BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Langit Kemuliaan Menuju Bumi Kesaksian
Kamis, 14 Mei 2026. Hari Raya Kenaikan Tuhan. Kisah Para Rasul 1:1-11; Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus 1:17-23; Matius 28:16-20.
Oleh: RD. Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih dalam Kristus, Santo Leo Agung pernah berkata, “Kenaikan Kristus adalah peninggian kita; ke mana kemuliaan Kepala telah mendahului, ke sana pula harapan Tubuh dipanggil.”
Ungkapan ini berarti bahwa ketika Kristus naik ke surga, Ia tidak menjauh dari manusia, melainkan membawa martabat manusia masuk ke dalam kemuliaan Allah. Ia naik bukan untuk meninggalkan bumi, tetapi untuk menunjukkan tujuan akhir hidup kita: bersatu dengan Bapa dalam kemuliaan kekal.
Di tengah dunia saat ini, banyak orang hidup dalam kecemasan, dikepung berita buruk, terseret gosip, terluka oleh perpecahan, dan dibayangi ketidakpastian. Hati manusia mudah lelah, pikiran mudah kehilangan arah, dan iman mudah menjadi redup.
Kondisi ini membuat kita lupa pada fokus hidup yang benar, lupa pada janji Tuhan, bahkan lupa bahwa hidup kita tidak berakhir pada penderitaan, kegagalan, atau kematian, melainkan diarahkan kepada kehidupan kekal.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dipilih Kristus untuk Berbuah
Karena itu, Hari Raya Kenaikan Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengingat kembali hal-hal yang paling menentukan dalam iman kita: Yesus naik ke surga bukan untuk meninggalkan kita, melainkan untuk membuka jalan bagi kita; Ia menjanjikan Roh Kudus sebagai kekuatan; Ia akan datang kembali dalam kemuliaan; Ia mengutus kita menjadi saksi-Nya di dunia; dan Ia tetap menyertai kita sampai akhir zaman. Semangat inilah yang tampak jelas dalam bacaan pertama hari ini.
Dalam bacaan pertama, para murid masih bertanya tentang pemulihan kerajaan Israel. Mereka ingin tahu kapan rencana Allah terlaksana. Namun Yesus mengalihkan perhatian mereka dari rasa ingin tahu tentang “waktu” kepada tugas nyata: “Kamu akan menjadi saksi-Ku.”
Kenaikan Tuhan bukan saat untuk berdiri pasif memandang langit, melainkan saat untuk mulai bergerak di bumi. Malaikat menegur para murid: “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?”
Teguran ini juga berlaku bagi kita. Iman tidak boleh berhenti pada doa, devosi, atau kerinduan akan surga saja; iman harus menjadi kesaksian konkret. Misalnya, seorang ayah menjadi saksi Kristus ketika ia memimpin keluarganya dengan kasih; seorang ibu menjadi saksi Kristus ketika ia tetap sabar dan setia; seorang pekerja menjadi saksi Kristus ketika ia jujur meskipun ada kesempatan untuk curang. Namun, untuk menjadi saksi Kristus, kita memerlukan mata hati yang diterangi oleh iman.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Percikan Harapan di Tengah Kegelapan
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus berdoa agar umat menerima “roh hikmat dan wahyu” sehingga mata hati mereka diterangi. Artinya, orang beriman tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan; ia perlu melihat hidup dengan mata iman.
Paulus mengingatkan bahwa Kristus yang naik ke surga telah ditinggikan mengatasi segala kuasa, pemerintahan, dan kekuatan. Karena itu, tidak ada kuasa dunia, ketakutan, dosa, luka batin, atau kegagalan yang lebih besar daripada kuasa Kristus.
Dalam hidup sehari-hari, ketika seseorang merasa putus asa karena masalah keluarga, ekonomi, studi, atau penyakit, bacaan ini mengajak dia untuk tidak hanya melihat beban, tetapi juga melihat pengharapan.
Mata hati yang diterangi membuat kita mampu berkata, “Tuhan lebih besar daripada persoalanku, dan kuasa-Nya sedang bekerja dalam hidupku.” Pengharapan inilah yang kemudian mendorong kita untuk pergi dan menjalankan misi Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran yang Melahirkan Kasih
Dalam bacaan Injil, Yesus memberi amanat agung kepada para murid: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”
Menarik bahwa para murid menyembah Yesus, tetapi beberapa masih ragu-ragu. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tetap mempercayakan misi-Nya kepada manusia yang belum sempurna. Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk melayani, mengasihi, dan mewartakan Injil. Yesus mengutus para murid untuk membaptis dan mengajar, tetapi Ia juga memberi janji yang menjadi kekuatan utama: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”
Contoh konkretnya, seorang katekis yang sederhana, orang muda yang berani membawa damai di sekolah, atau umat yang mengampuni tetangganya sedang mengambil bagian dalam misi Kristus. Pewartaan Injil tidak selalu dimulai dari mimbar; sering kali dimulai dari sikap, kata-kata, dan pilihan hidup yang mencerminkan kasih Tuhan.
Saudara-saudari terkasih, seluruh bacaan hari ini menyampaikan satu pesan besar bahwa Kenaikan Tuhan bukan perpisahan, melainkan pengutusan. Yesus naik ke surga agar kita tidak terus bergantung pada kehadiran-Nya secara jasmani, tetapi belajar hidup dewasa dalam iman, dipimpin oleh Roh Kudus, dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dalam Kasih Kristus, Hidup Menemukan Arah
Maka, hari ini kita diajak untuk mengingat kembali janji-janji Tuhan dan menghidupinya setiap hari, bahwa Roh Kudus menyertai kita, Kristus memerintah atas segala sesuatu, kita diutus menjadi murid yang memuridkan, dan Tuhan tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya.
Semoga Hari Raya Kenaikan Tuhan meneguhkan kita untuk tidak hanya memandang ke surga, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai surga di bumi melalui kasih, pengampunan, kejujuran, pelayanan, dan harapan.
Karena itu, saudara-saudari, jangan tinggal diam, jangan hanya berdiri memandang langit, tetapi pergilah, wartakanlah Kristus dengan hidupmu, dan jadilah saksi bahwa Tuhan yang naik ke surga tetap hidup, bekerja, dan menyertai dunia melalui kita.
Petikan BUSA-H bagi kita hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Menjadi Tuan, Melainkan Hamba
”Kenaikan Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak berakhir pada luka, kegagalan, dan kematian, sebab Kristus telah membuka jalan menuju kemuliaan Bapa.”
”Jangan hanya berdiri memandang langit, tetapi pergilah membawa terang Kristus melalui kasih, kejujuran, pengampunan, dan kesaksian hidup yang menyelamatkan.”
”Kristus yang naik ke surga tidak mengambil harapan dari bumi, melainkan menitipkannya dalam hati kita agar setiap langkah, kata, dan perbuatan menjadi tanda kehadiran-Nya bagi dunia.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@
Editor: Eginius Moa





