Senin, 25 Mei 2026. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, Kitab Kejadian 3:9-15.20; Yohanes 19:25-34.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara yang terkasih, ada satu kenyataan yang menarik dalam hidup saat ini, yakni banyak orang sebenarnya sedang bersembunyi. Bukan bersembunyi secara fisik, melainkan bersembunyi di balik kesibukan, di balik senyuman, media sosial, pekerjaan, bahkan di balik topeng kesalehan.

Dari luar mereka tampak baik-baik saja, tetapi di dalam hati tersimpan rasa tidak suka, kekecewaan, ketakutan, dan kegelisahan. Ada yang tersenyum, tetapi hatinya sedang menangis; ada yang tampak tenang, tetapi batinnya sedang gelisah dan bersembunyi.

Inilah wajah manusia yang perlahan kehilangan kedekatannya dengan Allah. Keadaan seperti inilah yang mengingatkan kita pada manusia pertama yang bersembunyi setelah jatuh ke dalam dosa.

Dalam Kitab Kejadian dikisahkan bahwa setelah jatuh ke dalam dosa, Adam bersembunyi dari Allah. Lalu Tuhan bertanya, “Di manakah engkau?”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pentakosta: Membakar Dosa, Menyalakan Rahmat

Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak mengetahui tempat Adam berada, melainkan karena Allah ingin Adam menyadari bahwa dirinya telah menjauh. Dosa bukan pertama-tama membuat manusia menjadi jahat; dosa pertama-tama membuat manusia takut, menjauh, dan bersembunyi dari Allah.

Setiap dosa pada akhirnya membuat manusia kehilangan rumahnya, sebab Adam tidak hanya kehilangan taman Eden, tetapi juga kehilangan kedekatan dengan Allah.

Injil hari ini memperlihatkan pemandangan yang sangat indah. Di kaki salib, ketika banyak orang pergi dan meninggalkan Yesus, Maria tetap berdiri. Jika Adam memilih bersembunyi setelah jatuh, Maria memilih tetap berdiri ketika semuanya seolah runtuh.

Dari atas salib Yesus berkata, “Inilah ibumu.” Pada saat itu Maria bukan hanya menjadi ibu Yohanes, melainkan Bunda Gereja dan ibu bagi semua orang beriman.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Apa Urusanmu? Ikutilah Aku

Ketika manusia kehilangan rumah karena dosa, Tuhan memberikan seorang ibu agar manusia tetap mempunyai tempat untuk pulang. Maria bukan sekadar ibu Yesus; Maria adalah ibu yang menunggu, ibu yang mendoakan, dan ibu yang tidak pernah meninggalkan.

Saudari dan saudara yang terkasih, ketika Yesus menyerahkan Maria sebagai Bunda Gereja, Yesus sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa tidak seorang pun dibiarkan berjalan sendirian. Kita semua membutuhkan tempat untuk kembali, tempat untuk diterima, dan tempat untuk dipulihkan. Tempat itu adalah Gereja, yakni rumah tempat orang yang terluka dipeluk dan orang yang tersesat dipersilakan pulang.

Di sinilah Gereja dipanggil menjadi sebuah komunitas, bukan sekadar kerumunan. Sebab dalam komunitas tidak seorang pun merasa asing dan tidak seorang pun merasa terkucil. Semoga kita bukan menjadi orang yang terus bersembunyi, melainkan orang yang sedang berjalan pulang kepada Tuhan.

Bunda Maria selalu berdiri dekat kita sambil berkata dengan lembut, “Pulanglah, anakku, masih ada tempat bagimu.” Sebab tidak ada dosa yang lebih besar daripada kasih Allah, dan tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi seorang ibu untuk menunggu anaknya pulang.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Apa Urusanmu? Ikutilah Aku

Petikan BUSA-H untuk kita #25/05/26:

”Dosa sering kali bukan pertama-tama membuat manusia menjadi jahat, tetapi membuat manusia takut, menjauh, dan bersembunyi dari Allah.”

”Tidak ada dosa yang lebih besar daripada kasih Allah, dan tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi seorang ibu untuk menunggu anaknya pulang.”

”Jangan terus bersembunyi di balik kesibukan, senyuman, atau topeng kesalehan. Pulanglah, sebab Bunda Maria selalu berkata, “Anakku, masih ada tempat bagimu.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan