Kenapa Nelayan Wuring di Sikka Menyelam Tanpa Alat Bantu?
MAUMERE, dewadet.com-Nelayan Suku Bajo (Bajau) mendiami Kampung Wuring di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Provinsi NTT mampu beradaptasi dalam kondisi kurang oksigen menyelam hingga puluhan meter ke dalam laut tanpa alat bantu pernapasan. Variasi genetik menjadi hal spesifik,meski gaya hidup dan kondisi saat ini bisa mengubahnya dan berdampak negatif.
Ahli Genetika dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Prof. Herawati Supolo Sudoyo, MS,.PhD, menyampaikan kepada wartawan, Senin 2 Februari 2026 di Klinik Agradece, Jalan Trans Utara Pulau Flores.
Ia hadir di Maumere memaparkan hasil riset yang berlangsung tanggal 17-22 Juli 2023 mencakup 266 responden berusia 22-85 tahun, terdiri dari 154 perempuan dan 112 pria. Riset tersbut merupakan kolaborasi Varian Bio dan Klinik Utama Agradece.
Ia mengatakan, variasi genetik yang khas pada orang Bajo merupakan warisan leluhur selama bergenerasi yang memiliki tradisi penyelaman di lautan.
Baca juga:Riset MRIN-UPH, Obesitas, Asam Urat, dan Ginjal Diderita Suku Bajo Wuring dan Nangahale
Mengapa nelayan Bajo mampu menyelam tanpa alat bantu dan bisa bertahan lebih lama di dalam air? “Mereka punya limpa yang besar. menjadi sumber produksi darah merah. Hemoglobin yang ada di dalam sel darah merah, fungsinya untuk metabolisme oksigen (O2). Oksigen itu yang diperlukan, sehingga mereka mampu mengunakan oksigen jauh lebih lama dibanding yang lain,” kata Prof.Herawati.
Keunikan kedua pada Suku Bajo, demikian Prof.Herwati, tekanan air laut terhadap telinga sangat besar bahkan bisa bikin gendang telinga pecah dari orang normal. Tenyata ada gen tertentu yang ada di dalam tubuh suku Bajo yang menyebabkan mereka tahan terhadap situasi di dalam laut.
Beberapa gen itu, kata Prof. Herewati menyatu sehingga menciptakan pertahanan terhadap tekanan. Ada gen akan bekrja. Hal ini menyebabkan mereka unik, dan keunikan terjadi karena manusia beradaptasi dengan lingkungan.
“Makanya lingkungan harus dijaga. Kalau mereka berhenti, saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada 50 tahun mendatang. Karena sekarang sudah modern, tidak pakai lagi. Mereka hanya pakai kaca mata dari kayu,” imbuh Prof. Herawati. *





