Duc In Altum di Tengah Guncangan : Refleksi Pastoral atas Kehadiran Gembala di Tengah Umat Terdampak Gempa Flores
Oleh: RD. Fidelis Dua
Pengantar
GEMPA bumi mengguncang lebih dari tanah yang kita pijak. Dalam hitungan detik, ia dapat meretakkan bangunan, mengubah ritme kehidupan, menggoyahkan rasa aman, dan meninggalkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Di tengah keadaan seperti itu, Gereja dipanggil untuk hadir sebelum tergesa-gesa menjelaskan, mendengarkan sebelum banyak berbicara, dan berjalan bersama umat ketika jalan di depan masih diliputi ketidakpastian.
Di sinilah Duc in Altum, “bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk. 5:4) memperoleh gema pastoral yang sangat nyata. Kedalaman yang harus dimasuki seorang gembala adalah kedalaman luka, ketakutan, kehilangan, dan harapan umatnya.
Sebab ketika tanah berguncang dan banyak kepastian runtuh, umat membutuhkan tanda bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Dan salah satu tanda itu adalah kehadiran seorang gembala yang datang, mendengarkan, menemani, dan tetap tinggal bersama mereka dalam harapan.
1.Kehadiran Sang Gembala
Ada saat ketika seorang gembala perlu berbicara, tetapi ada pula saat ketika ia perlu datang, melihat, mendengarkan, tinggal sejenak, dan berjalan bersama umatnya. Inilah yang tampak dalam perjalanan pastoral Mgr. Ewaldus Martinus Sedu setelah gempa Flores.
Kehadirannya menjadi bahasa pastoral yang sederhana, namun kuat. Bahasa kedekatan yang menyatakan kasih dan kepedulian seorang gembala kepada umatnya. Ia hadir di tengah umat, menjumpai mereka di tenda-tenda rumah sakit, memasuki gereja mereka yang rusak, berdiri di antara bangku-bangku sederhana yang berantakan, mendatangi tenda-tenda pengungsian, dan berjumpa dengan orang-orang yang sedang menjalani hari-hari penuh ketidakpastian.
Dalam keadaan seperti ini, kehadiran bukan sekadar gestur sosial. Kehadiran itu sendiri menjadi tindakan kegembalaan.
Studi pastoral tentang pendampingan pascabencana menegaskan pentingnya presence-based ministry, yakni suatu pendekatan pastoral yang menekankan bahwa kehadiran nyata seorang pelayan di tengah orang yang menderita merupakan bagian penting dari pelayanan itu sendiri.
Ia hadir, mendengarkan, menemani, memberi ruang bagi orang untuk mengungkapkan ketakutan dan dukanya, serta berjalan bersama mereka. Kehadiran seperti ini, disertai doa, pendampingan yang penuh belas kasih, dan perhatian terhadap trauma, dapat membantu umat memulihkan daya hidup dan harapan mereka (Caesarius et al., 2025).
Karena itu, ketika seorang uskup datang kepada umat yang terluka, ia tidak harus datang dengan jawaban atas semua pertanyaan. Kehadirannya sendiri membawa satu pesan yang sangat manusiawi sekaligus eklesial, kalian tidak sendirian.
Namun kehadiran seorang gembala menemukan maknanya yang lebih dalam ketika ia tidak berhenti pada tindakan datang dan melihat, tetapi bersedia masuk lebih jauh ke dalam luka, kecemasan, dan pergulatan umat yang dijumpainya.
2.Bertolak ke Kedalaman Luka
Di sinilah motto episkopal Mgr. Ewaldus, Duc in Altum, memperoleh kedalaman baru. Motto itu berasal dari perintah Yesus kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam” dalam Lukas 5:4 dan memang menjadi motto tahbisan episkopalnya.
Biasanya Duc in Altum dibaca sebagai keberanian bermisi dan bergerak melampaui kenyamanan. Namun di tengah bencana, “tempat yang dalam” itu mempunyai wajah yang sangat konkret.
Kedalaman itu adalah kecemasan seorang ibu yang takut gempa susulan, keluarga yang kehilangan rasa aman, anak-anak yang harus tinggal di tenda, umat yang bertanya kapan keadaan akan kembali normal, dan masyarakat yang harus membangun kehidupan dari keadaan yang rapuh.
Bertolak ke tempat yang dalam berarti seorang gembala bersedia masuk ke kedalaman pengalaman umatnya, bukan mengamati penderitaan mereka dari kejauhan.
Teologi pastoral tentang bencana mengingatkan bahwa bencana melahirkan bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga duka publik, kerentanan, ketercerabutan, dan luka spiritual yang membutuhkan pendampingan jangka panjang (Graham, 2006; Reed, 1977).
Karena itu, semakin dalam luka yang dialami umat, semakin dibutuhkan kehadiran seorang gembala yang bersedia mendengarkan, menemani, dan menjaga agar harapan mereka tidak ikut runtuh bersama segala sesuatu yang terguncang.
Karena itu, Duc in Altum di tengah bencana adalah panggilan untuk tidak takut mendekati kedalaman luka manusia. Di sanalah seorang gembala dipanggil untuk mendengarkan tangis yang mungkin tidak terucapkan, memahami ketakutan yang tidak selalu terlihat, dan menemani pertanyaan-pertanyaan iman yang belum menemukan jawaban.
Ia tidak harus segera menjelaskan mengapa penderitaan itu terjadi, tetapi melalui kedekatan dan kesetiaannya ia dapat membantu umat mengalami bahwa di tengah hidup yang terguncang, mereka tetap mempunyai tempat untuk bersandar dan berharap.
Pada kedalaman inilah pelayanan seorang gembala akhirnya menyentuh inti iman Kristiani, yakni menghadirkan Allah yang tidak menjauh dari penderitaan manusia dan tidak meninggalkan umat-Nya sendirian.
3. Allah Tidak Meninggalkan
Dari sini, Duc in Altum berubah dari motto menjadi praksis kegembalaan. Yesus menyuruh Petrus bertolak lebih dalam bukan ketika Petrus sedang menikmati keberhasilan, melainkan ketika ia baru saja mengalami kelelahan dan kegagalan sepanjang malam.
Perintah itu bahkan terdengar tidak masuk akal bagi seorang nelayan yang telah bekerja keras tanpa hasil. Namun justru pada saat tenaga terbatas, pengalaman mengecewakan, dan jala tetap kosong,
Yesus berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” Karena itu, Duc in Altum bukanlah ajakan untuk melarikan diri dari kenyataan yang sulit, melainkan keberanian untuk masuk lebih dalam ke dalamnya bersama Kristus.
Di tengah bencana, “tempat yang dalam” bukanlah sebuah ruang geografis, melainkan kedalaman pengalaman manusia yang sedang terluka, takut, kehilangan rasa aman, dan bergumul dengan ketidakpastian. Maka kedalaman iman bukanlah kemampuan menyangkal kenyataan yang menyakitkan. Iman justru membawa kita masuk ke dalam kenyataan itu bersama Kristus.
Seorang gembala yang menghidupi Duc in Altum tidak berdiri di tepian sambil memandang luka umatnya dari kejauhan. Ia turun ke kedalaman itu, tinggal bersama mereka, dan percaya bahwa bahkan dari jala kehidupan yang terasa kosong, Tuhan masih dapat memulai sesuatu yang baru. Dalam kehadiran seperti itulah umat dapat menangkap sebuah kesaksian iman yang mendasar bahwa di tengah kehidupan yang terguncang, Allah tidak meninggalkan mereka.
Gereja karena itu tidak perlu tergesa-gesa menjelaskan mengapa gempa terjadi, apalagi menafsirkannya sebagai hukuman Allah. Tugas pertama Gereja adalah menghadirkan wajah Allah yang tidak meninggalkan manusia dalam penderitaannya.
Paus Fransiskus, ketika berbicara tentang pengalaman bencana, pernah mengatakan bahwa kata-kata tidak dapat mengembalikan mereka yang telah meninggal, tetapi kedekatan manusia memberi kekuatan dan melahirkan solidaritas.
Ketika mengunjungi wilayah yang dilanda gempa di Italia, ia menegaskan bahwa Allah bukan Allah yang jauh dan tidak peduli, melainkan Allah yang mendekat dan membantu manusia memikul beban kehidupan. Di tengah penderitaan seperti inilah kehadiran seorang gembala dapat menjadi homili yang hidup tentang Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya.
