Lipa Prenggi Motif Dala Mawarani di Bahu Jokowi, Simbol Sukses Pria Parkasa

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago mengalungkan selembar Lipa Prenggi ke bahu Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, Rabu 16 September 2026 di Bandara Frans Seda Maumere. (dewadet,com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-Joko Widodo (Jokowi), Presiden ketujuh Republik Indonesia (RI) menjejakan kakinya kembali di Nian Tana Sikka, Kota Maumere, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu  16 September 2026. Pukul 13.00 WITA.

Tak banyak yang berupah dari penampilan mantan Walikota Solo di Provinsi Jawa Tengah. Pakainnya tetap sederhana seperti yang sering  dikenakan semasa menjabat Presiden RI dua peroiode sebelum digantikan Prabowo Subianto.

Celana keki warna hitam dipadu kemeja putih lengan panjang dan topi putih menutupi kepalanya. Senyumnya diberikan kepada setiap yang menerimanya turun dari Pesawat NAM Air di Bandara Frans Seda Maumere.

Jokowi ditemani putra bungsu, Kaesang Pangarep,dan Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie. Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago menjemput bersama anggota Forkompimda Sikka, dan Pelaksana tugas (Plt) Sekda Sikka, Dr.Femmy Bapa, ST,M,Eng.

Baca juga: Jokowi, JPYK dan Kaesang Satu Mobil ke Ropa, ke Palue Numpang Kapal Kayu

JPYK, akronim Juventus Prima Yoris Kago menyalaminya. Selembar Lipa Prenggi (kain sarung tenunan untuk kaum pria Sikka) diletakan ke bahu Jokowi.

Pemilik Sanggar Lepo Lorun Nita, Alfonsa Horeng menyebut, Lipa Prenggi  motif ‘Dala Mawarani’ diberikan kepada Jokowi melambangkan  kesuksesan.

Diantara rombongan menjemput Jokowi, Kepala SMAS Katolik Bhaktyarsa Maumere, Suster Marselina Lidi, SSpS.S.Fil,Lic, hadir di Bandara Frans Seda.

Sehari sebelumnya, dia mengetahui Jokowi akan ke Maumere. Suster Marselina menyiapkan selendang Kain Prenggi untuk dikalungkan kepada Jokowi.

Baca juga:Besok, Jokowi dan Kaesang Tiba di Maumere, Bermalam di Palue

“Kemarin saya telpon Bupati Sikkka, saya sampaikan apakah saya bisa berikan selendang untuk Pak Jokowi. Pak Bupati bilang siapkan saja diserahkan,” kata Suster Marselina tentang rencana ini.

Suster Marcelina membagikan suasana yang diaalaminya mengalungkan selembar selendang kepada Jokowi dibagikan kepada wartawa setelah Jokowi bertolak ke Ropa, Kabupaten Ende dan meneruskan pelayaran dengan kapal kayu ke Palue menemui korban Gempa Flores.

Saya suster Marcelina Kepala SMASK Bhaktyarsa Maumere. Tahun lalu, sekolah kami dikiunjungi Mas Wapres (Gibran Rakabuming Raka). Terima kasih karena bapak sudah membangun Indonesia, NTT dan juga  Flores.

Tahun lalu ketika Wapres Gibran ke Maumere mengunjungi SMASK Bhaktyarsa. Sepulang dari Maumere, sekolah ini diguyur dana revitalisasi sekolah senilai Rp 1 Miliar.

Baca juga:Mobil Kemenag Nagekeo Dievakuasi dari Runtuhan Kantor Pascagempa Flores

Beliau merespon, terima kasih dan senyum sangat manis.

Saya siapkan selendang Prenggi sejak kemarin. Kain Prenggi untuk laki-laki perkasa. Laki-laki berwibawa. Ini ungkapan hati kami, apresiasi kami bahwa selendang itu sangat cocok dengan karekter Pak Jokowi. Dia bukan sekedar omong tapi simbol kepribadian Jokowi.

Saya sangat bahagia karena selama ini saya apresiasi kematangan beliau memberi reaksi atas apapun yang menimpa dirinya.

Itu yang bagi saya sebagai suster melihat beliu. Hatinya lemah lembut, sederhana dan menerima semua yang kotor datang kepada dirinya. Menurut saya hatinya mulia.

Baca juga:Pesepeda Jakarta Bahagia Terlibat Donasi Gempa Flores, Sepuluh Hari Terkumpul Rp 143,5 Juta

Saya tatap langsung. Air mata rasanya mau turun, Wajah yang bersih, pancaran dari hatinya yang jernih.

Saya melihat beliau 10 tahun yang  kita orang-orang kecil termasuk mama saya merasakan. NTT bisa maju.  Ada bendungan, ada jalan raya.

Setiap pemimpin punya masa, ada kebaikan dan kekurangan. Tapi hal yang saya lahat pada rakyat kecil ya pada Pak Jokowi.

Jokowi datang ke Maumere untuk kunjungan kepada korban gempa di Kecamatan Palue.

Baca juga:51 Ribu Rumah Selesai Verifikasi dan Validasi Pascagempa Flores, 43 Rumah Rusak Berat di Sikka

Di Kabupaten Sikka, Palau menjadi wilayah yang paling terdampak kerusakan gempa. Kecamatan dengan delapan desa di satu pulau ini letaknya tak jauh dari episentrum gempa di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo di utara Flores.

Gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada pukul 05.58 WITA, Sabtu 15 Agustus 2026 menewaskan 135 orang, merusak ribuan rumah warga, bangunan milik pemerintah dan sosial, jalan dan jembatan di tujuh kabupaten di Pulau Flores yakni, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan