KUPANG, dewadet.com-Keluarga almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha menyebut dugaan intimidasi yang dialami dokter muda tersebut bukan merupakan kasus pertama.

Paman dr Icha, Fabianus Banase, mengklaim keluarga menerima informasi bahwa telah terjadi sedikitnya tujuh dugaan kasus intimidasi terhadap tenaga kesehatan yang diduga melibatkan salah seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Menurut Fabianus, peristiwa yang menimpa dr Icha hanya merupakan “fenomena gunung es” dari persoalan yang selama ini tidak banyak terungkap ke publik.

“Kasus dokter Icha ini semacam fenomena gunung es. Informasi yang keluarga terima, ada tujuh kejadian dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum anggota DPRD (Robertus Tubani),” kata Fabianus dikutip dari Kompas.com.

Baca juga:Dr Icha Depresi Diintimidasi Anggota DPRD TTU Mabuk, Akhiri Hidup di Rumah Orangtua

“Ini kasus ketujuh. Baru pada kasus dokter Icha kami membuka ke publik,” kata Fabianus.

Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima keluarga, sejumlah tenaga kesehatan selama ini memilih tidak melapor karena merasa takut menghadapi tekanan maupun ancaman.

“Banyak tenaga kesehatan takut bersuara karena diduga diintimidasi, diancam akan dimutasi dan sebagainya. Akibat kejadian yang dialaminya, Icha mengalami trauma dan depresi berat,” ujarnya.

Fabianus juga menyesalkan sikap manajemen RS Leona Kefamenanu yang dinilai tidak proaktif memberikan pendampingan kepada dr Icha setelah insiden tersebut.

Baca juga:Bunuh Diri Beruntun, Wakil Bupati Sikka: PR Bersama Cari Solusi

Menurut dia, pihak rumah sakit seharusnya melaporkan dugaan intimidasi yang dialami tenaga medis kepada Badan Kehormatan DPRD TTU maupun kepada Pemerintah Kabupaten TTU.

“Kami menyayangkan rumah sakit tidak proaktif mendukung dokter Icha melaporkan kejadian ini ke Badan Kehormatan DPRD maupun ke Pemerintah Kabupaten TTU,” katanya.

Meninggal di Rumah Orangtua

Dr. Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orangtuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 17.55 Wita.

Baca juga:Bunuh Diri Pertama Tahun 2026 di Kabupaten Sikka Diawali Murid Sekolah Dasar

Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.

Menurut Fabianus, hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.

“Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan autopsi. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka Baumata untuk disemayamkan dan didoakan bersama keluarga, sahabat, serta para pelayat,” katanya.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan