Mgr.Yohanes Hans Monteiro: Imamat, Panggilan Mengandalkan Allah  

Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr.Yohanes Hans Monteiro. (dok Sie.komsos dan publikasi tahbisan)

LARANTUKA, dewadet.com-Uskup baru Keuskupan Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, akan ditahbiskan Rabu, 11 Februari 2026 pukul 08.00 Wita di Gereja Katerdral Reinha Rosari Larantuka.

Dikutip dari Panduan Perayaan Pentahbisan yang diluncurkan Sie Komsos dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, lahir di Larantuka pada 15 April 1971. Ayahnya, Yakobus Monteiro dan ibunya Rosa Daton.

Hans Monteiro, ia disapa punya empat saudara. Mereka adalah Bartholomeus Nara Monteiro, Fransiskus Monteiro (alm.), Katharina Yetty Monteiro, dan Fransiskus Sevi Monteiro.

Pendidikan dasar dijalani Hans Monteiro di SDK Larantuka III di Lokea-Larantuka pada tahun 1977-1983. Sekolah Menengah Pertama di SMPK Mater Inviolata Larantuka pada tahun 1983-1985. Sedangkan pendidikan menengah di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng-Larantuka dari tahun 1985 hingga 1988.

Baca juga:Umat Katolik Larantuka Sukacita Sambut Romo Hans Montero Uskup Larantuka Terpilih

Ia memilih jalur Imam Projo Keuskupan Larantuka dengan menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela pada tahun 1989.

Setahun menjalani TOR, Hans Monteiro melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan studi Filsafat di STFK Ledalero dari tahun 1990 hingga tahun 1994.

Setelah menyelesaikan studi S1 Filsafat, Yohanes Hans Monteiro menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yosef Lewotobi, Keuskupan Larantuka tahun 1995 hingga tahun 1997.

Selanjutnya, kembali ke Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Hans semakin mantap meneguhkan jalan imamat. Dua tahun terakhir di Ritapiret (1997-1999) dipenuhi dengan refleksi mendalam dan pendalaman Teologi.

Baca juga:Romo Hans Montero Uskup Terpilih Keuskupan Larantuka Gantikan Mgr. Frans Kopong Kung

Meski kesehatan tetap rapuh, ia memilih sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kerentanan itu, ia menemukan kekuatan rohani yang menegaskan bahwa imamat adalah panggilan untuk mengandalkan Allah, bukan diri sendiri.

Setelah dua tahun menjalani studi Teologi, Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan sebagai Diakon pada 9 Mei 1999 di Ritapiret dan kemudian sebagai Imam pada 14 Juli 1999 di Katedral Larantuka. Penempatan pertamanya sebagai formator di Seminari San Dominggo Hokeng menegaskan panggilan imamat yang berorientasi pada pendidikan dan pembinaan generasi baru.

Dalam peran ini, Hans Monteiro belajar bahwa imamat tidak hanya berhubungan dengan pelayanan liturgis, tetapi juga dengan tugas mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai rohani pada calon imam.

Pada tahun 2004, Uskup Darius Nggawa memintanya untuk melanjutkan studi ke Wina, Austria. Di Wina, Hans Monteiro mendalami Teologi Liturgi secara intensif hingga meraih gelar Magister dan Doktor Teologi pada tahun 2018.

Baca juga:Empat Jam Yuliana Menanti Mgr. Hans Monteiro di Desa Boru

Sambil menekuni studi, Hans Monteiro terlibat aktif dalam pelayanan pastoral di paroki kota maupun desa. Selain itu, Hans dipercaya memimpin komunitas Katolik Indonesia di Wina.

Sepulang dari Austria, Yohanes Hans Monteiro ditugaskan sebagai Dosen dan kemudian menjadi Wakil Rektor III di IFTK Ledalero, sekaligus formator di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Hidup dalam dua medan karya, seminari dan perguruan tinggi, menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi serta kepekaan terhadap tanda zaman.

Hans Monteiro belajar bahwa seorang imam sekaligus pendidik harus mampu menjembatani kebutuhan rohani dan tuntutan akademik, sehingga keduanya saling memperkaya.

Dengan cara ini, imamat dipahami sebagai panggilan yang dinamis: berakar pada tradisi iman, tetapi terbuka pada perubahan sosial dan regulasi modern, demi memastikan Gereja tetap hadir secara relevan dalam masyarakat.

Baca juga:Flores Barat di Luar Cengkeraman Portugis: Sejarah Kolonial dan Warisan Agama

Pada tanggal 22 November 2025, Paus Leo XIV, melalui Nuncio Apostolik menunjuk Yohanes Hans Monteiro menjadi Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah memasuki usia pensiun.

Hans Monteiro akan ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka hari Rabu, 11 Februari 2026 dengan motto episkopalnya “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan) yang diambil dari Surat Rasul Paulus kepada Umat di Efesus, 4:4.

 Vesper Agung

Vesper Agung dilaksanakan pada Selasa, 10 Februari 2026 di Gereja Santa Maria Pembantu Abadi, Weri, pukul 17.30 Wita. Uskup Labuan Bajo, Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng menjadi pemimpin perayaan didampingi para uskup Region Nusra. Pengkhotbah adalah RD. Philipus Ola Daen, Staf Formator Seminari Tinggi Interdiosesan Ritapiret.

Baca juga:Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus, Kopdit Obor Mas Harus Menjadi Obor Memberi Harapan

Perayaan tahbisan Uskup Larantuka akan terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka pada pukul 08.00 WITA.

Mgr. Fransiskus Kopong Kung memimin tahbisan didampingi oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, Uskup Agung Ende, dan Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.

Seluruh rangkaian perayaan akan ditutup Misa Pontifikal Uskup Larantuka pada Kamis, 12 Februari 2026 pukul 08.00 WITA. Perayaan ini diadakan di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka dipimpin oleh Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Larantuka yang baru. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan