Jumat, 18 Juli 2025. Hari Biasa Pekan XV. Kitab Keluaran 11:10-12:14; Matius 12:1-8.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARA-saudara terkasih. Dunia kita hari ini bergerak cepat bahkan terlalu cepat. Kita hidup dalam peradaban yang diburu waktu, didorong produktivitas, dan sering kali diukur lewat pencapaian.Banyak orang merasa lelah bukan karena kurang waktu, tapi karena kurang dimengerti.

Dalam irama kehidupan seperti ini, manusia mudah sekali kehilangan yang paling hakiki, yakni hati yang peduli dan kasih yang berbela rasa. Di tengah pergulatan hidup bersama yang lebih menghargai peraturan daripada relasi, lebih fokus pada tampilan daripada isi hati, kita sering lupa bahwa Tuhan tidak mencari ketaatan kosong, tapi kasih yang menyelamatkan.

Dalam bacaan pertama, kita sampai pada puncak kisah pembebasan Israel dari Mesir. Allah memerintahkan agar setiap keluarga menyembelih anak domba dan mengoleskan darahnya pada tiang pintu rumah mereka. Ini adalah tanda penyelamatan: “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewati kalian.” (Kel. 12:13).

Darah anak domba bukanlah sihir, melainkan simbol ketaatan dan iman akan penyertaan Tuhan yang menyelamatkan. Ini adalah malam yang menentukan. Dari malam ini lahirlah Paskah bukan sekadar perayaan, tetapi memori kolektif tentang Allah yang menyelamatkan umat-Nya melalui belas kasih, bukan kekuatan senjata.

Baca JugaBUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Selalu Baru

Dalam Injil, Yesus menegur orang-orang Farisi yang dengan kaku menegakkan hukum Sabat, tetapi kehilangan makna kasihnya. Ketika murid-murid memetik gandum karena lapar, mereka disalahkan, padahal yang mereka lakukan adalah manusiawi dan mendesak.

Yesus menjawab dengan tegas dan penuh daya: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” (Mat. 12:7). Ia mengingatkan bahwa hukum Tuhan bukan ditetapkan untuk menindas manusia, melainkan untuk membebaskan dan melindungi hidup manusia. Dan Yesus mengakhiri pernyataan-Nya dengan identitas yang kuat: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Ia adalah pemenuh sejati dari semua hukum, yang menempatkan belas kasih di atas ritual, dan manusia di atas sistem.

Saudari-saudara terkasih, ada pesan kehidupan, yakni beriman dengan hati, bukan hanya taat dengan peraturan. Hari ini kita diajak untuk kembali pada inti iman, yaitu kasih yang membebaskan. Sama seperti darah anak domba menjadi tanda perlindungan, demikian pula belas kasih adalah “darah rohani” yang melindungi hidup manusia dari kekerasan sistem dan kekakuan hati.

Kita hidup bukan hanya untuk menjadi orang yang religius secara lahiriah, tetapi menjadi pribadi yang penuh kasih dan keberanian untuk memahami sesama di atas segala-galanya termasuk hukum dan aturan.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dalam Kuk Kristus, Kita Temukan Kelegaan

Sering kali kita menghakimi orang lain karena mereka “tidak sesuai aturan,” tanpa tahu pergumulan dan kebutuhan mereka. Kita bisa saja taat pada peraturan, tetapi kehilangan belas kasih; sibuk melayani, tetapi lupa mengasihi. Namun Tuhan berkata dengan jelas hari ini: Aku tidak mencari pengorbanan lahiriah yang kosong, Aku mencari hati yang peduli.

Saudari-saudara, darah anak domba di pintu rumah Israel adalah tanda iman yang menyelamatkan. Belas kasih yang Yesus ajarkan adalah jalan keselamatan baru yang lebih dalam.

Hari ini, mari jadikan kasih sebagai “darah” di pintu hati kita, yang membuat kita bisa melewati penghakiman, melepaskan orang dari beban, dan menjadi tanda bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah umat-Nya. Sebab dalam dunia yang makin keras, belas kasih adalah tanda orang yang benar-benar mengenal Allah. Dan dalam Yesus, Sabat kita bukanlah beban, tetapi kelegaan, tempat di mana kasih lebih besar daripada aturan, dan keselamatan lahir dari hati yang mengerti.

Baca jugaBUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Meninggalkan yang Sia-Sia, Menghidupi Firman yang Hidup

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Darah anak domba di tiang pintu tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mengingatkan bahwa iman sejati tampak ketika kita percaya dan bertindak demi keselamatan bukan penindasan.”

”Tuhan tidak berdiam dalam hukum yang kaku, tetapi dalam hati yang berani mengasihi yang mengubah aturan menjadi pembebasan dan kewajiban menjadi kelegaan; sebab bagi-Nya, belas kasihan lebih tinggi daripada persembahan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan