BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Segalanya Menguncang, Peganglah yang Sejati
Kamis, 27 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXIV. Nubuat Daniel 6:12-28; Lukas 21:20-28.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih, kita hidup pada masa ketika banyak orang merasa letih oleh tekanan, kebingungan, dan arus kepentingan yang saling bertabrakan. Ada rasa gelisah yang kadang menyelinap: “Apakah yang kujalani ini benar?Akankah yang baik tetap bertahan?”
Di tengah kecemasan seperti ini, manusia sering mencari pegangan yang mudah, namun tidak selalu benar; mencari perlindungan, tetapi tidak selalu pada tempat yang sejati.
Realitas ini bukan sesuatu yang baru. Kitab Daniel dan Injil Lukas memperlihatkan bahwa sejak dahulu manusia diperhadapkan pada ketegangan antara kekuatan yang menekan dan kesetiaan yang menyelamatkan.
Dalam bacaan pertama, Daniel tidak sedang memberontak. Ia hanya tetap setia kepada Allah, sekalipun ada tekanan hukum yang ingin membungkamnya. Ketika ia dilempar ke gua singa, seolah-olah semuanya berakhir. Namun justru di tempat yang paling menakutkan itu, Allah memperlihatkan bahwa kesetiaan lebih kuat daripada ancaman apa pun.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup yang Tidak Ditemukan Terlalu Ringan
Di sini kita belajar apa yang dikatakan filsuf kontemporer Charles Taylor: “Manusia hanya menemukan dirinya yang sejati ketika ia berdiri pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.”
Daniel berdiri pada Allah dan Allah bertindak. Ketika ia keluar dari gua tanpa luka, itu bukan sekadar mukjizat. Itu adalah deklarasi: Allah menyelamatkan mereka yang menjadikan-Nya pusat hidup, bukan aksesori hidup.
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang masa-masa ketika ketegangan meningkat, ketika manusia merasa dikepung keadaan yang membingungkan. Ia tidak berkata bahwa pengikut-Nya akan bebas dari kesulitan, tetapi Ia menegaskan: “ Apabila semuanya itu terjadi, angkatlah kepalamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
Perintah Yesus bukan eskapisme, melainkan keberanian. Di tengah ancaman, Ia berkata: angkat kepala, bukan tunduk takut.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kesetiaan yang Tak Pernah Runtuh: Hormat bagi Guru Hebat
Paus Fransiskus pernah berkata: “Orang beriman bukan berjalan dengan mata tertutup, tetapi dengan kepala terangkat, karena mengetahui bahwa kasih Tuhan mendahului segalanya.” Inilah energi Injil hari ini: bukan panik, bukan gentar, melainkan keberanian untuk tetap berharap.
Saudari dan saudara terkasih, keselamatan Daniel bukan sekadar karena Allah kuat, tetapi karena Daniel mempercayakan hidupnya secara total.
Pesan bagi kita: jika hidup diletakkan pada yang sejati, tidak ada tekanan yang dapat mematikan roh keberanian.
Yesus tahu bahwa ketakutan membuat hati mengecil. Karena itu Ia memanggil kita keluar dari rasa cemas. Pesannya jelas: orang beriman tidak dikuasai kecemasan, tetapi digerakkan oleh pengharapan.
Untuk itu, ketika relasi retak, jadilah seperti Daniel: setia tanpa harus berteriak. Ketika ada tekanan batin, ingat sabda Yesus: angkatlah kepalamu—jangan biarkan harapan mati. Ketika situasi tampak suram, percaya bahwa Allah sedang membuka jalan baru yang belum kita lihat.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kesetiaan Batin yang Mengubah Hidup: Yang Sedikit Tetapi Total
Teolog Jürgen Moltmann mengatakan: “ Pengharapan adalah keberanian untuk melihat masa depan dengan mata Tuhan.”
Itulah yang kita butuhkan hari ini: keberanian untuk melihat dengan mata yang penuh iman.
Saudari-saudara terkasih, kisah Daniel dan pesan Yesus hari ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya. Jika Anda sedang berada “di gua singa”, teguhlah. Jika Anda sedang dikepung masalah, angkatlah kepala. Karena Dia yang menyelamatkan Daniel adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita hari ini. Berdirilah teguh. Tetaplah setia. Angkatlah kepalamu. Sebab penyelamatanmu sudah dekat.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Firdaus Dimulai Ketika Kristus Meraja di Hati
”Hidup menjadi kuat bukan ketika tekanan menghilang, tetapi ketika hati memilih untuk tetap berpaut pada Yang Sejati.”
”Mereka yang mengangkat kepala di tengah ketakutan akan selalu menemukan bahwa kasih Allah berjalan lebih dahulu daripada kecemasan mereka.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eginius Moa





