Oleh: Fransisco Soarez Pati

KAPAL Ratu Rosari bukan sekadar kapal yang pernah melintasi laut Flores. Bagi banyak orang di Flores dan Nusa Tenggara, kapal ini merupakan bagian dari sejarah perjalanan, pendidikan, perdagangan, pelayanan sosial, dan kehidupan masyarakat pada zamannya.

Pada masa ketika transportasi antarpulau masih sangat terbatas, Ratu Rosari menjadi salah satu penghubung penting antara Flores, Timor, Jawa, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Kapal ini membawa manusia, barang, harapan, dan cerita dari satu pulau ke pulau lainnya.

Bagi generasi yang pernah menggunakannya, nama Kapal Ratu tidak hanya mengingatkan pada sebuah alat transportasi, tetapi juga pada sebuah zaman ketika laut merupakan jalan utama menuju dunia yang lebih luas.

Lahir di Hamburg, Berlayar untuk Nusa Tenggara  

Ratu Rosari lahir dalam konteks pelayanan misi Katolik di kawasan Nusa Tenggara. Kapal ini dibangun di Hamburg, Jerman, dan diluncurkan pada 27 Juni 1964 oleh Mgr. Gabriel Manek, SVD.

Setelah menyelesaikan perjalanan menuju Indonesia, kapal ini tiba di Surabaya pada akhir Agustus 1964 dan mulai beroperasi pada September tahun yang sama.

Rute pelayarannya menghubungkan Surabaya–Flores–Timor. Kehadirannya menjadi sangat penting karena pada masa itu perjalanan laut merupakan salah satu sarana utama untuk menghubungkan masyarakat di pulau-pulau Nusa Tenggara dengan pusat-pusat perdagangan, pendidikan, pemerintahan, dan pelayanan di Jawa.

Bukan Sekadar Kapal Gereja

Walaupun lahir dari kebutuhan misi SVD, fungsi Ratu Rosari jauh lebih luas. Kapal ini mengangkut para misionaris, tetapi juga membawa pelajar, mahasiswa, pedagang, tukang bangunan, orang sakit, pegawai pemerintah, bahan bangunan, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Karena itu, Ratu Rosari menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kapal tersebut ikut membuka ruang mobilitas bagi orang-orang Flores yang hendak mencari pendidikan, berdagang, bekerja, berobat, atau melakukan perjalanan ke daerah lain.

Dalam konteks pembangunan Nusa Tenggara pada masa itu, transportasi laut bukan hanya soal perpindahan manusia. Ia juga berartiy perpindahan pengetahuan, barang, tenaga, dan kesempatan.

Kapal Ratu Rosari di Mata Orang Flores

Di Flores, kapal ini lebih dikenal dengan sebutan Kapal Ratu.

Salah satu tempat yang memiliki kenangan kuat terhadap pelayaran Ratu Rosari adalah kawasan Maumere. Kapal ini disebut sering singgah di Sadang Bui, kawasan yang kemudian dikenal sebagai L. Say.

Bagi masyarakat yang hidup pada masa itu, kedatangan Kapal Ratu merupakan sebuah peristiwa. Penumpang naik dan turun, barang dibongkar dan dimuat, sementara keluarga menunggu kedatangan orang-orang yang datang dari jauh.

Kapal itu menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Flores.

Ia bukan hanya membawa orang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, tetapi juga menjadi simbol perjalanan menuju kehidupan yang lebih luas.

Gereja Terapung

Salah satu keunikan Ratu Rosari adalah keberadaan ruang ibadah di dalam kapal.

Karena memiliki kapel, altar, dan fasilitas untuk kegiatan keagamaan, kapal ini kemudian dikenal sebagai “gereja terapung.”

Dalam pelayarannya, kegiatan keagamaan dapat dilakukan di atas kapal. Laut yang luas menjadi ruang perjalanan sekaligus ruang pelayanan.

Namun, fungsi kapal tidak terbatas hanya bagi umat Katolik. Ratu Rosari juga menjadi sarana transportasi masyarakat umum dan bagian dari kehidupan sosial di wilayah yang dilayaninya.

Bruder Marianus dan Sejarah Kapal

Dalam sejarah Ratu Rosari, nama Bruder Marianus SVD juga memiliki tempat penting.

Ia dikenal berkaitan dengan perancangan dan pengembangan kapal tersebut pada tahun 1964. Kehadirannya menunjukkan bahwa misi pada masa itu tidak hanya membutuhkan imam dan tenaga pastoral, tetapi juga orang-orang dengan keahlian teknis untuk mendukung pelayanan di wilayah kepulauan.

Ratu Rosari kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana pelayanan misi beradaptasi dengan kondisi geografis Nusa Tenggara yang dipisahkan oleh laut.

Dari Pendidikan Hingga Pembangunan

Bagi Flores dan daerah-daerah sekitarnya, salah satu warisan terbesar Ratu Rosari adalah terbukanya mobilitas manusia.

Para pelajar dan mahasiswa dapat melakukan perjalanan ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Pedagang dapat membawa barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Tenaga pembangunan dapat bergerak menuju daerah-daerah yang membutuhkan.

Kapal ini juga mendukung pengangkutan bahan dan perlengkapan untuk pembangunan sekolah, gereja, rumah pastor, dan berbagai fasilitas lainnya.

Dengan demikian, sejarah Ratu Rosari tidak dapat dipisahkan dari sejarah perubahan sosial di Flores dan Nusa Tenggara.

Ketika Zaman Berubah

Seiring berkembangnya sistem transportasi laut pemerintah dan semakin tersedianya kapal-kapal reguler, kebutuhan terhadap kapal misi seperti Ratu Rosari mulai berkurang.

Memasuki dekade 1990-an, perubahan tersebut semakin terasa. Transportasi reguler pemerintah membuat fungsi kapal misi menjadi semakin sulit dipertahankan.

Biaya operasional dan perubahan kebutuhan transportasi akhirnya turut memengaruhi keberlanjutan pelayaran Ratu Rosari.

Kapal yang selama puluhan tahun menghubungkan Jawa dan Nusa Tenggara itu kemudian berakhir dalam sebuah zaman yang berbeda.

Jika pada zaman Portugis kapal Mondego menjadi bagian dari jaringan pelayaran yang membentang jauh dari Brasil dan Afrika menuju Lisboa, kemudian ke Dili, Larantuka, Sikka, hingga Paga, maka sejarah pelayaran di kawasan Flores memperlihatkan bahwa laut sejak dahulu bukanlah batas yang memisahkan pulau-pulau, melainkan jalan yang menghubungkannya dengan dunia yang lebih luas.

Dalam kisah pelayaran Portugis itu, nama Mondego dan Santa Catarina juga membawa kita pada dunia pelabuhan dan pelayaran Portugal. Di muara Sungai Mondego, di Figueira da Foz, berdiri Forte de Santa Catarina yang menjadi bagian dari pertahanan kawasan muara dan pelabuhan.

Dari sana, kita dapat melihat gambaran sebuah dunia maritim yang pada masanya menghubungkan berbagai tempat yang sangat jauh. Mondego berada dalam lingkungan sejarah pelayaran Portugis yang membawa kepentingan perdagangan, politik, dan hubungan antarpelabuhan pada zamannya.

Berabad-abad kemudian, dalam konteks yang berbeda, Ratu Rosari hadir sebagai bagian dari babak baru sejarah pelayaran Nusa Tenggara. Jika Mondego membawa cerita tentang jaringan pelayaran Portugis yang menjangkau wilayah-wilayah jauh, maka Ratu Rosari menghubungkan Flores dan Nusa Tenggara terutama dengan Jawa, sekaligus menjadi sarana pergerakan manusia, pendidikan, perdagangan, pembangunan, pelayanan sosial, dan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, Mondego dan Ratu Rosari dapat ditempatkan dalam satu garis panjang sejarah maritim Flores: dua kapal dari zaman yang berbeda, dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan arti penting laut bagi masyarakat Flores.

Mondego merepresentasikan Flores dalam jaringan pelayaran Portugis yang lebih luas, sedangkan Ratu Rosari merepresentasikan babak ketika transportasi laut menjadi salah satu penggerak mobilitas dan perubahan sosial di Nusa Tenggara.

Perbedaannya justru memperlihatkan perubahan zaman. Dari jaringan pelayaran Portugis yang menghubungkan wilayah-wilayah jauh di Asia, Afrika, dan Atlantik, sejarah kemudian bergerak menuju kebutuhan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Nusa Tenggara.

Di titik itulah Ratu Rosari mengambil peran: bukan lagi sekadar bagian dari jalur pelayaran antarpulau, tetapi menjadi jembatan kehidupan yang membawa orang Flores menuju pendidikan, perdagangan, pekerjaan, pelayanan, dan kesempatan baru.

Lautnya tetap sama sebagai ruang penghubung, tetapi zaman, tujuan, dan manusia yang melintasinya telah berubah. Mondego, Santa Catarina, dan Ratu Rosari menjadi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana laut menghubungkan Flores dengan dunia yang lebih luas.

Warisan yang Tidak Tenggelam

Ratu Rosari mungkin tidak lagi berlayar seperti dahulu.

Namun, sejarahnya tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah melihatnya, menaikinya, menunggu kedatangannya, atau menggantungkan perjalanan mereka kepadanya.

Bagi Flores, Ratu Rosari adalah bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah pulau yang dipisahkan oleh laut dapat terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Ia membawa lebih dari sekadar penumpang dan barang.

Ia membawa pendidikan, pelayanan, perdagangan, pembangunan, dan harapan.

Karena itu, ketika berbicara tentang sejarah transportasi laut Flores, nama Ratu Rosari layak ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan panjang masyarakat Nusa Tenggara.

Laut adalah jalan.
Kapal adalah jembatan.
Dan Ratu Rosari pernah menjadi salah satu jembatan penting itu.

REFERENSI

1. HIDUP No. 22, 31 Mei 2020 — “Berlayar Bersama Sang Ratu”
2. HIDUP No. 22, 31 Mei 2020 — “Pastor Antonio Camnahas, SVD: Misi SVD dan Transportasi Laut”
3. Karel Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808–1942, 2005, Ledalero.
4. Alfonso de Castro, As Possessões Portuguesas na Oceania, Lisboa, Imprensa Nacional, Portugal, 1867. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan