Jumat, 12 September 2025. Hari Biasa Pekan XXIII.1 Timotius 1:1-2.12-14; Lukas 6:39-42.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Kita hidup di tengah dunia yang sarat dengan “pemimpin-pemimpin” baru di media sosial, di lingkungan kerja, bahkan di ruang-ruang rohani. Banyak orang cepat sekali memberi nasihat, menunjukkan jalan, bahkan merasa dirinya guru bagi yang lain.
Namun, realitasnya, tidak jarang mereka sendiri masih terjebak dalam kelemahan dan kegelapan. Betapa mudah kita mengikuti suara-suara bising itu, padahal suara mereka bisa saja membutakan kita, membawa kita jatuh ke lubang yang sama. Bukankah itu kenyataan hidup kita saat ini?
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius memberi kesaksian yang sangat jujur. Ia mengakui dirinya dahulu seorang penghujat, seorang penganiaya, bahkan seorang yang ganas. Tetapi, justru dalam kelemahan itu, ia mengalami belas kasih Kristus yang tak terbatas. Kristus tidak menolak, tetapi justru mempercayakan pelayanan kepadanya.
Inilah kekuatan kasih karunia: mengubah seorang pendosa menjadi pewarta Injil. Paulus ingin menunjukkan, bukan siapa kita di masa lalu yang menentukan, melainkan siapa Kristus yang menyelamatkan kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membalut Luka dengan Pakaian Kasih
Yesus dalam Injil Lukas menegaskan dengan peringatan yang tajam: “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” Yesus sedang mengingatkan para murid juga kita bahwa seorang guru sejati harus terlebih dahulu melihat dengan terang. Tidak mungkin kita menuntun orang lain kalau hidup kita sendiri masih terikat pada kebutaan rohani. Maka, menjadi murid berarti belajar terus-menerus, membiarkan diri dibentuk, sampai akhirnya kita serupa dengan Sang Guru, yaitu Kristus sendiri.
Saudari dan saudara. Bukankah kita sering jatuh pada sikap sebaliknya? Kita begitu mudah menghakimi, cepat memberi nasihat, tetapi lalai membenahi diri. Kita ingin menjadi guru bagi orang lain, tetapi lupa bahwa kita sendiri masih butuh dibimbing.
Inilah saatnya kita bercermin: apakah kita sudah membiarkan Kristus yang membuka mata hati kita, sehingga kita bisa menuntun dengan kasih, bukan dengan kesombongan?
Maka, jangan takut mengakui kelemahan kita, sebab di sanalah kasih karunia Kristus bekerja. Biarkan Dia membuka mata kita, agar kita tidak menjadi “pemimpin buta”, melainkan saksi yang sejati. Dunia membutuhkan bukan sekadar banyak guru, tetapi saksi yang hidupnya sungguh serupa dengan Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup yang Berakar dalam Kristus
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Hidup bukan tentang berapa banyak nasihat yang kita berikan, tetapi seberapa dalam Kristus telah membentuk kita.”
”Mata yang dibuka oleh kasih karunia akan menuntun, bukan menghakimi; membangun, bukan meruntuhkan.”
Tuhan memberkati kita.






