BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Merendah di Tengah Ambisi: Pelita Bagi Negeri
Minggu, 31 Agustus 2025. Hari Minggu Biasa XXII. Kitab Putra Sirakh 3:17-18,20,28-29; Surat kepada Orang Ibrani 12:18-19.22-24a; Lukas 14:1.7-14.
Oleh: RD Fidelis Dua
Saudari dan saudara terkasih, Jika kita membuka mata dan hati di negeri kita tercinta ini, realitasnya seringkali tak seindah impian. Demonstrasi yang berubah menjadi anarki, kerusuhan yang lahir dari ketidakpuasan, tunjangan pejabat yang fantastis sementara rakyat harus menanggung pajak yang menyesakkan, semua ini menegaskan betapa manusia masih sering terjebak dalam ambisi, keserakahan, dan kehendak diri sendiri.
Paus Fransiskus mengingatkan, “Ketika manusia meninggikan diri sendiri, ia lupa akan tujuan hidup yang sejati; hanya kerendahan hati membuka hati untuk kasih Tuhan dan sesama saudara.”
Dalam situasi yang penuh kegaduhan saat ini, Sabda Allah pada hari ini menuntun kita untuk menengok kembali hati dan hidup kita, menanyakan: apakah kita berani merendahkan diri untuk melayani, atau terus terjebak dalam keangkuhan dan ambisi yang semu?
Kitab Putra Sirakh menjawab pertanyaan ini dengan menegaskan, “Makin besar engkau, patutlah makin kaurendahkan dirimu, supaya engkau mendapat karunia di hadapan Tuhan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Memimpin dengan Kebijaksanaan dan Kemurahan Hati
Hidup yang besar bukan diukur oleh kedudukan atau harta, tetapi oleh kemampuan kita merendahkan diri, menghormati orang lain, dan bekerja dengan penuh hormat bagi sesama. Orang yang rendah hati lebih disayangi Tuhan dan sesama karena ia menempatkan kebaikan, tanggung jawab, dan kasih di atas ambisi pribadi.
Dalam konteks negeri kita, ini berarti para pemimpin, para wakil rakyat, dan warga negara sama-sama dipanggil untuk menegakkan keadilan, bekerja untuk kesejahteraan bersama, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri.
Namun, mengapa kenyataan sering berbeda, sehingga kerusuhan dan aksi anarkis muncul di tengah ketidakpuasan rakyat? Bukankah ini cermin nyata bahwa hati manusia mudah tergerus keserakahan, ego, dan ketidakpedulian?
Di sinilah kita diingatkan bahwa merendahkan diri bukan sekadar nasihat moral, tetapi panggilan untuk menempatkan keadilan, kasih, dan kebenaran sebagai fondasi hidup berbangsa. Ketika kepedulian kalah oleh ambisi, ketika hukum dan aturan diabaikan, maka kerusuhan menjadi suara hati yang terluka, menuntut tanggapan bijaksana, integritas, dan kepemimpinan yang rendah hati—satu-satunya jalan bagi kedamaian dan kesejahteraan sejati.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Keberanian dalam Keraguan Menuju Kehidupan
Di sini kita dipanggil untuk menempatkan hidup kita di hadapan Tuhan, bukan sekadar pada kekuasaan dunia. Pengorbanan, kerja keras, dan pelayanan kita menjadi bagian dari persekutuan ilahi, di mana setiap langkah yang tulus dan rendah hati meneguhkan kehadiran Tuhan dalam masyarakat.
Kerendahan hati membuka pintu bagi rahmat dan penguatan, menjadikan kita pelayan yang efektif, bijaksana, dan membawa kebaikan bagi sesama, seperti yang diajarkan oleh penulis Surat kepada Orang Ibrani: “ Kamu telah datang kepada Gunung Sion, kepada kota Allah yang hidup, kepada perhimpunan para malaikat, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru.”
Artinya, setiap tindakan yang didasari niat murni bukan hanya membangun hubungan harmonis dengan sesama, tetapi juga menapaki jalan suci menuju persatuan dengan Tuhan. Jika kita menempatkan kekuasaan, ambisi, atau kepentingan pribadi di atas kehendak-Nya, kita terjerat egoisme dan konflik; sebaliknya, setiap langkah yang rendah hati menumbuhkan damai, integritas, dan berkat yang nyata dalam hidup sehari-hari. Maka, kerendahan hati bukan sekadar sikap, melainkan pilihan hidup yang membawa perubahan dan menebarkan cahaya kasih Allah di tengah dunia.
Penegasan ini sekaligus menjadi pelajaran bahwa dalam dunia yang sering memuja ambisi, status, dan kekuasaan, keberanian untuk merendahkan hati, menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri adalah jalan sejati menuju kemuliaan dan berkat Tuhan. Maka sekarang, ketika kita menyaksikan ketidakadilan, demonstrasi, atau kesenjangan sosial, Injil menuntun kita untuk menahan diri dari keangkuhan, melayani dengan tulus, dan menempatkan Tuhan serta sesama sebagai pusat setiap keputusan dan tindakan.
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)Pilihan Sejati: Kesetiaan kepada Tuhan di Tengah Godaan Dunia
Yesus menegaskan, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” Artinya, kekuasaan dan prestise duniawi bersifat sementara dan rapuh, sedangkan sikap rendah hati membuka pintu rahmat yang abadi. Setiap keputusan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi menjadi saksi nyata iman, menumbuhkan kepercayaan, dan meneguhkan persatuan; sebaliknya, keangkuhan hanya menimbulkan konflik, perpecahan, dan kehilangan berkat. Maka kerendahan hati bukan sekadar kebajikan abstrak, tetapi strategi ilahi yang menuntun kita kepada kehidupan yang penuh damai, adil, dan sejahtera.
Saudari dan saudara terkasih, marilah kita meneguhkan hati untuk merendahkan ego dan ambisi pribadi demi kepentingan bersama, mengutamakan keadilan dan pelayanan tulus bagi sesama, serta menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup. Dengan kerendahan hati, setiap langkah menjadi saksi kasih, setiap tindakan menjadi jembatan perdamaian, dan setiap kata menebar cahaya bagi dunia. Semoga kita menjadi pelita yang menuntun diri, keluarga, dan bangsa menuju persatuan, harmoni, dan kemajuan sejati, dalam rahmat Tuhan yang abadi.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tetapi pintu rahmat yang menuntun kita menempatkan kepentingan sesama di atas ambisi pribadi, sehingga keadilan dan kasih Allah terwujud di dunia.”
“Barangsiapa menurunkan ego dan menempatkan Tuhan di pusat hidupnya, ia menyalakan cahaya yang menuntun diri sendiri, keluarga, dan bangsa menuju persatuan, harmoni, dan kemajuan sejati.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa





