Senin, 11 Mei 2026. Hari Biasa Pekan VI Paskah. Kisah Para Rasul 16:11-15; Yohanes 15:26–16:4a
Oleh: RD. Fidelis Dua
SAUDARA-saudari terkasih, Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa setiap orang Kristiani adalah misionaris sejauh ia telah mengalami kasih Allah. Artinya, iman bukan hanya soal tahu ajaran Gereja, tetapi bagaimana hidup kita memancarkan kasih dan kebenaran Tuhan dalam keseharian. Namun realitas hari ini sering membingungkan.
Di media sosial, misalnya, orang mudah menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, atau menghina orang lain hanya karena berbeda pandangan. Banyak orang ikut-ikutan membenarkan sesuatu karena sedang viral atau dilakukan banyak orang.
Akibatnya, hati nurani perlahan menjadi tumpul. Dalam situasi seperti ini, Sabda Tuhan mengajak kita kembali kepada Kristus, sebab kebenaran sejati bukan mengikuti arus mayoritas, melainkan mengikuti apa yang membawa kasih, damai, dan keselamatan.
Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah Lidia, seorang perempuan sederhana yang hatinya terbuka pada Sabda Tuhan. Ketika mendengar pewartaan Paulus, ia tidak hanya percaya, tetapi juga langsung bertindak: ia membuka rumahnya bagi para pewarta Injil.
Lidia mengajarkan bahwa iman harus nyata dalam tindakan sederhana sehari-hari. Hari ini, mungkin kita tidak membuka rumah untuk rasul seperti Paulus, tetapi kita bisa membuka hati bagi sesama: mendengarkan anggota keluarga yang sedang terluka, menerima tetangga yang dikucilkan, membantu teman yang kesulitan, atau menyediakan waktu untuk menemani orang tua yang kesepian.
Rumah yang dipenuhi doa, perhatian, dan kasih jauh lebih berarti daripada rumah yang mewah tetapi dingin dan penuh pertengkaran. Dari Lidia kita belajar bahwa ketika hati terbuka bagi Tuhan, hidup kita pun menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Dalam Injil, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran yang akan menuntun para murid untuk tetap setia. Namun Yesus juga jujur bahwa menjadi saksi kebenaran tidak selalu mudah. Kadang orang yang jujur justru diejek, yang tidak mau korupsi dianggap bodoh, yang memilih hidup benar dianggap ketinggalan zaman.
Di tempat kerja, mungkin ada godaan untuk memanipulasi laporan. Di sekolah, ada godaan mencontek supaya mendapat nilai bagus. Dalam keluarga, ada godaan membalas kata-kata kasar dengan kemarahan.
Tetapi Roh Kudus membantu kita untuk tetap memilih yang benar. Kebenaran Kristus selalu melahirkan kasih: membuat kita mampu mengampuni, bersabar, tidak mudah membenci, dan tetap menghargai martabat orang lain meski berbeda pendapat. Karena itu, orang yang sungguh hidup dalam Roh Kudus tidak akan menyebarkan kebencian, fitnah, atau kekerasan atas nama apa pun.
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita memiliki hati seperti Lidia dan keberanian seperti para murid. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana: berkata jujur, tidak ikut menyebarkan gosip, meminta maaf ketika salah, setia berdoa bersama keluarga, dan tetap berbuat baik meski tidak dipuji.
Jangan takut menjadi orang baik di tengah dunia yang kadang menertawakan kebaikan. Sebab Tuhan mampu menghadirkan terang melalui hidup yang sederhana tetapi setia. Ketika hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus, kebenaran tidak hanya berhenti di mulut, tetapi nyata dalam sikap, keputusan, dan cara kita memperlakukan sesama setiap hari.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Hati yang disentuh Roh Kebenaran tidak mudah tunduk pada kebohongan, sebab ia telah belajar mendengar bisikan Allah yang menuntun kepada hidup, kasih, dan keselamatan.”
”Orang yang dipenuhi Roh Kebenaran tidak hidup untuk menyenangkan arus zaman, tetapi berdiri teguh dalam kasih, bahkan ketika kesetiaan kepada Allah membuatnya harus berjalan sendirian.”
”Kebenaran sejati tidak perlu dibela dengan kekerasan, sebab cahayanya terpancar melalui kasih, kelembutan, dan kesetiaan hidup orang-orang yang menghidupinya.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@
Editor: Eginius Moa






