BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terang Telah Terbit, Mengapa Kita Masih Terpecah
Minggu, 25 Januari 2026. Hari Minggu Sabda Allah dan Penutupan Pekan Doa Sedunia. Yesaya 8:23b-9:3; 1 Korintus 1:10-13.17; Matius 4:12-23 (Singkat: 4:12-17).
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI saudari terkasih, kehidupan bersama kerap diwarnai pertengkaran, perbedaan sikap, dan kecenderungan berjalan sendiri-sendiri. Banyak orang hidup berdekatan, bahkan seiman, namun tidak sungguh berjalan bersama.
Di tengah keragaman pandangan dan kepentingan, persekutuan mudah retak, seolah terang meredup dan arah hidup bersama menjadi kabur. Realitas ini kita jumpai bukan hanya dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan, tetapi juga dalam kehidupan menggereja, ketika emosi mudah tersulut maka kejernihan hati menghilang.
Namun Sabda Tuhan hari ini mewartakan bahwa bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang. Terang ini tidak hanya menerangi mata, tetapi menyatukan hati dan menuntun kita kembali pada hidup bersama yang berorientasi pada bonum commune .
Nabi Yesaya mewartakan bahwa terang Allah menyinari bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Terang ini bukan sekadar cahaya penghiburan, melainkan kuasa yang mengubah nasib dan mematahkan belenggu. Terang Allah memulihkan martabat dan menumbuhkan pengharapan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Cinta yang Disalahpahami, Kesetiaan yang Teruji
Ketika manusia kehilangan arah, Terang datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menuntun. Terang itu mengajak manusia keluar dari bayang-bayang ketakutan menuju kehidupan yang berani berharap pada kebaikan bersama.
Rasul Paulus berbicara tegas demi nama Tuhan Yesus Kristus kepada jemaat di Korintus agar mereka seia sekata dan tidak terpecah belah dalam kehidupan bersama. Sebaliknya, erat bersatu dan sehati sepikir. Ia mengingatkan bahwa perpecahan muncul ketika orang mulai melekat pada nama dan kelompok, golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, bahkan golongan yang mengatasnamakan Kristus.
Pertanyaannya, apakah Kristus terbagi-bagi? Jika Kristus satu, mengapa para pengikut-Nya hidup terpisah dan saling berhadap-hadapan? Perpecahan sering lahir bukan karena kebenaran, melainkan karena ego yang ingin menang sendiri dan mudah menghakimi sesama serta kelekatan pada kelompok.
Karena itu sebagai murid-murid Kristus, jika saat ini sedang ada perpecahan di dalam Gereja dan kebersamaan melemah, kita dipanggil untuk kembali pada pusat iman yang sejati, yakni Kristus yang mempersatukan dan mengundang kita untuk hidup sehati sepikir. Hidup sehati sepikir berarti membiarkan Sabda Kristus membentuk cara kita merasa, menilai, dan bertindak, sehingga perbedaan tidak memecah persekutuan, melainkan dipersatukan dalam kebenaran dan kasih persaudaraan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kita Dipanggil Bukan Karena Mampu, Tetapi Karena Dibentuk
Ajakan Paulus untuk hidup sehati sepikir berakar dalam Injil, sebab Kristus adalah Terang sejati yang memanggil manusia keluar dari kegelapan perpecahan menuju persekutuan sebagai murid-murid-Nya. Injil mewartakan bahwa Yesus tampil sebagai Terang sejati yang mengusir kegelapan. Ia tidak hanya berbicara, Ia melangkah mendekati manusia dan masuk ke dalam realitas hidup mereka.
Seruan-Nya sederhana namun menuntut keberanian, ”bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Pertobatan bukan sekadar perubahan kata-kata, melainkan perubahan arah hidup dari berjalan sendiri-sendiri menuju kehidupan dalam persekutuan sebagai murid-murid Kristus.
Karena itu Yesus memanggil para nelayan untuk mengikuti-Nya, mengajak mereka keluar dari kebiasaan lama menuju misi baru sebagai penjala manusia, yang hidup dan bekerja dalam satu persekutuan kasih dan kebenaran-Nya. Jika panggilan itu jelas menuju persekutuan, apa lagi yang sesungguhnya perlu dipertentangkan? Namun kenyataannya, selalu ada yang memilih menjadi aktor perpecahan, memelihara pertentangan, dan mengkambinghitamkan sesama.
Pertanyaannya lagi, apakah sikap semacam itu sungguh lahir dari iman? Sebab iman tidak pernah hidup dalam kesendirian. Iman bertumbuh dalam persekutuan, dalam Ekaristi, Sabda dan doa bersama, serta dalam kesediaan untuk berjalan searah sebagai murid-murid Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengelola Emosi dalam Terang Kasih Kristus
Saudari dan saudara terkasih, hari ini kita merayakan Hari Minggu Sabda Allah sekaligus menutup Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Dalam terang ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai murid-murid Kristus hanya menemukan maknanya ketika kita mau mendengarkan Sabda, membiarkannya membentuk hati, dan menghidupinya dalam persekutuan yang nyata.
Ketika Sabda didengarkan, direnungkan, dan diwujudkan dalam tindakan, perpecahan menemukan jalan penyembuhan, dan kebersamaan kembali diteguhkan dalam satu persekutuan murid-murid Kristus. Inilah doa dan harapan yang kita naikkan selama sepekan ini bagi persatuan umat Kristen.
Doa adalah napas persatuan. Ketika kita berdoa bersama, perbedaan tidak disangkal, tetapi diperdamaikan; bukan dihapus, melainkan diarahkan pada kasih yang lebih besar. Sabda Allah memberi terang bagi hati, dan doa bersama menyatukan langkah kita. Dari persekutuan yang hidup inilah lahir kesaksian yang jujur, kuat, dan meyakinkan dunia.
Maka marilah kita membiarkan Sabda Allah menyalakan terang di hati dan menjahit kembali kebersamaan yang robek. Marilah kita berjalan bersama sebagai murid-murid yang dipanggil dan diutus, menjadi saksi bahwa Terang telah terbit, menembus maut perpecahan, dan nyata hidup serta bekerja mulai dari keluarga, komunitas, lingkungan, hingga kehidupan menggereja.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Keberanian Iman di Tengah Goliat Kehidupan
Ikutilah Dia, dan biarkan hidup kita menjadi jala yang menampung banyak orang masuk ke dalam persekutuan kasih persaudaraan yang sejati hingga masuk dalam Kerajaan Surga.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Terang Kristus tidak pernah memecah siapa pun; yang memecah adalah hati yang menolak dibentuk oleh Sabda.”
”Iman yang sejati selalu bergerak dari aku menuju kita, dari berjalan sendiri menuju berjalan bersama dalam kasih dan kebenaran.”
Tuhan memberkati kita.