4. Ketika Kehadiran Menjadi Homili yang Hidup
Allah tidak meninggalkan manusia dalam penderitaannya, maka Gereja pun dipanggil untuk tidak menjaga jarak dari mereka yang terluka. Karena itu, perjalanan seorang uskup memasuki tenda pengungsian, rumah sakit, gereja, kampung, dan ruang hidup umat bukan sekadar kunjungan pastoral tetapi dapat dibaca secara teologis sebagai pastoral inkarnasi.
Di sana seorang gembala mengikuti cara Kristus sendiri hadir di tengah manusia. Kristus tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan, tetapi “menjadi daging dan tinggal di antara kita”. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia, menyentuh mereka yang sakit, mendengarkan mereka yang berseru, menangis bersama mereka yang berduka, dan hadir di tengah mereka yang kehilangan harapan.
Inilah cara Allah menyatakan kasih-Nya, bukan dari kejauhan, melainkan dengan mendekat dan tinggal bersama manusia.
Dalam terang iman ini, kehadiran fisik seorang gembala memiliki bobot teologis yang mendalam. Ketika ia datang, duduk bersama umat, mendengarkan cerita mereka, melihat sendiri kerusakan yang mereka alami, dan berjalan di tengah kehidupan mereka yang terguncang, kepedulian menjadi terlihat, kasih memperoleh bentuk, dan solidaritas menampakkan wajah.
Kehadiran itu mungkin tidak segera memperbaiki bangunan yang rusak atau menghilangkan ketakutan akan gempa susulan, tetapi dapat meneguhkan umat bahwa penderitaan mereka dilihat, suara mereka didengarkan, dan mereka tidak berjalan sendirian.
Kajian tentang pelayanan pastoral dalam bencana juga menunjukkan bahwa kehadiran yang nyata dan dekat dapat membawa makna spiritual bagi mereka yang sedang mengalami trauma (Johannessen-Henry, 2016).
Di sinilah kehadiran dapat berubah menjadi pewartaan. Seorang gembala memang mewartakan Injil melalui kata-kata, tetapi ada keadaan ketika umat perlu melihat Injil itu mengambil bentuk dalam tindakan nyata.
Langkah kaki yang datang, telinga yang bersedia mendengarkan, tangan yang menguatkan, waktu yang diberikan, dan kesediaan tinggal sejenak bersama mereka yang terluka dapat berbicara tentang kasih Allah dengan bahasa yang sangat kuat.
Kadang-kadang homili yang paling menyentuh tidak disampaikan dari mimbar. Ia disampaikan melalui langkah seorang gembala yang mendatangi umatnya dan melalui kehadiran yang membuat mereka merasakan bahwa Gereja tidak meninggalkan mereka. Kehadiran seperti inilah yang menjadi homili yang hidup.
Namun homili yang hidup itu akan semakin bermakna apabila kehadiran seorang gembala tidak berhenti pada perjumpaan sesaat, melainkan berlanjut dalam kesediaan untuk menemani umat menapaki jalan panjang pemulihan.
5.Dari Kunjungan Menuju Pendampingan
Kunjungan pastoral memperoleh maknanya yang lebih utuh ketika kehadiran itu berlanjut dalam pendampingan. Gempa mungkin berlangsung hanya dalam hitungan detik, tetapi dampaknya dapat menetap jauh lebih lama dalam kehidupan umat.
Yang terguncang bukan hanya tanah dan bangunan, melainkan juga rasa aman, kehidupan ekonomi keluarga, kesehatan psikologis, pendidikan anak-anak, relasi dalam komunitas, bahkan cara seseorang memahami Allah di tengah penderitaan.
Kajian sistematis tentang pemulihan pascabencana menunjukkan bahwa dampak bencana menyentuh berbagai dimensi kehidupan manusia, termasuk dimensi fisik, mental, sosial, dan spiritual, sehingga proses pemulihannya pun perlu memperhatikan manusia secara utuh (Nejati-Zarnaqi et al., 2024).
Karena itu, setelah kebutuhan darurat mulai tertangani, masih ada luka yang membutuhkan waktu, perhatian, dan kehadiran yang setia.
Di sinilah belas kasih Gereja perlu bergerak dari presence menuju accompaniment, dari kehadiran menuju pendampingan. Dalam bahasa pastoral, accompaniment berarti berjalan bersama seseorang dalam proses kehidupan yang sedang dijalaninya, dengan mendengarkan, menopang, membantu menemukan kembali harapan, dan tidak meninggalkannya ketika jalan menuju pemulihan ternyata panjang.
Pendampingan tidak berarti bahwa Gereja harus mempunyai jawaban atas setiap persoalan atau mengambil alih kehidupan mereka yang terdampak. Gereja hadir sebagai teman seperjalanan yang membantu umat menemukan kembali kekuatan untuk berdiri, melangkah, dan menata kehidupan mereka.
Karena luka pascabencana menyentuh banyak dimensi kehidupan, pendampingan pastoral juga membutuhkan kepekaan terhadap trauma, dukungan spiritual dan komunitas, serta kerja sama dengan tenaga kesehatan mental dan berbagai pihak yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Penelitian tentang pelayanan pastoral pascabencana menegaskan pentingnya mengintegrasikan kebijaksanaan spiritual dengan kepekaan psikologis serta membangun kolaborasi dengan tenaga profesional dalam mendampingi umat yang mengalami trauma (Caesarius et al., 2025).
Dengan demikian, berjalan bersama juga berarti memiliki kepekaan untuk mengetahui kapan harus mendengarkan, kapan harus membantu, dan kapan harus menghubungkan umat dengan pertolongan yang lebih tepat.
Pendampingan seperti inilah yang membuat kehadiran Gereja memiliki daya tahan pastoral. Pada hari-hari pertama setelah bencana, perhatian biasanya datang dari banyak arah. Namun setelah berita mulai mereda dan kehidupan di tempat lain kembali berjalan seperti biasa, mereka yang terdampak masih harus menghadapi proses panjang untuk membangun rumah, memulihkan kehidupan keluarga, mengatasi kecemasan, dan menata kembali masa depan.
Karena itu, kesetiaan Gereja justru diuji setelah sorotan mulai berkurang. Pelayanan pascabencana menuntut Gereja untuk tetap berjalan bersama mereka yang terluka dalam pergumulan sehari-hari, bukan hanya hadir pada masa tanggap darurat (Mujinga, 2024).
Gereja yang hadir ketika gempa menjadi berita harus tetap hadir ketika gempa tidak lagi menjadi berita.
6. Menjadi Jembatan Harapan
Pengalaman pastoral di tengah bencana Flores menemukan gema yang lebih luas dalam panggilan Gereja Asia untuk menjadi jembatan harapan.
Sidang Pleno XII FABC di Jakarta, 20–26 Juli 2026, mengajak Gereja-Gereja lokal di Asia menjalani pertobatan sinodal dan mengambil bagian dalam misi menjadi jembatan dan pembangun jembatan.
Arah ini bukan sekadar tema sebuah pertemuan gerejawi, melainkan cara Gereja memahami kehadirannya di tengah masyarakat Asia yang ditandai oleh berbagai luka dan kerentanan. Sinodalitas mengajak Gereja untuk mendengarkan, berjalan bersama, dan keluar menjumpai mereka yang berada di pinggiran.
Paus Leo XIV bahkan menegaskan kepada Sidang Pleno FABC bahwa Kristus adalah sumber persekutuan kita dengan Allah dan satu sama lain, dan dari persekutuan itulah Gereja dipanggil memperkuat ikatan kasih serta menjadi pembangun jembatan di seluruh Asia.
Apa artinya menjadi jembatan di tengah bencana Flores? Jembatan selalu menghubungkan dua sisi yang terpisah. Karena itu, menjadi jembatan berarti mempertemukan mereka yang membutuhkan dengan mereka yang mampu membantu, menghubungkan solidaritas Gereja dengan kerja pemerintah dan masyarakat, mempertemukan bantuan material dengan pendampingan spiritual, serta menjaga agar mereka yang paling rapuh tidak hilang dari perhatian setelah masa darurat berlalu.
Dalam konteks pemulihan pascabencana, penelitian menunjukkan bahwa komunitas beriman dapat berperan penting dengan menggerakkan jaringan sosial, menyediakan dukungan, dan membantu masyarakat memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk membangun kembali kehidupan mereka (Storr et al., 2025).
Penelitian tentang kepemimpinan dalam pemulihan bencana juga menunjukkan pentingnya para pelaku lokal yang mampu menjembatani kebutuhan komunitas dengan para pengambil keputusan dan sumber daya yang lebih luas (Beckham et al., 2023).
