Brasil, Timor Leste dan Flores: Jejak Perbudakan dalam Jaringan Global Portugis
Oleh: Fransisco Soarez Pati
BRASIL, sebuah negara di Benua Amerika Selatan. Jauh sebelum meraih kemerdekaannya pada 7 September 1822, negeri yang kini dikenal sebagai “negara sepak bola” ini merupakan wilayah kolonial Portugis berlangsung lebih dari tiga abad.
Kehadiran Portugis di Brasil dimulai melalui ekspansi maritim Pedro Álvares Cabral pada tahun 1500. Ketika itu dalam pelayarannya dari Portugal menuju India, ia terdorong arus laut ke arah barat dan akhirnya mendarat di pesisir timur Amerika Selatan, tepatnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Bahia.
Sejak saat itu, Brasil mulai masuk dalam orbit kekuasaan Portugis. Wilayah itu kemudian berkembang menjadi sistem kolonial yang terstruktur di bawah administrasi Estado do Brasil. Tokoh seperti Tomé de Sousa diangkat sebagai gubernur pertama pada 1549 hingga masa akhir dominasi kolonial awal pada abad ke-19 sebelum kemerdekaan 1822. Dominasi panjang ini turut menjadikan Bahasa Portugis sebagai bahasa utama yang bertahan hingga hari ini.
Brasil kemudian berkembang menjadi salah satu pusat paling penting dalam sejarah kolonial Portugis di Amerika. Wilayah ini dibangun sebagai koloni berbasis ekonomi perkebunan, terutama tebu, kopi, dan pertambangan, yang sangat bergantung pada tenaga kerja paksa dalam skala besar.
Selama lebih dari tiga abad, Brasil menjadi bagian utama dari sistem ekonomi Atlantik Portugis yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan Amerika dalam satu jaringan perdagangan global yang ditopang oleh pergerakan komoditas, sekaligus manusia yang diperbudak.
Dalam perspektif sejarah global, Brasil tidak berdiri sendiri. Wilayah tersebut merupakan simpul dari jaringan kekuasaan Portugis yang meluas dari Atlantik hingga Samudra Hindia. Jaringan ini menghubungkan Afrika, Eropa, dan Asia dalam satu sistem kolonial yang kompleks, di mana manusia, barang, dan komoditas bergerak melalui jalur laut yang saling terhubung.
Di Asia Tenggara, Portugis telah membangun kehadiran sejak awal abad ke-16 setelah merebut Malaka pada 1511. Dari titik ini mereka memperluas pengaruh ke wilayah timur, termasuk Maluku, Solor, Flores, dan Timor.
Dalam catatan kolonial, kawasan ini sering disebut sebagai ilha de Timor serta ilhas de Flores, yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut dipandang sebagai bagian dari jaringan administrasi Estado da Índia yang berpusat di Goa.
Di kawasan Nusa Tenggara Timur, sejumlah wilayah menjadi bagian dari jaringan tersebut. Pulau Solor dan Adonara berfungsi sebagai titik kontak awal Portugis dengan kerajaan-kerajaan lokal. Di Flores, pusat-pusat penting berkembang di Larantuka, Ende, Paga, dan Sikka. Sementara di Timor, wilayah seperti Kupang, Lifau, Oecusse, Atapupu, dan sekitarnya menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan dan kontrol kolonial.
Dalam sistem ini, selain komoditas seperti kayu cendana dan lilin, juga terdapat praktik perdagangan manusia dalam berbagai bentuk. Sejumlah sumber kolonial menyebut kategori escravos asiáticos, yaitu budak dari wilayah Asia yang mencakup India, Maluku, dan Nusa Tenggara. Walaupun skalanya jauh lebih kecil dibanding perdagangan budak Afrika di Atlantik, keberadaan mereka menunjukkan bahwa sistem perbudakan Portugis bersifat global dan lintas samudra.
Rute pergerakan manusia dalam jaringan ini sangat kompleks. Dari Flores dan Timor, individu dapat dipindahkan ke Malaka atau Makau, kemudian ke Goa sebagai pusat administratif Portugis di Asia. Dari Goa, sebagian jaringan terhubung ke Mozambik di Afrika Timur sebagai titik transit menuju Atlantik. Dari sana, para budak dibawa ke Brasil, terutama ke wilayah perkebunan seperti Bahia, Pernambuco, dan Rio de Janeiro.
Namun demikian, bukti langsung mengenai individu dari Flores atau Timor yang sampai ke Brasil masih sangat terbatas dalam arsip sejarah. Karena itu, kajian modern menempatkan hal ini sebagai kemungkinan historis dalam kerangka jaringan kolonial Portugis, bukan sebagai data yang sepenuhnya terdokumentasi.
Dalam konteks ini, muncul pula perdebatan mengenai jejak individu Asia dalam sistem perbudakan Atlantik. Dalam beberapa pola pencatatan kolonial Portugis, budak atau orang yang dibaptis sering diberi nama Kristen seperti João, Domingos, atau Maria, yang kemudian disertai penanda asal seperti de Angola, de Mina, atau de Benguela.
