Selasa, 31 Maret 2026. Hari Selasa dalam Pekan Suci. Kitab Yesaya 49:1-6; Kitab Yesaya 49:1-6.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara yang terkasih. Bacaan pertama hari ini menghadirkan sosok hamba Tuhan yang tetap setia meskipun mengalami kelelahan dan merasa usahanya sia-sia. Bukankah ini juga pengalaman kita? Kita bekerja keras dan berjuang dengan tulus, tetapi hasilnya seolah tidak terlihat, tidak dihargai, bahkan terasa kosong.

Namun iman mengingatkan kita bahwa itu hanya cara kita melihat. Di hadapan Tuhan tidak ada kesetiaan yang sia-sia. Ia tidak menilai dari hasil yang tampak, tetapi dari ketekunan hati. Bahkan dalam kegagalan yang kita rasakan, Tuhan sedang bekerja dalam cara yang sering tidak kita pahami.

Saudari dan saudara terkasih, Injil hari ini menyingkap sisi rapuh manusia dalam diri Yudas. Pengkhianatan tidak selalu lahir dari kejahatan besar, tetapi dari hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh seperti ambisi, kerakusan, dan egoisme.

Sedikit demi sedikit hati menjadi tertutup dan relasi menjadi retak. Yudas mengingatkan kita bahwa kedekatan dengan Yesus tidak otomatis menyelamatkan jika hati kita tidak lagi terbuka pada kasih. Betapa sering relasi rusak bukan karena kebencian besar, tetapi karena ego kecil yang kita biarkan berkuasa.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Antara Maria dan Yudas: Memurnikan Hati Tanpa Topeng

Namun Injil tidak berhenti pada Yudas; Petrus hadir sebagai kontras yang penuh harapan. Ia juga jatuh bahkan menyangkal Yesus tetapi tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ia memilih untuk kembali. Di sinilah letak perbedaan mendasar bukan pada kegagalannya, melainkan pada responsnya terhadap kegagalan.

Santo Agustinus pernah berkata, “Lebih baik menjadi orang berdosa yang tahu bertobat daripada orang yang merasa dirinya benar.”

Pesan ini sangat relevan bagi kita bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan iman, melainkan titik balik jika kita berani kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rendah.

Saudari dan saudara terkasih, memasuki Pekan Suci kita diajak bertanya dengan jujur apakah kita sedang berjalan seperti Yudas yang menjauh dalam diam atau seperti Petrus yang kembali dengan dengan air mata dan hati yang hancur.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Memerlukannya

Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna, Ia mencari hati yang mau diubah. Ia tetap memanggil bahkan ketika kita merasa tidak layak, dan Ia tetap membuka pintu bahkan ketika kita merasa terlalu jauh.

Maka jangan takut jatuh, takutlah jika kita tidak mau bangkit, sebab kasih Tuhan selalu lebih besar daripada dosa kita dan pintu pertobatan selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali.

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Tuhan tidak menghitung seberapa besar hasilmu, tetapi seberapa setia hatimu berjuang keluar dari kegagalan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Mati untuk Semua: Bukan Karena Kalah Tetapi Karena Kasih

”Jatuh tidak pernah menentukan siapa dirimu, tetapi keputusan untuk kembali menentukan masa depanmu.”

”Selama hatimu masih mau kembali, tidak ada dosa yang lebih besar daripada kasih Tuhan.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan