Penanggulangan AIDS di Sikka Terkendala Stigma dan Diskriminasi, Kena HIV Artinya Bermoral Buruk
MAUMERE,dewadet.com-Penanggulangan kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka terhambat stigma dan diskriminasi, distribusi ARV dan keterbatasan edukasi kesehatan seksual kepada masyarakat.
“Stigma dan diskriminasi membuat banyak orang takut test HIV. Orang selalu mengaitkan HIV dengan moral, artinya mereka yang terkena HIV adalah orang yang moralnya buruk,” kata Ketua Pelaksana Komisi Penggulangan AIDS Kabupaten Sikka, Simon Subandi, dalam konferesi pers di Kantor Bupati Sikka, Kamis 27 November 2025.
Simon juga membeberkan distribusi ARV dari pemerintah pusat belum merata, berdampak terhadap keberlanjutan ARV tidak stabil, menghambat daerah menambah layanan pengobatan, dukungan dan pengobatan (PDP) ke Puskesmas.
“Masyarakat masih merasa tabu membicarakan masalah kesehatan seksual di rumah,” ujar Simon dalam jumpa pers dihadiri Sekretaris KPA Sikka, Yohanes Siga, dan Kepala Dinas Infokom, Veri Awales.
Baca juga:Tahun 2030, Tak Ada HIV Baru pada Bayi dan Kematian karena AIDS di Sikka
Simon mengatakan peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025 mengusung tema “Besama Hadapi Perubahan: Jaga Keberlanjutan Layanan HIV” mencerminkan semangat untuk bangkit dari berbagai tantangan yang menghambat capaian.
Simon juga mengemban jabatan Wakil Bupati Sikka menjelaskan peringatan Hari AIDS Sedunia mengemban enam tujuan. Pertama, memperkuat komitmen global melawan HIV-AIDS, kedua meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit HIV-AIDS, ketiga mengedukasi masyarakat tentang pencegahan.
Keempat memberikan dukungan moral bagi orang dengan HIV, kelima menghilangkan stigma dan diskriminasi serta memperkuat solidaritas. Keenam merayakan keberhasilan para ahli dalam menanggulangi HIV-AIDS, mengapresiasi mitra pembangunan yang telah berkontribusi dalam mempertahankan capaian dan memperluas layanan HIV. Ketujuh, mendorong kebijakan kesehatan untuk peningkatan akses layanan, pengobatan dan pencegahan.
Memperigati Hari AIDS Sedunia 2025, KPA Sikka melakukan edukasi melalui KIE dan mobile VCT bagi kelompok beresiko di Paga, warga binaan pemasyarakatan (WВР) di Rutan Maumere. KIE untuk pelajar dan mahasiswa Muhamadyah Maumere, KIE dan mobile CVT bagi buruh proyek di Wailiti dan Nangablo, KIE kepada warga Desa Watugong dan Desa Tebuk, penguatan kapasitas bagi populasi kunci PSP di Selter Truk F, serta penguatan kapasitas dan mobile VCT bagi populasi kunci di Morena Salon.
Baca juga:Ibu Rumah Tangga dan Petani di Sikka Dominasi Penderita HIV dan AIDS
Di Kabupaten Sikka, HIV dan AIDS menjangkiti 1.225 orang, terbanyak ibu rumah tangga (IRT) 299 orang, disusul petani 199 orang, akumulasi datya sejak 2003 sampai Juli 2025.
Peringkat ketiga profesi terbanyak pekerja swasta 191 orang dan kelompok tidak bekerja 67 orang dan sopir sebanyak 66 orang.
Selanjutnya penderita berprofesi buruh 54 orang, lain-lain profesi sebanyak 54 orang, karyawan 52 orang. Kelompok PNS, TNI dan Polri 40 orang, mahasiswa 35 orang, ojek 27 pendferita dan mahasiswa 35.
Kemudian PSK 41, Balita 24 orang, pelajar 13 orang, Satpam 9 orang, waria 7 orang, koki 1 orang, ABK 6 orang, nelayan 17 orang, tidak diketahui 17 orang, perawat dan biarawan masing-masing 1 orang, dan lain-lain profesi 54 orang.
Baca juga: 1.225 Penderita HIV dan AiDS di Sikka, Terbanyak AIDS 857 Orang
Menurut jenis kelamin meliputi 773 laki-laki dan 452 orang.perempuan. Penderita berdasarkan usia terbanyak pada usia 25-49 tahun sebanyak 894 orang. Usia 50 tahun keatas 100 orang, usia 20-24 tahun sejumlah 165 orang. Kemudian usia 1-14 tahun terdapat 43 orang, usia 15-19 sebanyak 15 orang, bahkan usia dibawah satu tahun terdapat delapan penderita. *
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