Secara teoritis, pola yang sama juga memungkinkan munculnya nama seperti Domingos de Solor atau Maria de Timor. Namun hingga saat ini, tidak ada bukti arsip yang sudah diverifikasi secara luas mengenai individu dengan nama tersebut di Brasil kolonial. Arsip gereja, notaris, dan perkebunan masih sangat besar dan belum seluruhnya terdigitalisasi.
Dalam konteks Brasil kolonial, sistem perbudakan melahirkan struktur sosial yang kompleks sekaligus ruang-ruang perlawanan. Salah satu yang paling terkenal adalah Quilombo dos Palmares, komunitas besar budak pelarian yang berkembang di wilayah pedalaman Brasil timur laut. Palmares menjadi simbol penting perlawanan terhadap sistem perbudakan yang berlangsung selama berabad-abad.
Jejak panjang perbudakan ini masih memiliki resonansi dalam masyarakat Brasil modern. Setiap 20 November, Brasil memperingati Dia da Consciência Negra (Hari Kesadaran Kulit Hitam), sebagai hari refleksi nasional untuk mengenang perjuangan masyarakat keturunan Afrika yang diperbudak serta tokoh Zumbi dos Palmares sebagai simbol resistensi terhadap kolonialisme.
Dalam perkembangan sejarah Brasil modern, mayoritas keturunan budak berasal dari Afrika dan membentuk komunitas Quilombola yang masih eksis hingga kini serta diakui secara resmi oleh negara. Sebaliknya, diaspora Asia termasuk kemungkinan dari Nusantara tidak membentuk komunitas tersendiri karena jumlahnya sangat kecil dan kemudian melebur dalam masyarakat kolonial.
Sejarawan seperti Charles R. Boxer, Anthony Reid, Hans Hägerdal, dan Geoffrey C. Gunn, menunjukkan bahwa meskipun perdagangan budak Portugis didominasi oleh Afrika dalam sistem Atlantik, jaringan Asia tetap menjadi bagian dari sistem global tersebut. Asia Tenggara, termasuk wilayah seperti Timor dan Flores berada dalam orbit ekonomi Portugis yang lebih luas melalui jalur perdagangan dan mobilitas kolonial.
Dalam perspektif ini, Flores dan Timor tidak dapat dilihat sebagai wilayah pinggiran, melainkan bagian dari sistem global awal modern yang menghubungkan tiga benua. Kolonialisme Portugis menciptakan ruang interkoneksi yang tidak hanya memindahkan barang dan kekuasaan, tetapi juga manusia, budaya, dan identitas dalam bentuk yang seringkali tidak sepenuhnya tercatat dalam arsip sejarah.
Sejumlah misionaris Katolik dari ordo Serikat Sabda Allah (SVD) berbasis di Pulau Flores yang pernah bertugas di Brasil, khususnya di wilayah Brasil bagian utara dan timur laut mencatat adanya sejumlah kesan kultural yang menurut mereka menunjukkan kemiripan tertentu dengan kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste. Namun kemiripan ini lebih tepat dipahami sebagai konvergensi budaya dalam kondisi sosial dan geografis yang serupa, bukan bukti hubungan genealogis langsung.
Arsip-arsip penting untuk menelusuri jaringan ini meliputi Arquivo Histórico Ultramarino di Lisbon, Arquivo Nacional Brasil, Nationaal Archief di Belanda, Biblioteca Nacional do Brasil, serta Trans-Atlantic Slave Trade Database.
Kajian akademik modern yang sering digunakan antara lain karya Charles R. Boxer, Luiz Felipe de Alencastro, Herbert S. Klein & Francisco Vidal Luna, Anthony Reid, Hans Hägerdal, serta Geoffrey C. Gunn yang secara kolektif memberikan kerangka untuk memahami keterhubungan dunia Portugis dari Asia hingga Atlantik dalam konteks perdagangan, kolonialisme, dan mobilitas manusia lintas benua.
Adapun rujukan utama yang digunakan dalam kajian ini meliputi Alencastro (O trato dos viventes, 2000), Boxer (The Portuguese Seaborne Empire, 1969; O império marítimo português, 2002), Freyre (Casa-Grande & Senzala, 1933), Klein & Luna (Slavery in Brazil, 2010), Mattoso (To Be a Slave in Brazil, 1550–1888, 1986), Reid (Southeast Asia in the Age of Commerce, 1993), Hägerdal (kajian tentang Timor dan Asia Tenggara serta perspektif baru perdagangan budak di Asia), Gunn (Timor Loro Sae: 500 Years, 1999), Pearson (Port Cities and Intruders, 1998), Silva (A manilha e o libambo, 2002), Ames (The Globe Encompassed, 2008), serta Paula Lima (Brazil and the Afro-Asian World: A Decolonial Approach, 2022). *
Editor: Eginius Moa




