Senin, 28 September 2026. Hari Biasa Pekan XXVI. Kitab Ayub 1:6-22; Matius 21:28-32

SAUDARI dan saudara terkasih, kalimat “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” sudah terlalu sering dijadikan slogan orang beriman untuk menerima kenyataan, seolah-olah beriman berarti pasrah dan tidak perlu lagi bergulat dengan kehilangan atau kematian.

Padahal bagi Ayub, kalimat itu bukan akhir dari pergumulannya, sebab setelah itu ia masih menangis, mengeluh, mempertanyakan penderitaannya, bahkan berani meminta jawaban dari Tuhan.

Di sinilah Ayub berbeda dengan sikap beriman yang kadang kita tunjukkan sekarang: ketika kesedihan karena kematian orang tercinta segera ditutup dengan kata “ikhlas”, pertanyaan dibungkam dengan jawaban “misteri kehendak Tuhan”, dan air mata dianggap sebagai tanda kurang percaya.

Ayub memperlihatkan bahwa orang yang sungguh percaya tidak harus menyembunyikan dukanya di hadapan Tuhan, sebab kecewa, marah, menangis, bahkan mempertanyakan pahitnya kehilangan tetap memiliki tempat dalam iman. Ayub tidak meninggalkan Tuhan ketika hidupnya hancur, tetapi ia juga tidak menutupi kehancuran itu dengan kata-kata saleh seakan-akan semuanya baik-baik saja.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tidak, Ya dan Ya, Tidak: Menyesal Lalu Melangkah

Dalam arti inilah iman Ayub bukan kepasrahan yang berhenti bertanya, melainkan keberanian untuk tetap berbicara dengan Tuhan ketika hidup tidak lagi dapat dimengerti. Dan ketika penderitaan meruntuhkan banyak hal yang selama ini menjadi sandaran hidup Ayub, muncul pertanyaan yang lebih dalam, jika semua yang kita miliki akhirnya dapat hilang, lalu apa sebenarnya yang masih sibuk diperebutkan manusia?

Injil hari ini memperlihatkan para murid yang sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar. “Yesus mengetahui pikiran mereka” (Luk 9:47), dan Yesus melihat keinginan untuk menjadi lebih besar daripada yang lain sedang menguasai hati mereka.

Sungguh sebuah ironi, Ayub sedang kehilangan hampir segala sesuatu, sementara para murid justru sibuk memperebutkan sesuatu untuk membuat diri mereka lebih berarti. Bukankah kita pun sering demikian, merasa lebih berharga ketika jabatan dihormati, pekerjaan berhasil, pelayanan dipuji, keluarga membanggakan, dan pendapat kita diperhitungkan?

Yesus lalu menempatkan seorang anak kecil di tengah mereka, seakan hendak mengatakan bahwa di hadapan Tuhan, kita tidak perlu menjadi lebih besar daripada orang lain untuk menjadi berharga. Sebab jika suatu hari semua yang membuat kita merasa berharga dan penting itu hilang, masihkah kita tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan? Kadang kita baru sungguh mengenal siapa diri kita ketika tidak ada lagi yang dapat kita banggakan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sebelum Semuanya Menjadi Cerita

Karena itu, berhentilah menghabiskan hidup untuk membuktikan bahwa kita lebih berhasil, lebih benar, lebih penting, atau lebih layak dihargai daripada orang lain. Banyak hubungan menjadi retak bukan karena persoalannya terlalu besar, tetapi karena masing-masing ingin menang, ingin dipuji, dan tidak mau merendahkan hati.

Yesus justru mengajak kita menjadi kecil dengan berani memberi tempat kepada orang lain, terutama mereka yang sering tidak diperhitungkan, tidak cepat menilai hanya dari sudut pandang kita, mengalah tanpa merasa kalah, dan tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji. Banyak orang sekarang suka cari muka, padahal kita semua sudah punya wajah. Jangan habiskan hidup untuk berdiri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain.

Pada akhirnya, kebesaran bukan soal seberapa tinggi kita berhasil berdiri, tetapi apakah kehadiran kita membuat orang lain yang jatuh mempunyai keberanian untuk berdiri kembali. Jadilah cukup rendah hati untuk membungkuk, sebab kita tidak mungkin mengangkat orang yang jatuh kalau kita sendiri tidak mau merendahkan diri.

Petikan BUSA-H #28/09/2026 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Waktu Kita dan Waktu Tuhan

”Kehilangan kadang tidak hanya mengambil sesuatu dari hidup kita, tetapi juga menyingkapkan apa yang selama ini kita anggap paling berharga.”

”Iman tidak selalu membuat kita berhenti bertanya, tetapi membuat kita tahu kepada siapa pertanyaan itu harus kita bawa.”

”Jangan menjadi besar dengan mengecilkan orang lain, sebab kebesaran sejati memberi ruang agar orang lain ikut bertumbuh.”

”Kerendahan hati bukan membuat diri kita tidak berarti, melainkan kesediaan untuk membungkuk agar mereka yang jatuh dapat berdiri kembali.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan