Rabu, 8 Oktober 2025, Hari Biasa Pekan XXVII. Nubuat Yunus 4:1-11; Lukas 11:1-4
Oleh: Rd.Fidelis Dua
“DOA Tuhan adalah kesimpulan seluruh Injil.” Demikian Katekismus mengajarkan kepada kita.
Ketika Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, Ia tidak hanya memberikan rumusan kata, tetapi juga mengajarkan sikap hati: mintalah, carilah, ketuklah. Doa ini adalah jantung kehidupan rohani, bukan karena panjang atau indahnya kata-kata, melainkan karena mengajarkan relasi yang sejati, relasi antara anak yang bergantung penuh pada kasih Bapa.
Dalam bacaan pertama, kita bertemu dengan Yunus yang marah kepada Tuhan. Ia kecewa karena Tuhan berbelas kasih kepada Niniwe. Yunus ingin melihat hukuman, bukan pengampunan. Namun Tuhan menegurnya dengan lembut: “Engkau sayang akan pohon jarak itu. Mana mungkin Aku tidak sayang akan Niniwe yang besar itu?”
Inilah wajah Allah yang sejati, bukan Allah pembalas dendam, tetapi Allah yang hatinya mudah tergerak oleh kasih. Yunus berdoa, tetapi doanya berpusat pada dirinya sendiri. Allah mengajarinya bahwa doa sejati tidak menuntut, melainkan menyelaraskan hati dengan kehendak kasih Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Jangan Lari dari Tuhan, Temuilah Dia dalam Sesamamu
Sementara itu dalam Injil, para murid berkata: “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Mereka tidak meminta mukjizat, tidak juga strategi pelayanan, tetapi cara berdoa.
Mengapa? Karena mereka melihat bahwa doa Yesus bukan rutinitas, melainkan napas kehidupan. Ia berbicara dengan Bapa seperti seorang anak yang mengasihi dan dikasihi. Melalui doa Bapa Kami, Yesus mengundang kita untuk memasuki keintiman itu — doa yang sederhana namun radikal: memuliakan nama Allah, merindukan kerajaan-Nya, memohon rezeki secukupnya, mengakui kelemahan, dan menyerahkan diri pada pengampunan serta penyertaan-Nya.
Saudara-saudari terkasih. Sabda hari ini menantang kita: apakah doa kita mengubah hati, atau hanya mengulang kata? Yunus berdoa tetapi marah, para murid berdoa untuk belajar taat. Maka kebaruan hidup rohani terletak di sini: ketika doa tidak hanya memohon sesuatu dari Tuhan, tetapi membiarkan Tuhan mengubah kita menjadi serupa dengan hati-Nya yang penuh belas kasih. Dengan demikian, Doa Bapa Kami adalah doa relasi dan transformasi batin.
Dalam dunia yang penuh kegaduhan, Doa Bapa Kami menjadi sekolah keheningan: keheningan yang mengajarkan kita untuk percaya, mengampuni, dan mengasihi tanpa syarat. Sebab semakin kita berdoa dengan hati yang tulus, semakin kita menyadari bahwa kasih Allah lebih besar daripada keinginan kita untuk mengatur segalanya.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rosario: Jalan Sunyi yang Mengubah Hati dan Menyatukan Keluarga
Petikan Butiran Sabda Allah Hari Ini:
“Doa sejati bukanlah cara mengubah kehendak Allah, tetapi cara agar hati kita diubah oleh kasih-Nya.”
“Ketika hati berdoa dengan tulus, kata-kata berhenti, dan yang tersisa hanyalah perjumpaan kasih antara hati kita dan hati Bapa.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa






