Tenggelamnya Kapal O Arbiru, Dili-Bangkok 1973 di Perairan Maumere, Munculnya Nama Takalayar
Oleh:Fransisco Soarez Pati
O Arbiru adalah nama kapal barang berbendera Portugal berbobot mati 400 ton. Pada periode tahun 1973 sewaktu Timor Leste masih menjadi Propinsi Seberang Lautan (Ultramarinas Provincia) dibawah kekuasaan pemerintah kolonial Portugis, Propinsi Seberang Lautan ini dipimpin oleh seorang gubernur bernama Fernando Alves Aldeia.
Nama kapal O Arbiru adalah alat transportasi laut terpenting bagi Pemerintah Portugal. Dengan kapal itu Pemerintah Portugal di Lisbon dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Propinsi Seberang Lautan di Dili dan sekitarnya melalui Bangkok dan seterusnya menggunakan moda transportasi laut itu ke Dili.
Hari itu Jumat tanggal 18 Mei 1973, Pemerintah Propinsi Seberang Lautan dan masyarakat Timor Portugis seharusnya merayakan sebagai “Hari Portugal.” Sejumlah kegiatan seperti resepsi, pertandingan olahraga, pameran, pasar malam yang lazimdilakukan pada tahun-tahun sebelumnya dibatalkan oleh Gubernur Timor Portugis. Sebagai gantinya Gubernur Timor Portugis mengumumkan hari itu sebagai hari berkabung. Penduduk lokal diminta mengibarkan bendera setengah tiang sehari penuh.
Sebagaimana yang dikisahkan oleh Eliza Meskers Tomodok, Kepala Perwakilan RI di Dili, Timor Portugis (1972-1976), dalam bukunya “Catatan Hari-Hari Akhir Timor Portugis”, ia menguraikan bahwa pada tanggal 28 April 1973, kapal O Arbiru meninggalkan Pelabuhan Dili menuju Bangkok dan melewati jalur utara Kepulauan Alor ke arah barat menyusuri laut Flores.
Sesuai rencana pelayaran kapal itu akan bertolak ke Pelabuhan Bangkok, tiba tanggal 7 Mei 1973 untuk mengangkut 3.000 ton beras yang dikirimkan dari Lisbon untuk rakyat Timor Portugis. Namun, dalam pelayarannya sejak tanggal 29 April 1973, komunikasi radio dan navigasi antara Dili dan kapten kapal O Arbiru terputus total.
Turut serta dalam pelayaran itu adalah Komandan Angkatan Laut Timor Portugis, istri, anak dan 16 penumpang lainnya termasuk crew kapal. Pada mulanya Komandan Angkatan Laut di Dili menduga putusnya hubungan radio antara Dili dan sang kapten mungkin disebabkan oleh rusaknya radio komunikasi.
Tidak ada komunikasi sama sekali,maka Komandan Angkatan Laut di Dili menanyakan kepada Kedutaan Besar di Bangkok, apakah kapal itu sudah tiba di Bangkok. Jawaban yang diperoleh menyatakan kapal tersebut belum tiba di Bangkok. Sejak saat itu tepatnya tanggal 11 Mei 1973 komandan angkatan laut menanggap serius persoalan hilangnya kontak kapal O Arbiru dan terus mencari informasi posisi kapal.
Pencarian dilakukan menggunakan pesawat udara T.A.T. Tanggal 12 Mei 1973, pesawat tersebut terbang mengikuti rute pelayaran O Arbiru guna mencari jejak kapal tersebut. Hari itu tidak ada petunjuk sama sekali sehingga, pilot pesawat udara T.A.T memutuskan untuk bermalam di Denpasar, Bali. Kesokan hari, 13 Mei 1973 pencarian kembali dilakukan sepanjang perairan Laut Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, namun tidak ada petunjuk apapun dari pencarian itu.
Komandan Angkatan Laut Timor Portugis meminta bantuan kepada Markas Besar Angkatan Laut Indonesia di Jakarta, melaporkan kejadian itu kepada Perwakilan Portugal di Jakarta, Bangkok, Manila, Singapura dan Kuala Lumpur.
Sementara itu isu yang tersiar di tengah masyarakat Dili menyatakan bahwa Kapal O Arbiru “disabotase” oleh pelaut-pelaut Indonesia.
“Saya tidak tahu bagaimana reaksi Pemerintah Timor Portugis atas isu-isu semacam itu, namun saya tidaklah heran sekiranya ada yang termakan oleh isu itu. Apalagi diantara penumpang kapal ada istri dan anak Komandan Angkatan Laut Timor Portugis itu sendiri”, demikian tulis E.M Tomodok dalam buku Catatan Hari-Hari Akhir Timor Portugis.
Turut sertanya istri serta anak Komandan Angkatan Laut Timor Portugis adalah atas undangan kapten kapal. Awalnya kapten kapal mengundang istri Gubernur, Ny. Aldeia, namun karena ia berhalangan maka dimintalah istri komandan angkatan laut untuk menggantikannya. Istri Komandan Angkatan Laut Timor Portugis sebenarnya setengah hati untuk menggantikan Ny. Aldeia dalam pelayaran itu, namun karena desakan suaminya, ia pun pergi bersama anaknya. Terdapat pula istri mayor angkatan darat, istri kapten kapal dan istri direktur sebuah bank di Dili.
Tanggal 16 Mei 1973, Komandan Angkatan Laut Timor Portugis menemui Kepala Perwakilan Indonesia di Dili yang meminta bantuan Konsulat Indonesia. Tanpa membuang waktu Kepala Perwakilan Indonesia di Dili langsung menghubungi Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan dan Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kupang. Keesokan hari tanggal 17 Mei 1973 adalah hari pertama percobaan komunikasi telpon antara Dili dan Kupang. Kepala Perwakilan Indonesia di Dili meminta salah seorang stafnya bernama Saat untuk berbicara dengan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur di Kupang.
Di ujung telpon dari Kantor Gubernur NTT, penerima telpon menjelaskan bahwa kapal tersebut tenggelam di Laut Flores pada tanggal 29 April 1973 pukul 09.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita). Salah seorang awak kapal telah diselamatkan dan berada di Maumere, Flores untuk mendapatkan pertolongan.
Mendengar penjelasan itu Kepala Perwakilan Indonesia di Dili menyampaikan laporan kepada Kepala T.A.T, de Castro yang memimpin upaya pencarian kapal itu. Setelah itu Kepala Perwakilan Indonesia bersama dengan utusan Timor Portugis bertolak menuju Kupang dan melanjutkan perjalanan ke Kota Maumere, Pulau Flores. Tiba di Maumere mereka di terima oleh pejabat daerah setempat dengan penuh simpati.
Komandan Resor Kepolisian 1708 Sikka, David Lameng dalam keterangan resmi tertulisnya mengatakan pada hari Minggu tanggal 29 April 1973 pukul 09.00 Wita, Kapal O Arbiru diterjang badai antara Pulau Sukun (Kabupaten Sikka) dan Pulau Kalatoa (Kabupaten Selayar) di perairan Flores. Masinis kapal, Paulo de Rosario terapung-apung di laut selama delapan hari akhirnya ditolong oleh perahu “Hidup Baru”.
Paulo dibawa oleh nelayan ke Kota Maumere untuk mendapat pertolongan dan ditampung di Pelabuhan Maumere hingga diserahkan ke Perwakilan Timor Portugis yang hadir di Maumere. Tidak ada tanda-tanda bahwa penumpang kapal yang lain selamat. Proses serah terima kemudian dilakukan di Kota Maumere dan setelah itu Perwakilan Timor Portugis kembali ke Dili dengan membawa serta Paulo de Rosario, satu-satunya masinis yang selamat.
Sementara itu di Dili, Ramos Horta yang saat itu bekerja untuk media A Voz de Timor (Suara Timor) memuat berita yang panjang yang menciptakan kesan kurang baik mengenai peran Indonesia. Untuk menghindari salah paham, Kepala Perwakilan Indonesia mengundang Ramos Horta dari A Voz de Timor ke kantor konsulat untuk dimintai penjelasan apa sebab tidak dimuatnya berita belasungkawa dari Pemeritah Indonesia dan mengapa hanya ucapan belasungkawa dari Konsulat Taiwan yang dimuat dalam media itu.
Ramos Horta menjawab pimpinan redasksilah yang menentukan itu. Tidak puas dengan jawaban Horta, Kepala Perwakilan Indonesia menyampaikan surat kepada pimpinan media A Voz de Timor dengan permintaan untuk dimuat di media. Pemimpin redaksi A Voz de Timor, Letnan Gomez tidak lain adalah Sekretaris Gubernur Timor Portugis.
Gubernur Timor Portugis melalui Sekretarisnya Letnan Gomez kemudian mengakui adanya kesalahpahaman dan meminta maaf kepada Perwakilan Indonesia di Dili. Gubernur Timor Portugis juga membuat bulletin khusus tentang bantuan yang diberikan oleh semua pihak termasuk Indonesia.
Menurut penjelasan Gubernur Timor Portugis, kekhilafan terletak pada dirinya dan sulit memberi penjelasan kenapa ia khilaf. Mendengar penjelasan itu Kepala Perwakilan Indonesia mengambil langkah bijak agar tidak menimbulkan pertentangan di tengah masyarakat ia pun menerima permintaan maaf Gubernur Timor Portugis dan surat terbuka yang telah ia siapkan disepakati untuk tidak tidak diumumkan.
Bangkai kapal O Arbiru hingga kini masih berada di perairan Laut Flores tidak jauh dari Kota Maumere sekitar 32 mil laut dari Pulau Pemana. Masyarakat Kota Maumere dan pesisir utara Pulau Flores menyebut bangkai kapal itu dengan nama Kapal Takalayar.
Seorang nelayan asal Pulau Pemana bernama Herman alias Almani mengisahkan bahwa “Kami di Pulau Pemana tahu kapal itu kapal Hongkong karena ada tulisan Bahasa China di body kapal. Ada yang bilang itu Kapal Portugis. Kami sebut kapal itu dengan nama kapal Takalayar. Saya ingat kapal itu tenggelam tahun 1973, saat saya umur 15 tahun. Waktu tenggelam semua barang-barang dikapal diambil oleh masyarakat Maumere, Pemana, Selayar dan sekitarnya. Bertahun-tahun bangkai kapal itu jadi rumah ikan, tempat kami pancing ikan kakap merah”, tutur Herman alias Almani kepada Penulis.
Untuk mengenang tenggelamnya kapal itu, sebuah resort di tepi Pantai Dili, Timor Leste mengabadikan nama kapal itu menjadi sebuah hotel dengan nama Arbiru Resort Dili.
Inilah kisah tenggelamnya kapal O Arbiru atau Takalayar, moda transportasi laut terpenting pemerintah kolonial Timor Portugis saat itu. *
Editor: Eginius Moa





