BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Kefasikan Hati Menuju Damai Sejati
Jumat, 27 Maret 2026. Hari Biasa Pekan I Prapaskah — Hari Pantang. Nubuat Yehezkiel 18:21-28; Matius 5:20-26.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih, kita sering mudah menghakimi dan cepat marah. Lidah kita kerap ringan melabeli sesama dengan kata-kata yang merendahkan, sementara hati kita sibuk mencatat kesalahan orang lain seolah-olah kita lebih benar dan lebih suci.
Kita tergoda mengkritik kegagalan dan kesalahan sesama tanpa mau jujur diri sendiri juga sama. Inilah kefasikan hati yang melukai sesama dan membentur relasi dengan Allah. Karena itu, doa, puasa, pantang, dan sedekah dalam Masa Prapaskah mesti membentuk hati yang rendah, jujur, dan mau diubah.
Inilah pertobatan sejati, saat orang fasik berani berbalik arah dan membiarkan Allah memperbarui hidupnya. Kesadaran akan kefasikan hati inilah yang hari ini disapa Allah melalui Sabda-Nya.
Dalam bacaan pertama Firman Tuhan menegaskan bahwa pertobatan sejati selalu membuka pintu kehidupan baru bagi siapa pun yang mau berbalik dari kejahatan. Allah tidak membiarkan kebinasaan orang berdosa melainkan merindukan mereka kembali kepada jalan kebenaran.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Meminta, Mencari, Mengetuk: Jalan Pulang di Masa Prapaskah
Ketika seseorang sungguh meninggalkan kejahatan dan memilih hidup benar maka masa lalunya tidak lagi menjadi penentu masa depannya. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah lebih kuat daripada dosa yang paling berat.
Pertobatan di sini bukan sekadar penyesalan sesaat melainkan perubahan arah hidup yang nyata. Masa Prapaskah menjadi waktu rahmat untuk berani meninggalkan pola hidup lama dan melangkah pada jalan yang memulihkan martabat kita.
Untuk sebuah pertobatan sejati, Yesus mengajak kita melampaui ketaatan lahiriah menuju pembaruan hati yang lebih dalam. Marah yang disimpan dan kata yang melukai sudah menjadi benih kekerasan di dalam batin.
Ibadah yang indah tidak berkenan di hadapan Allah jika hati masih menyimpan dendam terhadap sesama. Yesus menempatkan rekonsiliasi sebagai langkah awal sebelum persembahan rohani dipersembahkan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jika Niniwe Bertobat, Mengapa Kita Menunda
Pertobatan sejati berarti berani berdamai dan memulihkan relasi yang retak. Masa Prapaskah mengarahkan kita membersihkan altar hati dari kebencian agar doa dan ibadah sungguh menjadi perjumpaan yang hidup dengan Allah.
Saudari dan saudara terkasih, dalam kehidupan keluarga selama Masa Prapaskah kita harus berhenti marah dan tidak memelihara amarah yang perlahan meracuni relasi.
Biasakan saling meminta maaf dan mengampuni dengan tulus, sebab banyak keluarga retak bukan karena masalah besar, melainkan karena hati yang enggan berdamai.
Tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi ada keluarga yang terus disempurnakan oleh kerelaan untuk saling mengampuni.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Firman dan Doa, Napas Hidup Peziarah Iman di Masa Prapaskah
Di tempat kerja, pertobatan tampak ketika kita menahan kata yang melukai, mengakhiri gosip, dan memilih cara yang adil dalam menyelesaikan konflik. Di tengah masyarakat, kita dipanggil mengurangi sikap menghakimi, menolak ujaran kebencian, dan berani memulai rekonsiliasi meski terasa berat.
Pertobatan bukan hanya menjauh dari perbuatan salah, melainkan menata ulang sikap hati yang sering tersembunyi. Langkah kecil berdamai hari ini jauh lebih berharga daripada banyak ritual tanpa perubahan hidup.
Maka, Masa Prapaskah menjadi jalan nyata menuju hidup yang lebih manusiawi dan berkenan di hadapan Allah, sebab Allah lebih berkenan pada hati yang mau berubah dan berdamai daripada pada ibadah yang indah tetapi menyimpan luka yang tak mau disembuhkan.
Petikan BUSA-H pada hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berjumpa dengan Kristus Dalam Sesama yang Paling Hina
“Ketika kita berhenti menghakimi sesama dan mulai mengakui kefasikan hati sendiri, di situlah pertobatan sejati dimulai dan Allah diberi ruang untuk membarui hidup kita.”
”Kita mesti berani berbalik dari jalan yang salah, sebab rahmat Allah memutus belenggu masa lalu dan membuka masa depan yang baru bagi hidup kita.”
“Ibadah yang berkenan kepada Allah lahir dari hati yang berani berdamai, sebab altar yang paling murni adalah hati yang bebas dari kebencian.”
“Pertobatan sejati dimulai saat kita berani berdamai hari ini, sebab Allah lebih berkenan pada hati yang mau memulihkan relasi daripada ibadah yang indah tetapi menyimpan luka.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





