Komunikasi Meretas Konflik Masyarakat dan Peradaban Modern (Refleksi Kritis Hari Lahirnya Pancasila dan Hari Komunikasi Sosial Sedunia)
Oleh: Dr. Jonas KGD Gobang, S.Fil.,M.A. (Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Nipa_
PERINGATAN Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni tahun 2025 ini bersamaan dengan peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59. Tentu saja kedua peringatan ini mesti memberikan makna bagi segenap masyarakat di wilayah Nusantara khususnya di Pulau Flores atau Pulau Naga (Nusa Nipa nama asli Pulau Flores).
Bagaimana cara kita memberikan makna tentu saja setiap kita memiliki caranya yang khas. Salah satu dari sekian banyak cara adalah melakukan refleksi kritis atas berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat kita.
Penulis ingin melukiskan fenomena itu sebagai sebuah konflik di tengah masyarakat bangsa yang menganut ideologi Pancasila sebagai sebuah “rumah kita bersama” dan kemajuan peradaban modern yang kian pesat di masa kini. Apakah “rumah kita bersama” mampu bertahan kokoh menghadapi terpaan badai kemajuan teknologi digital abad ini? Konflik masyarakat Pulau Flores dengan peradaban modern menjadi suatu fenomena baru yang muncul ketika media sosial telah masuk hingga ke pelosok desa di Pulau Flores.
Apalagi dengan temuan terbaru teknologi komunikasi digital menghadapkan masyarakat di Pulau Flores pada dua tegangan. Di satu pihak teknologi komunikasi itu semakin memudahkan komunikasi antar masyarakat di wilayah dengan kondisi geografis dan topografis yang berbukit-bukit itu. Tetapi di pihak lain teknologi komunikasi itu pun menghilangkan sebagian identitas khas dimiliki oleh orang-orang Flores. Memang hal ini belum merambah seluruh masyarakat Flores pada umumnya, tetapi fenomena ini menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati. Yang dimaksudkan dengan hilangnya sebagian identitas khas orang Flores adalah sebagian kaum perempuan di Flores menjadi “tidak percaya diri” dengan kondisi fisik mereka, seperti : berambut ikal (keriting), berkulit sawo matang/coklat, dan berbusana sarung tenun.
Baca Juga:Gubenur NTT Jadi Irup Hari Lahir Pancasila di Ende
Mereka lebih terobsesi dengan reklame kecantikan di mana tubuh-tubuh ideal biasanya ditampilkan dalam majalah, film, televisi, dan dunia periklanan, yang menggambarkan atau menyajikan sosok perempuan ideal sebagai suatu figur perempuan yang langsing, berambut lurus terurai, berkaki indah, paha, pinggang dan pinggul ramping, payudara cukup besar, dan kulit putih mulus.
Nah … memang berdampak menguntungkan bagi yang membuka bisnis salon kecantikan. Laris manis…!, khususnya dalam upaya meluruskan rambut-rambut ikal (keriting) perempuan-perempuan hampir di semua wilayah di Pulau Flores. Kain tenun yang selalu diburu oleh banyak wisatawan domestik dan mancanegara, rupanya tidak lagi dikenakan oleh sebagian besar masyarakatnya sehingga mendorong pemerintah daerah mencanangkan hari berbusana tenun daerah bagi para pegawai negeri.
Gadis-gadis desa pun enggan ke ladang dan bergabung dengan kelompok-kelompok tani, karena takut kalau kulit mereka menjadi hitam. Mereka mengganti molang (ramuan tradisional yang biasa dipakai untuk menjaga kulit khususnya kaum perempuan) dengan berbagai cream pemutih kulit yang ditawarkan oleh iklan di media (televisi, majalah atau media on line).
Konflik dengan peradaban modern ini pun berdampak pada menurunnya rasa bangga pada budaya sendiri. Sehingga upaya untuk melestarikan budaya dengan cara belajar juga mengalami kemerosotan. Masih beruntung di bidang pendidikan, pemerintah mencanangkan program pendidikan muatan lokal. Jika dulu persyaratan seorang wanita diinisiasi menjadi seorang wanita dewasa dan boleh dilamar oleh seorang pria adalah harus tahu menenun sarung, kini bukan menjadi kewajiban lagi bagi perempuan-perempuan di semua desa atau kampung di wilayah Pulau Flores. Terjadi suatu lompatan budaya yang sangat jauh sehingga kebudayaan warisan leluhur terancam punah. Yang sekarang menjaga tradisi budaya adalah generasi tua. Kita berharap kurikulum muatan lokal bisa membantu menjaga warisan budaya tersebut.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila Sempat Dilarang Diperingati di Masa Pemerintahan Orde Baru
Menarik sekaligus menantang ketika upaya untuk “membaca” budaya orang Flores ini terjadi dalam arus perubahan zaman atau peradaban. Menjadi menarik karena unsur-unsur budaya orang Flores masih ada hingga saat ini teristimewa pada simbol-simbol yang tentu saja mewakili sistem makna dari setiap wilayah budaya yang ada di Pulau Flores. Menantang karena unsur-unsur budaya orang Flores lambat laun tergerus oleh arus perubahan zaman atau peradaban itu sendiri.
Komunikasi Lintas Budaya
Peluang-peluang yang dapat dikembangkan untuk membangun komunikasi lintas budaya di wilayah Pulau Flores adalah sistem nilai budaya Flores, seperti: cara berpikir sosial-kolektif, kosmos-mistis, religi-magis, simbolis, moral-religius menjadi kekuatan pemersatu dalam mambangun daerah (termasuk dalam membangun NKRI). Beberapa nilai praktis sebagai penunjang pembangunan, antara lain semangat kekeluargaan, kerohanian, ketulusan, dan sopan santun telah terbentuk dalam interaksi sosial antaretnik dan lestari sampai saat ini.
Secara geografis, Pulau Flores menunjukkan warna tertentu bagi kehidupan masyarakatnya baik secara ekonomis, politis yang bersifat strategis di kawasan Indonesia bagian timur dan pintu gerbang ke kawasan Pasifik Selatan dan Australia. Kondisi geostrategis itu didukung oleh kekayaan alam, misalnya sumber daya mineral dan energi yang belum dikelola, flora dan fauna, serta aneka ragam budaya etnik. Faktor-faktor itu merupakan kekayaan terpendam sekaligus merupakan kekuatan yang dapat ditumbuhkembangkan sebagai aset ekonomi bagi kehidupan sosial masyarakat Pulau Flores.
Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Cak Imin dan Budi Arie Hadiri Misa Pelantikan Paus Leo XIV
Selain faktor geografis tersebut di atas, hasil-hasil pembangunan yang bersifat material dan imaterial telah menerobos isolasi geografis, sosial dan psikologis serta antaretnik di wilayah Pulau Flores. Hal ini merupakan bukti keberhasilan implementasi konsep dan nilai-nilai budaya melalui dialog yang hidup (komunikasi antarbudaya). Dampak positif dari urgensitas dialog lintas budaya pada masyarakat Pulau Flores dapat merangsang derap kemajuan peradaban di berbagai bidang kehidupan masyarakatnya. Dapat kita bayangkan jika wilayah dengan topografi yang berbukit-bukit ini tidak terjadi dialog yang hidup antaretnik. Tentu saja dampak negatifnya akan lebih menonjol, seperti : perang antarsuku, primordialisme yang tinggi, hubungan antaretnik menjadi tidak harmonis, saling curiga satu sama lain.
Hal lain yang perlu disadari oleh masyarakat pendukung budaya di Pulau Flores adalah sikap keterbukaan untuk belajar dari keberhasilan etnik-etnik lain, baik yang ada bersama di wilayah Pulau Flores maupun yang ada di luar Pulau Flores. Hal ini dipandang sebagai suatu terobosan yang kreatif dan dinamis.***
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





