Rabu, 20 Mei 2026. Hari Biasa Pekan VII Paskah Novena Roh Kudus hari Keenam. Kisah Para Rasul 20:28-38; Yohanes 17:11b-19.
Oleh: RD. Fidelis Dua.
SAUDARI dan asudara yang terkasih, kata-kata yang kita dengar setiap hari sesungguhnya tidak pernah netral; kata-kata itu dapat membentuk cara kita berpikir, merasa, memilih, dan bertindak. Ada kata-kata yang melukai, ada pula yang menyembuhkan; ada nasihat yang cepat terlupakan, tetapi ada juga pesan terakhir dari seseorang yang kita kasihi yang terus terngiang dan berakar di hati.
Dalam dunia sekarang, begitu banyak suara bersaing menarik perhatian kita: suara media sosial, suara ambisi, suara ketakutan, suara kesenangan sesaat, dan suara kepentingan diri. Akibatnya, kita sering kehilangan kepekaan untuk mendengarkan suara yang benar-benar menyelamatkan.
Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa di tengah kebisingan hidup, Sabda Tuhan tetap menjadi suara yang paling dapat dipercaya: suara yang menyelamatkan, menjaga, membangun, dan menguduskan kita.
Orang beriman harus berjaga-jaga, memelihara iman, dan bertanggung jawab atas kehidupan sesamanya. Ketika berpisah dengan para penatua jemaat di Efesus, Santo Paulus tidak meninggalkan mereka dengan kata-kata kosong, tetapi dengan amanat yang mendalam, “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Langit Kemuliaan Menuju Bumi Kesaksian
Amanat ini mengandung makna bahwa iman tidak boleh dijaga hanya untuk diri sendiri, tetapi harus dirawat bersama dalam kasih, kewaspadaan, dan tanggung jawab.
Seorang ayah dan ibu tidak cukup hanya memberi makan anak-anaknya, tetapi juga harus menjaga iman mereka. Seorang pemimpin umat tidak cukup hanya mengatur kegiatan, tetapi harus melindungi umat dari ajaran yang menyesatkan, perpecahan, iri hati, dan semangat mencari keuntungan pribadi.
Paulus memperingatkan bahwa “serigala-serigala ganas” akan masuk dan tidak menyayangkan kawanan itu. Artinya, ancaman terhadap iman tidak selalu datang dari luar. Kadang-kadang, ancaman itu muncul dari dalam diri sendiri, seperti kesombongan, kemalasan rohani, gosip, dendam, dan keinginan untuk menang sendiri.
Karena itu, Paulus menyerahkan jemaat kepada Allah dan kepada firman kasih karunia-Nya. Inilah dasar hidup Gereja, bukan kekuatan manusia, melainkan Allah yang membangun, meneguhkan, dan menyelamatkan.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Dituntun Roh di Tengah Jalan Hidup yang Tak Selalu Jelas
Saudari dan asudara yang terkasih, kewaspadaan yang diminta Paulus menemukan dasarnya dalam doa Yesus, yang memohon agar para murid dijaga dan dikuduskan dalam kebenaran. Kita hidup di dunia, tetapi kita tidak boleh menjadi milik dunia. Yesus berdoa kepada Bapa agar para murid-Nya dilindungi, dikuduskan dalam kebenaran, dan diutus ke tengah dunia.
Yesus tidak meminta agar para murid diambil dari dunia, tetapi agar mereka dijaga dari yang jahat. Ini sangat konkret bagi hidup kita. Kita tetap bekerja, belajar, membangun keluarga, bergaul, dan terlibat dalam masyarakat; namun, kita tidak boleh membiarkan nilai-nilai dunia menguasai hati kita. Ketika dunia mengajarkan balas dendam, murid Kristus memilih mengampuni.
Ketika dunia mengejar popularitas, murid Kristus memilih kesetiaan. Ketika dunia menormalisasi dusta demi keuntungan, murid Kristus berdiri dalam kebenaran. Yesus berkata, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
Kekudusan bukan berarti menjauh dari kenyataan hidup, melainkan menghadirkan kebenaran Allah di tengah kenyataan itu. Lebih indah lagi, Yesus tidak hanya memberi perintah; Ia mendoakan kita dan menguduskan diri-Nya bagi kita. Itu berarti hidup kita berharga di mata-Nya. Luka, perjuangan, keluarga, dan masa depan kita tidak pernah luput dari doa dan kasih Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran yang Melahirkan Kasih
Maka, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita membangun hidup dengan berjaga-jaga, setia, dan kudus dalam kebenaran. Jangan biarkan iman kita menjadi lemah karena suara dunia yang menyesatkan. Jangan biarkan keluarga kita kehilangan arah karena tidak lagi mendengarkan Sabda Tuhan. Jangan biarkan hati kita dipenuhi kebencian, iri hati, dan perpecahan.
Sebaliknya, marilah kita menjaga diri, menjaga sesama, dan menjaga Gereja dengan kasih yang tulus. Setiap hari, bacalah dan ingatlah Sabda Tuhan, sebab di sanalah kita menemukan kekuatan untuk menolak godaan, keberanian untuk mengampuni, dan harapan untuk terus berjalan.
Kristus sedang mendoakan kita. Ia tidak meninggalkan kita sendirian. Karena itu, hiduplah sebagai orang yang dikuduskan dalam kebenaran: teguh dalam iman, jernih dalam hati, rendah hati dalam pelayanan, dan berani menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.
Petikan BUSA-H untuk kita hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dalam Kasih Kristus, Hidup Menemukan Arah
”Hidup kita sering dibentuk oleh kata-kata yang kita biarkan menetap di hati; namun Sabda Tuhan harus menjadi suara terdalam yang menuntun setiap langkah kita.”
”Di tengah dunia yang bising oleh banyak suara, jiwa yang selamat adalah jiwa yang tetap mengenali bisikan Tuhan.”
”Kata-kata yang sungguh menggetarkan hati dan mengubah kehidupan tidak bersumber dari kebisingan dunia, tetapi dari kebenaran Allah yang hidup.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@






