Kenangan Longginus Abong, Anggota Perdana Kopdit Obor Mas, Pinjaman Pertama Beli Tape Recorder
MAUMERE,dewadet.com-Tahun 1972, Longginus Abong baru saja menyelesaikan pendidikan guru di SPG Don Bosco Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Cita-cita menjadi guru sudah didambakannya sejak menempuh pendidikan sekolah dasar di Nita, kampung halamanya.
Setempat pendidikan SPG, Longginus menjadi guru honor di SMP Kimang Buleng, Nita. Hanya beberapa bulan mengajar, ia diangkat pegawai negeri sipil. Gaji pertama Rp 2.000/bulan terdiri dari gaji pokok dan tunjangan.
Pengalaman semua guru, gaji tidak selalu dibayar tepat waktu. Betapa sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.
Baca juga:GM Kopdit Obor Mas ‘Beri Habis’ Pengetahuan dan Pengalaman di Bimtek RAPB 2026
“Saat itu memang ekonomi susah sekali e… Tapi itu tidak jadi halangan bagi saya untuk terus mengabdi,” ujar Longginus, dituangkan dalam buku Terus Menjadi Cahaya, 50 Tahun Kopdit Obor Mas.
Baru seumur jagung ebagai guru yang baru diangkat, Longginus memutuskan bergabung menjadi anggota Credit Union (CU) Obor Mas. Ajakan Remigius Sinantong Parera, menjabat Kepala Tata Usaha Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten Sikka tak bisa ditolaknya.
“Saya takut tolak ajakan itu. Memang, saya sudah kenal CU karena sebelumnya ada saudara saya namanya Sabinus Abong menggagas pembentukan CU di Nita,” kisah Longginus tentang CU. Meski CU yang diirintis Sabinus tak berjalan, karena keburu berangkat ke Salatiga mengikuti kursus.
Ajakan Remigius diakui Longginus diterima senang hati, sejalan tugasnya mengajar pendidikan koperasi di SMPK Kimang Buleng. Lebih daripada itu ia juga tak bisa tolak tawaran, khawatir dinilai menentang atasan bisa-bisa dimutasi.
Baca juga:Tahun ke-10 Kopdit Obor Mas Mengelola KUR: Lolos Audit Menkop, Menkeu, BI dan OJK
Longginus menjadi anggota CU Obor Mas dengan nomor buku anggota 30. Nomor tersebut diwariskannya hingga ia pergi selamanya, Selasa 3 Februari 2026 di RSUD dr.TC. Hillers Maumere.
Di masanya menjadi anggota CU Obor Mas, di Maumere sudah ada bank BRI. Hanya saat itu hampir tidak ada warga yang bisa pinjaman uang dari bank. Andalanya meminjam uang dari tengkulak dengan bunga mencekik.
“Dulu kita jual kopra. Tapi juga tidak semua petani punya kebun kelapa yang banyak. Jual ternak, tak mungkin juga sekali ke pasar langsung laku. Bisa berminggu-minggu, kalau kebutuhan sudah mendesak jual murah sudah e,” ujarnya mengenang.
Jabatan guru dan pegawai waktu menurut Longginus termasuk susah. Ke mana-mana andalkan jalan kaki. Paling kuat bisa beli sepeda pancal. Ia sendiri baru bisa beli sepeda ketika pensiun dari guru karena harus fokus membiayai kuliah anak-anaknya.
Baca juga;:Penghargaan Ketiga Kopdit Obor Mas,”Dari Lilin Kecil di Pelosok, Kami Terus Bersinar”
Kenangan yang tak dilupakan oleh Longginus di tahun 1973, setahun setelah CU Obor Mas terbentuk. Dia meminjam Rp 40.000 dari CU Obor Mas, digunakan membeli tape recorder.
Punya tape recorder seperti punya barang paling mewah. Setiap kali pesta atau hajatan yang butuh musik, dia dimintai membawa tape recorder.
“Saya paling sering diundang ke pesta bawa tape itu untuk bikin ramai suasana pesta. Orang-orang duduk berkerumun mendengar lagu-lagu yang diputar dari kaset-kaset itu. Wah kita benar-benar jadi pusat perhatian,” ceritanya sambil tertawa.
Semenjak menjadi anggota perdana CU Obor Mas, Longginus mempertahankannya. Dikala mengalami kesulitan keuangan untuk segala macam urusan di rumah tangga, Longginus mengandalkan pinjaman ke CU Obor Mas.
Baca juga;Penghargaan Ketiga Kopdit Obor Mas,”Dari Lilin Kecil di Pelosok, Kami Terus Bersinar”
“Andaikan dulu kami tidak mau, tidak mungkin CU Obor Mas sampai sebesar ini,” ujar Longginus.
Longginus, salah satu dari 98 anggota perdana Kopdit Obor Mas. Kebanyakan anggota perdana sudah pergi selamanya menghadap Sang Khalik.
Semasa hidup, ia mengaku bangga menyaksikan berbagai kemajuan dicapai Kopdit Obor Mas. Dari semua hanya punya 98 orang anggota, kini menghimpun 150 ribu anggota. Semula modal hanya Rp 105.500, kini mendekati Rp 1,5 Triliun. Selamat jalan guru Longginus. Warisan para anggota akan terus dijaga!