Dengan demikian, Gereja menjadi jembatan harapan ketika ia mampu mempertemukan luka dengan kepedulian, kebutuhan dengan pertolongan, dan mereka yang hampir kehilangan harapan dengan komunitas yang bersedia berjalan bersama mereka.
Di sinilah sinodalitas memperoleh wajahnya yang sangat konkret. Sinodalitas tidak lagi menjadi istilah yang hanya dibicarakan dalam sidang, dokumen, atau ruang pertemuan.
Di tengah umat yang terdampak gempa, sinodalitas berarti berjalan di tanah yang sama, mendengarkan cerita mereka, mengenali kebutuhan mereka, dan bersama-sama mencari jalan menuju pemulihan.
Mereka yang terdampak pun tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai saudara dan saudari yang martabat, pengalaman, suara, serta daya juangnya harus dihargai dalam proses pemulihan. Dengan cara inilah Gereja sungguh menjadi pembangun jembatan.
Jembatan harapan tidak dibangun di atas umat yang terluka, tetapi bersama mereka. Dan seorang gembala menjadi pembangun jembatan ketika kehadirannya mampu mempertemukan orang-orang, menggerakkan solidaritas, dan membuka jalan agar harapan dapat tumbuh kembali.
Menjadi jembatan harapan membutuhkan persekutuan dan kolaborasi di antara umat beriman.
Paus Leo XIV mengingatkan Gereja Asia bahwa Kristus adalah sumber persekutuan kita dengan Allah sekaligus dengan satu sama lain. Dari misteri Kristus, terutama dalam perayaan Ekaristi, mengalir solidaritas Kristiani yang memperkuat ikatan persekutuan dan menggerakkan Gereja untuk menjadi bridge-builders. Karena itu, Ekaristi yang dirayakan Gereja tidak berhenti pada altar.
Tubuh Kristus yang kita terima menggerakkan Tubuh Kristus yang adalah Gereja untuk mendatangi anggota-anggotanya yang terluka.
Persekutuan Ekaristis menemukan wujud sosialnya ketika penderitaan sesama menjadi keprihatinan bersama, ketika mereka yang terluka tidak dibiarkan berjalan sendirian, dan ketika kasih yang dirayakan di sekitar altar diteruskan dalam solidaritas yang nyata.
Dengan demikian, menjadi jembatan harapan bukan sekadar membangun jaringan bantuan, melainkan menghadirkan persekutuan yang membuat mereka yang terluka mengalami bahwa seluruh Gereja berjalan bersama mereka.
7.Menebarkan Jala Solidaritas
Duc in Altum tidak berhenti pada keberanian untuk masuk ke kedalaman luka umat. Perintah Yesus kepada Petrus berlanjut dengan tindakan menebarkan jala.
Dalam konteks bencana, gambaran ini memperoleh makna pastoral yang sangat konkret. Belas kasih perlu menemukan bentuk dalam solidaritas yang terorganisasi. Kepedulian yang lahir dari hati perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang mampu menopang proses pemulihan.
Namun mereka yang terdampak tidak boleh dipandang semata-mata sebagai objek bantuan. Mereka tetap merupakan subjek yang memiliki martabat, iman, pengalaman, daya juang, dan kemampuan untuk mengambil bagian dalam pemulihan kehidupan mereka sendiri.
Perspektif teologi pastoral menegaskan pentingnya memandang masyarakat yang rentan sebagai subjek aktif yang dapat ikut mengubah keadaan mereka, sehingga pelayanan pastoral menjadi karya yang penuh harapan dan mendorong keterlibatan nyata (Baltodano, 2002).
Menebarkan jala solidaritas karena itu merupakan karya bersama. Seorang uskup tidak menebarkannya sendirian. Ia menggerakkan imam, biarawan-biarawati, awam, orang muda, relawan, tenaga kesehatan, pendidik, pemerintah, lembaga sosial, dan siapa pun yang berkehendak baik untuk mengambil bagian dalam proses pemulihan.
Di sinilah kegembalaan menemukan wajah sinodalnya. Setiap orang membawa karunia, kemampuan, jaringan, dan sumber daya yang berbeda, lalu semuanya dipertemukan demi kehidupan mereka yang sedang terluka.
Tidak semua orang mempunyai sumber daya yang sama, tetapi setiap orang dapat memegang satu bagian dari jala solidaritas itu. Jala menjadi kuat justru karena banyak tangan bersedia memegangnya.
Dalam arti ini, solidaritas bukan sekadar kemurahan hati individual, melainkan kesediaan untuk bekerja bersama agar mereka yang paling rentan tidak terlepas dari jala kepedulian Gereja.
Jala solidaritas itu sekaligus menjadi jala harapan. Harapan Kristiani tidak menjanjikan kepada keluarga yang ketakutan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja, sebab kita sendiri tidak mengetahui bagaimana hari-hari setelah bencana akan berlangsung.
Harapan berani memandang luka apa adanya sambil menolak membiarkan luka mempunyai kata terakhir. Penelitian teologi pastoral menunjukkan bahwa harapan yang transformatif tumbuh ketika kepercayaan kepada Allah berjalan bersama ketekunan dan kemampuan manusia untuk bertindak bagi perubahan (Rosewall, 2011).
Kajian pastoral yang lebih baru juga menegaskan bahwa teologi dan pelayanan pastoral dapat menopang resiliensi dengan menyentuh sekaligus dimensi spiritual dan sosial kehidupan manusia (Nanthambwe, 2024).
Karena itu, doa dan tindakan merupakan dua gerak dari iman yang sama. Kita berdoa karena percaya kepada Allah, dan kita bekerja karena percaya bahwa Allah memanggil kita mengambil bagian dalam karya kasih-Nya.
Duc in Altum akhirnya mengajak Gereja untuk bertolak lebih dalam dan menebarkan jala lebih luas, agar tidak seorang pun yang terluka dibiarkan menghadapi kedalaman penderitaannya seorang diri.
Penutup
Pada akhirnya, pengalaman gempa Flores memberi kedalaman pastoral yang baru pada Duc in Altum. “Bertolaklah ke tempat yang dalam” bukan lagi sekadar motto yang terucap, melainkan panggilan untuk masuk ke dalam kenyataan hidup umat yang sedang terluka.
Bertolak lebih dalam berarti berani mendekati luka tanpa kehilangan harapan, mendengarkan tanpa tergesa-gesa memberi jawaban, hadir tanpa mencari pujian, menolong tanpa merendahkan, serta membangun kembali kehidupan tanpa meninggalkan mereka yang paling lemah.
Di tengah bencana, kedalaman seorang gembala tidak terutama diukur dari banyaknya kata yang disampaikan, melainkan dari kesediaannya untuk tetap dekat dengan umat ketika hidup mereka sedang terguncang.
Gembala yang bertolak lebih dalam tidak harus mempunyai jawaban untuk segala sesuatu. Ia adalah gembala yang tidak meninggalkan umat ketika jawaban belum ditemukan. Dalam bahasa Paus Fransiskus, itulah kedekatan.
Dalam visi FABC, itulah berjalan bersama dan membangun jembatan. Dalam pesan Paus Leo XIV, itulah persekutuan yang berakar pada Kristus dan mengalir menjadi solidaritas. Dan dalam motto episkopal Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, seluruh gerak kegembalaan itu dirangkum dalam sebuah perintah yang sederhana sekaligus menantang, Duc in Altum. Bertolaklah lebih dalam.
Karena itu, perjalanan pastoral di tengah umat terdampak gempa tidak dapat dipandang sekadar sebagai kunjungan seorang pemimpin Gereja kepada para korban bencana.
Perjalanan itu dapat menjadi ikon Gereja yang memilih untuk dekat, berjalan bersama, dan menjaga harapan. Ketika tanah berguncang, Gereja dipanggil menjadi ruang yang menguatkan. Ketika rumah dan tempat ibadah mengalami kerusakan, Gereja dipanggil membangun jembatan solidaritas. Ketika umat takut menghadapi hari esok, Gereja dipanggil menjaga agar nyala harapan tidak padam. Dan ketika proses pemulihan berlangsung panjang, Gereja dipanggil untuk tetap tinggal dan berjalan bersama.
Pada saat banyak orang bertanya, “Di manakah Tuhan di tengah penderitaan ini?”, jawaban Gereja tidak cukup diberikan melalui penjelasan teologis. Jawaban itu perlu mengambil bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan. Ia hadir dalam kaki yang datang, telinga yang mendengarkan, tangan yang menolong, bahu yang menopang, dan komunitas yang tidak pergi meninggalkan mereka.
Di sanalah presence menjadi accompaniment, kehadiran menjadi pendampingan, belas kasih menjadi solidaritas, dan iman memperoleh wujudnya dalam kasih yang nyata. Kehadiran seorang gembala dengan demikian dapat menjadi homili yang hidup tentang Allah yang tetap dekat dengan umat-Nya.
Duc in Altum. Bertolaklah lebih dalam. Seorang gembala membawa umat menuju kedalaman iman dengan keberanian untuk masuk ke kedalaman luka mereka, tinggal bersama mereka, dan dari sana menebarkan kembali jala solidaritas dan harapan.
Ketika tanah berguncang dan banyak kepastian runtuh, kehadiran seorang gembala menjadi tanda bahwa kasih Allah tidak ikut runtuh. Selama Gereja tetap berjalan bersama mereka yang terluka, luka tidak harus menjadi akhir cerita.
Sebab dari kedalaman luka itu, oleh kasih yang hadir, iman yang bertahan, dan tangan-tangan yang bekerja bersama, Tuhan masih sanggup menumbuhkan keberanian untuk berdiri kembali, melangkah kembali, dan berharap kembali. *
Referensi
Baltodano, S. (2002). Pastoral care in Latin America. American Journal of Pastoral Counseling, 5(3–4), 191–224.
Beckham, T. L., Cutts, B. B., Rivers, L., Dello, K., Bray, L. A., & Vilá, O. (2023). BRIDGE builders—Leadership and social capital in disaster recovery governance. International Journal of Disaster Risk Reduction, 96, 103942.
Caesarius, A., Gibraltar, G., & Othniel, O. (2025). Analysis of pastoral counseling approaches to congregations experiencing post-natural disaster trauma. Ministries and Theology, 2(2), 75–82.
Federation of Asian Bishops’ Conferences. (2026). Final message of the XII Plenary Assembly of the Federation of Asian Bishops’ Conferences.
FABC XII Plenary Assembly resources
Francis. (2014, August 18). In-flight press conference of His Holiness Pope Francis from Korea to Rome. Vatican text
Francis. (2017, January 5). Audience with the populations struck by the earthquakes in central Italy. Vatican text
Francis. (2019, June 16). Pastoral visit to the earthquake zones of the Diocese of Camerino-San Severino Marche. Vatican text
Francis. (2023, November 24). Address of His Holiness Pope Francis to mayors and administrators of the municipalities affected by the 2016 earthquake. Vatican text
Graham, L. K. (2006). Pastoral theology and catastrophic disaster. Journal of Pastoral Theology, 16(2), 1–17.
Johannessen-Henry, C. T. (2016). The materiality of presence: Psycho-theological entanglement of objects in disaster pastoral care. Journal of Pastoral Theology, 26(3), 195–214.
Leo XIV. (2026, July 25). Video message of the Holy Father to the participants in the XII Plenary Assembly of the Federation of Asian Bishops’ Conferences. Vatican text
Mirifica News. (2018). Mengenal sosok Uskup Maumere terpilih Mgr. Edwaldus Martinus Sedu di balik inspirasi moto. Mirifica.net.
Mujinga, M. (2024). Assessing chaplaincy ministry as a Christ-woven nest in times of disaster. E-Journal of Religious and Theological Studies, 10(5), 158–166.
Nanthambwe, P. (2024). Public theology as a theology of resilience in Sub-Saharan Africa: A public pastoral care contribution. Religions, 15(10), 1213.
Nejati-Zarnaqi, B., Khorasani-Zavareh, D., Sohrabizadeh, S., Ghaffari, M., Sabour, S., Nouri, F., & Mohammadi, R. (2024). Factors affecting the spiritual rehabilitation of people affected by natural disasters: A systematic review. Journal of Injury and Violence Research, 16(2), 159–168.
Reed, J. P., Jr. (1977). The pastoral care of victims of major disaster. Journal of Pastoral Care, 31(2), 97–108.
Rosewall, A. L. (2011). Pastoral theology of hope: Listening in El Salvador. Journal of Pastoral Theology, 21(2), 2-1–2-13.
Storr, V. H., Lofthouse, J. K., & Storr, N. M. (2025). Calling on and thanking God: The role of faith and faith communities in disaster recovery. Disasters, 49(4), e70003. *




