ENDE, dewadet.com- Predikat Kota Ende di Pulau Flores sebagai Kota Sejarah menyiimpan warisan masa lalu tak banyak diketahui.

Tahukah anda bahwa salah satu film dokumenter tertua tanpa audio, ‘Ria ‘Rago dibuat di Ende?

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, ingatkan kembali sejarah film itu dan jalan ceritanya tentang kawin paksa berdurasi dua jam.

“Kita mesti buat lagi film ini. Ayo Pak Bupati Ende. Ini film tertua.  Kan belum ada yang klaim, kita bikin duluanlah,” ajak Melki Laka Lena kepada Bupati Ende, Yosef Badeoda, dalam pembukaan RAT tahun buku 2024 Kopdit Obor Mas di KCU Ende, Sabtu siang 24 Mei 2025.

Baca Juga: Hari Ini,18 Mei 2025 Misa Pelantikan Paus Leo XIV

“Ceritanya ada orang yang punya hutang kepada seseorang yang kaya. Karena dia tidak bisa bayar, anaknya (perempuan) diambil,” cerita Melki.

Ketua DPD Partai Golkar NTT ini juga mengajak Bupati Ende membangun monumen film ini di Ndona.

“Saya punya ayah dan ibu juga asal Ndona. Kita mesti bikin monumennya,” kata Melki Laka Lena.

Ria Dipaksa Nikah dengan Dapa Doki

Dikutip dari eastjourneymagz.com, Siti Nurbaya merupakan Novel Indonesia yang ditulis oleh Marah Rusli dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka.

Baca Juga: Paus Leo XIV Akan Terima Cincin Nelayan, Simbol Penerus Santo Petrus

Film ini mengisahkan bagaimana martabat perempuan direndahkan. Nurbayah dinikahkan dengan Datuk Maringgih, seorang hartawan  gapi  berperilaku kasar. Ayah Nurbaya mendapat keuntungan dari pernikahan itu karena bisa bebas dari berbagai utang.

Kisah kawin paksa ini juga terjadi di Flores dalam film Ria Rago. Gadis yang beragama Katolik berasal dari Desa Noea Nelloe dipaksa oleh orangtuanya untuk menikah dengan Dapa Doki.

Ia direncanakan untuk menjadi istri kedua Dapo Doki yang berbeda keyakinan dengannya. Ria tidak menyetujui pernikahan tersebut meski maharnya sangat besar.  Ia tidak mencintai lelaki itu, apalagi lelaki itu sudah memiliki istri.

Ria Rago mempertahankan imannya meski ia harus diikat dan dipaksa menikah. Ia terus berdoa sembari memegang erat Rosario di tiang tempat ia diikat.

Baca Juga:Kenali Ordo Agustinian, Ordo Paus Leo XIV

Ria Rago merupakan tokoh utama dalam film ini. Latar filmnya menggambarkan suasana masyarakat Ende zaman itu.

Film ini ditulis tahun 1930 oleh Pastor Simon Buis asal Belanda yang terkenal di masanya. Pastor Simon Buis (1892-1960) dari Kongregasi Sabda Allah (Societatis Verbi Divina– SVD).

Film dari Flores ydiedit olehnya dari tahun 1925 menginspirasi banyak orang untuk menjadi seorang misionaris.

Juru kamera asal Jerman, Willy Rach. Pada 1930 ia membuat film misionaris baru yang sekali lagi diputar di Flores: Ria Rago.

Dia dibantu Pastor Pastor Piet Beltjens. Judul lengkap film ini Ria Rago, pahlawan wanita di lembah Ndona.

Kehidupan pengorbanan dan kematian. Pengorbanan seorang gadis muda Krsiten.

Film dokumenter berjudul “Ria Rago” menggambarkan kondisi Ende zaman itu dalam kesehariannya.

Latarnya merupakan perkampungan zaman dulu diangkat dari cerita rakyat di Ndona Ende pada tahun 1923. Film ini tidak ada audio dan menjadi salah satu film dokumenter tertua ditayangkan hampir dua jam tersebut tampak juga latar belakang biara para misionaris, rumah sakit dan panti. *

 

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan