Sabtu, 28 Februari 2026. Hari Biasa Pekan I Prapaskah. Kitab Ulangan 26:16-19; Matius 5:43-48

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, sering kali kita cepat menjauh dari orang yang pernah melukai kita, dan setia hanya ketika relasi memberi keuntungan bagi diri kita. Kita mudah mengasihi saat disukai, namun goyah ketika kasih menuntut pengorbanan dan kesetiaan. Sikap ini membuat kita tak jauh berbeda dari cara-cara mencintai yang bersyarat dan terbatas yang lazim dalam dunia.

Sabda Tuhan hari ini menuntut kita untuk selalu setia dengan segenap hati dan jiwa, supaya kita sungguh melangkah menuju kesempurnaan kasih, sebagaimana Bapa yang di surga sempurna adanya. Maka, dari undangan untuk mengasihi secara utuh dan setia, kita diajak menengok akar kesetiaan itu dalam Sabda Tuhan pada bacaan pertama.

Dalam kitab Ulangan hari ini, Tuhan mengundang kita untuk hidup setia dengan segenap hati dan segenap jiwa sebagai jawaban atas kasih setia-Nya yang lebih dahulu memilih kita. Kesetiaan di sini bukan sekadar ketaatan lahiriah, melainkan keterikatan batin yang utuh kepada kehendak Tuhan.

Allah menjanjikan martabat yang luhur bukan sebagai kebanggaan diri, melainkan sebagai panggilan untuk hidup kudus di antara yang lain. Dengan demikian, kita dapat menjadi umat yang kudus, artinya membiarkan seluruh cara hidup dibentuk oleh nilai-nilai Allah sendiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Kefasikan Hati Menuju Damai Sejati

Kesetiaan seperti ini menuntut keberanian untuk tampil beda dari yang lain. Di Masa Prapaskah ini, kita mesti sanggup menegaskan identitas hati dan diri kita bahwa kita adalah umat yang kudus bagi Allah.

Dari panggilan untuk hidup setia dengan segenap hati dan jiwa, Sabda Tuhan kini menantang kita melangkah lebih jauh dalam cara kita mengasihi. Dalam Injil, Yesus menantang kita untuk melampaui kasih yang mudah dan melangkah pada kasih yang menuntut pengorbanan.

Mengasihi yang mengasihi kita semua orang bisa dan tidak ada bedanya, karena kasih seperti itu sama artinya dengan balas membalas. Kita mesti punya kasih yang unik, yakni mencintai tanpa mencari imbalan. Dengan kata lain, kita mencintai tanpa syarat dan total komitmen dalam pemberian diri yang utuh.

Di sini kita dituntut mengalahkan naluri membalas dan menghakimi. Dalam hal ini, kita tidak membatasi kasih pada mereka yang menyenangkan hati kita, tetapi berani membuka hati bagi siapa pun, bahkan mereka yang sulit kita terima.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Meminta, Mencari, Mengetuk: Jalan Pulang di Masa Prapaskah

Saudari dan saudara, bagi kehidupan keluarga, kasih yang setia terwujud ketika satu sama lain tulus mempersembahkan diri untuk kebahagiaan bersama, tidak mengumpulkan sesuatu untuk kepuasan diri, melainkan terus memberi diri dalam untung dan malang.

Di tempat kerja, kasih yang setia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, walaupun berbeda sikap dan pandangan. Di tengah masyarakat, kasih yang setia melampaui kebiasaan ingat diri supaya bebas memberi diri, apapun kondisinya.

Di sini, kita digerakkan oleh kesetiaan Allah supaya hidup tanpa topeng. Kita akan gampang mengasihi dengan ikhlas di tengah kondisi terpecah oleh perbedaan. Masa Prapaskah menjadi waktu rahmat untuk melatih hati agar setia dalam kebaikan dan luas dalam kasih.

Petikan BUSA-H hari ini:

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jika Niniwe Bertobat, Mengapa Kita Menunda

”Dalam kesetiaan kepada Allah dengan segenap hati dan kasih kepada sesama tanpa pilih kasih, hidup kita menjadi kesaksian yang kudus di tengah dunia yang mudah membenci.”

“Kasih yang sejati bukan membalas kebaikan, melainkan berani mencintai tanpa syarat, melampaui naluri memberi untuk menerima, hingga hati terbuka bahkan bagi mereka yang sulit kita terima.”

“Kesetiaan Allah memampukan kita hidup tanpa topeng, setia dalam kebaikan, dan luas dalam kasih di tengah dunia yang terpecah oleh perbedaan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan