Sabtu, 09 Mei 2026. Hari Biasa Pekan V Paskah. Kisah Para Rasul 16:1-10; Yohanes 15:18-21

Oleh: Rd.Fidelis Dua

Saudara-saudari terkasih, dunia saat ini sangat menghargai kemajuan, keberhasilan, pengaruh, dan pencapaian. Setiap orang ingin menjadi lebih baik, lebih dikenal, lebih berhasil, dan meninggalkan sesuatu yang dapat dibanggakan.

Semua itu tentu baik, sejauh tidak membuat manusia jatuh dalam ego, kesombongan, dan keinginan untuk selalu menjadi yang utama. Namun, di balik semangat untuk maju, sering kali tersembunyi godaan untuk menjadi tuan atas orang lain, ingin mengatur, ingin dihormati, dan enggan menjadi kecil.

Padahal, jalan Kristus berbeda dari jalan dunia. Kemarin Yesus menyebut kita sahabat-sahabat-Nya; hari ini Ia mengingatkan bahwa kita juga adalah hamba-hamba-Nya. Menjadi hamba bukan berarti kehilangan martabat, melainkan menempatkan hidup dalam ketaatan, kerendahan hati, dan kesiapsediaan untuk melayani kehendak Tuhan.

Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana Paulus melanjutkan perjalanan misinya dan memilih Timotius untuk menyertainya. Timotius adalah seorang muda yang dikenal baik oleh jemaat, dan ia kemudian dibentuk untuk mengambil bagian dalam karya pewartaan Injil.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dipilih Kristus untuk Berbuah

Namun, perjalanan misi itu tidak berjalan menurut rencana manusia semata. Paulus dan rekan-rekannya hendak pergi ke beberapa tempat, tetapi Roh Kudus mencegah mereka. Lalu, dalam suatu penglihatan, Paulus melihat seorang Makedonia berdiri dan memohon, “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!”

Di sini tampak jelas bahwa misi Gereja bukan terutama proyek pribadi, melainkan karya Allah. Seorang pewarta Injil harus memiliki hati yang lentur di hadapan Roh Kudus: siap berangkat, siap berubah arah, siap menunda rencana sendiri, dan siap pergi ke tempat yang dikehendaki Tuhan.

Inilah pesan penting bagi kita: orang beriman tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi harus berani bertanya, “Ke mana Tuhan sedang mengutus saya?”

Dalam Injil, Yesus berkata dengan sangat jujur, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku.” Yesus tidak menjanjikan jalan iman yang selalu mudah, nyaman, dan diterima semua orang. Ia justru mengingatkan bahwa murid-Nya akan mengalami penolakan karena mereka tidak lagi hidup menurut ukuran dunia. Lalu Yesus menegaskan, “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Tengah Gaduh Dunia,Tinggallah dalam Kasih

Menjadi hamba Kristus berarti sadar bahwa hidup kita bukan lagi milik ego kita, melainkan milik Tuhan. Seorang hamba tidak berjalan di depan kehendak tuannya, tetapi mengikuti arah yang diberikan.

Ia tidak mencari kemuliaan diri, tetapi kesetiaan. Ia tidak menuntut dilayani, tetapi siap melayani. Maka, menjadi hamba Kristus bukanlah kehinaan, melainkan kehormatan rohani: kita belajar rendah hati, taat, setia, dan tetap mengasihi meskipun tidak selalu dimengerti.

Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini menegaskan bahwa iman sejati membutuhkan kerendahan hati seorang hamba dan kepekaan seorang murid. Kita dipanggil untuk maju, tetapi bukan dengan kesombongan; kita dipanggil untuk berhasil, tetapi bukan dengan mengorbankan kasih; kita dipanggil untuk melayani, tetapi bukan demi pujian.

Dari Paulus, kita belajar membiarkan Roh Kudus mengarahkan langkah hidup kita. Seperti Timotius, kita belajar rela dibentuk menjadi pelayan Injil. Dari Kristus Sang Hamba, kita belajar tetap setia meskipun jalan iman kadang membawa penolakan, kesulitan, dan salib.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Melekat. Dimurnikan, dan Berbuah

Jangan takut menjadi kecil di hadapan dunia, asalkan hidup kita besar di hadapan Allah. Jangan takut tidak dipuji manusia, asalkan langkah kita setia pada kehendak Tuhan.

Semoga hari ini kita berani berkata: Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu; tuntunlah langkahku, bentuklah hatiku, dan pakailah hidupku untuk menghadirkan kasih-Mu di tengah dunia.

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Kebesaran sejati tidak lahir dari keinginan untuk dihormati, tetapi dari hati yang rela merendah dan setia melayani sesama.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Damai yang Menguatkan di Tengah Kesulitan

”Roh Kudus sering mengubah arah langkah kita, bukan untuk menggagalkan rencana, melainkan untuk membawa kita menuju kehendak Allah yang lebih dalam.”

”Menjadi hamba Kristus bukanlah kehilangan martabat, melainkan menemukan kehormatan rohani dalam ketaatan, kerendahan hati, dan kasih yang setia.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan