Ketika Sejarah Diabaikan: Jalan Tanpa Nama di Tanah Kaya Warisan

Nama para misonaris Eropa yang berkarya di wilayah Sikka. (dok sisco pati).

Oleh: Fransisco Soarez Pati

PENAMAAN jalan bukan sekadar urusan administratif, melainkan cerminan identitas, sejarah dan arah kebudayaan suatu daerah. Ia adalah penanda ingatan kolektif—siapa yang dihormati, nilai apa yang dijunjung, dan sejarah mana yang dipilih untuk terus hidup dalam ruang publik.

Gagasan memberi nama ruas jalan dengan nama para misionaris Katolik di Maumere, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur lahir dari kesadaran menghargai akar sejarah wilayah yang kelak menjadi bagian dari NKRI, khususnya peran para misionaris Portugis dan Belanda dalam membentuk fondasi iman, pendidikan dan peradaban di Pulau Flores.

Medio April 2025, dalam sebuah pertemuan di rumah pribadi Bupati Sikka, saya bersama Yance Moa menyampaikan gagasan ini:  “Pak Bupati, coba dipikirkan untuk memberi nama-nama peletak dasar Agama Katolik di Flores pada ruas jalan yang belum memiliki nama.”

Raut wajah serius bupati merespons. “Ini ide bagus. Nanti saya panggil dinas teknis untuk mengkaji lebih lanjut.”

Fokus usulan tersebut adalah ruas jalan lingkar luar dan jalan di wilayah lain yang belum punya identitas penamaan yang menjadi kewenangan daerah.

Nama-nama yang diusulkan memiliki dasar historis yang kuat. P. Gregorius Metz, P. C. Boelen, Br. A. van de Velde, P. T. Heslinga, P. H. Rijcke Vorsel, dan P. H. de Ruiter, misionaris ordo Serikat Yesus penerus karya misi Dominikan Portugis yang dimakamkan di Pekuburan Santo Yoseph Maumere.

Selain itu, P. Antonius Ijseeldijk, SJ, pastor Jesuit terakhir di Paroki Koting (1885–1920) sebelum misi Katolik Flores diserahkan kepada misi Serikat Sabda Allah (SVD). Misionaris Portugis seperti Antonio de S. Jacinto, Christavão Rangel, Rafael da Veiga, Miguel Rangel, dan Antonio Tavaiera turut diusulkan menghormati sejarah awal Gereja di Flores.

Ternyata di Kabupaten Sikka, gagasan tersebut tidak mendapatkan tindak lanjut kebijakan. Sebaliknya ide serupa justru terealisasi di wilayah lain di Kabupaten Timor Tengah Utara. Nama santo dan santa diberikan penamaan jalan di Kota Kefamenanu, ibukota kabupaten di Pulau Timor.

Jika fenomena ini ditempatkan dalam konteks nasional, muncul pertanyaan penting: mengapa penamaan jalan berbasis tokoh agama tertentu sangat lazim dan bahkan dominan di satu konteks sosial, tetapi tidak selalu mendapatkan respons serupa di konteks lain, meskipun memiliki kekuatan sejarah yang sebanding?

Di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Malang, Cirebon, Kudus, Gresik dan lainnya nama jalan yang merujuk pada tokoh-tokoh penyebar Islam sangat mudah ditemukan.

Sebutlah Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Sunan Ampel, Jalan Sunan Gunung Jati, serta nama-nama lain dari para Wali Songo. Nama-nama tersebut diterima masyarakat setempat sebagai penghormatan terhadap sejarah penyebaran agama dan kontribusi para ulama membentuk peradaban masyarakat.

Penamaan ini dianggap wajar, legitim, dan bahkan penting dalam membangun kesadaran kolektif. Dalam kerangka yang sama, usulan penamaan jalan dengan nama misionaris Katolik di Maumere seharusnya juga dipandang sebagai penghargaan terhadap sejarah lokal, bukan sebagai simbol eksklusivitas.

Perbandingan ini memperlihatkan adanya ketimpangan respons—bukan pada level aturan formal, tetapi pada level keberanian mengambil kebijakan. Apa yang dengan mudah dilakukan dalam satu konteks sosial-budaya, ternyata tidak selalu mendapatkan ruang dalam konteks lainnya, meskipun memiliki dasar historis yang kuat.

Pada akhirnya, penamaan jalan adalah soal keberpihakan pada ingatan kolektif. Apakah sebuah daerah berani mengakui dan merawat sejarahnya sendiri, atau justru ragu untuk menampilkannya di ruang publik?

Kisah dari Maumere ini menunjukkan bahwa gagasan yang kuat tidak selalu langsung diterima, tetapi juga tidak pernah benar-benar hilang. Ia bisa berpindah, menemukan ruang baru dan membuktikan relevansinya di tempat lain seperti yang terjadi di Kefamenanu.

Pertanyaannya kini kembali ke daerah asal gagasan itu: apakah suatu saat nanti keberanian yang sama akan muncul untuk mengabadikan sejarahnya sendiri?

Nama para misonaris Eropa yang berkarya di wilayah Sikka. (dok sisco pati).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan