injil yang paling dalam, Injil yang digambarkan dengan lambang elang, terbang tinggi menembus misteri ilahi. Yohanes mengajarkan bahwa kedalaman iman tidak lahir dari sensasi, tetapi dari kesetiaan merenung dan tinggal bersama Tuhan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sabda yang Menjadi Daging dan Menetap dalam Keluarga
Ada kisah indah tentang Yohanes di masa tuanya. Ketika ia diminta berkhotbah, ia hanya berkata singkat: “Anak-anakku yang terkasih, saling mengasihilah. Belajarlah untuk saling mengasihi seperti Allah mengasihi kamu.”
Ini bukan kalimat yang mudah, melainkan rangkuman Injil yang paling padat dan menuntut, buah dari perjalanan iman yang panjang, dari perjumpaan, kesetiaan, dan penderitaan yang dimurnikan oleh kasih. Seluruh pewartaan Yohanes dirangkum dalam kasih, kasih yang bersumber dari Allah dan diwujudkan dalam relasi sehari-hari. Mengasihi seperti Yesus mengasihi bukan tugas mudah, melainkan spiritualitas yang harus terus direnungkan dan dihidupi.
Saudari dan saudara terkasih, Natal mengajak kita bukan hanya mengagumi Sabda yang menjadi manusia, tetapi menghidupi kasih yang Ia wartakan. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk menjadi saksi yang berkata: kami telah melihat, kami telah mengalami, dan karena itu kami mengasihi.
Semoga dalam masa Natal ini, Tuhan memperdalam iman kita, mempertajam kasih kita, dan menjadikan hidup kita Injil yang terbaca oleh semua orang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dari Palungan ke Rumah Kita: Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Iman sejati lahir dari perjumpaan dengan Sabda yang hidup dan bertumbuh dalam kasih yang setia.”
”Natal menjadi nyata ketika Sabda yang kita dengar menjelma menjadi kasih yang kita hidupi.”
Tuhan memberkati kita.






