Sabtu, 13 Juni 2026. Peringatan Wajib Hati Tersuci SP. Maria. Kitab Yesaya 61:9-11; Lukas 2:41-51.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih. Ssalah satu pengalaman yang paling tidak mudah dalam hidup adalah menerima sesuatu yang tidak kita mengerti. Kita ingin segala sesuatu jelas, masuk akal, dan sesuai harapan.

Kita merasa tenang jika memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidup. Namun, kenyataannya, tidak sedikit peristiwa yang datang tanpa penjelasan yang memadai. Ada doa yang belum terkabul, jalan hidup yang berubah arah, harapan yang tertunda, dan pengalaman yang sulit dipahami. Di situlah iman sering diuji: bukan pada saat semuanya jelas, melainkan pada waktu kita belum mengerti.

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya menghadirkan sebuah nyanyian sukacita. Nabi menggambarkan umat Allah yang bersukacita karena diselubungi oleh keselamatan dan dikenakan jubah kebenaran. Menarik bahwa sukacita itu tidak lahir dari keadaan yang sempurna, melainkan dari keyakinan bahwa Allah tetap berkarya dalam hidup umat-Nya.

Seperti benih yang tumbuh di dalam tanah sebelum terlihat di permukaan, demikian pula karya Allah sering berlangsung dalam cara yang tersembunyi. Mata belum melihat hasilnya, tetapi iman percaya bahwa Tuhan sedang menumbuhkannya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Tidak Pernah Menyerah

Pemahaman itu menemukan wajahnya yang paling indah dalam diri Bunda Maria. Injil hari ini mengisahkan salah satu peristiwa yang paling menggetarkan dalam hidup Maria dan Yosef. Setelah mencari Yesus selama tiga hari dengan hati yang cemas, mereka menemukan-Nya di Bait Allah.

Maria berkata, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku cemas mencari Engkau.” Kalimat ini sangat manusiawi. Di sini Maria tampil bukan sebagai pribadi yang mengetahui segala sesuatu. Ia tampil sebagai seorang ibu yang mencintai, mencari, dan merasakan kecemasan.

Jawaban Yesus justru menambah misteri itu: “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Dan Injil mencatat sebuah kalimat yang sangat penting: “Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.”

Justru di tengah ketidakmengertian itu, keindahan Hati Maria bersinar. Apa yang belum dapat dipahami oleh pikirannya tetap diterima oleh hatinya dengan iman dan kepercayaan yang mendalam.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tidak Semua Hal Harus Kita Kerjakan Sendiri

Karena itu, pesta Hati Tersuci Maria tidak menampilkan Maria yang mengerti segala sesuatu, melainkan Maria yang tetap percaya meskipun belum mengerti. Inilah keagungan hatinya. Ia tidak menuntut agar seluruh rencana Allah dijelaskan kepadanya terlebih dahulu. Ia memilih menyimpan semua peristiwa itu dalam hatinya dan merenungkannya.

Itulah rahasia kekudusan Hati Maria. Hati yang kudus bukan hati yang memiliki semua jawaban, melainkan hati yang tetap percaya di tengah pertanyaan. Maria mengajarkan bahwa iman bukan hanya berkata “ya” pada saat semuanya terang, tetapi juga tetap berkata “ya” pada saat jalan di depan belum terlihat jelas.

Saudari dan saudara terkasih, banyak orang ingin menjadi seperti Maria dalam sukacita, tetapi tidak banyak yang siap menjadi seperti Maria dalam ketidakmengertian. Padahal sebagian besar perjalanan iman berlangsung justru di wilayah itu.

Ada saat-saat kita tidak memahami mengapa sesuatu terjadi. Ada masa di mana Tuhan tampak diam. Ada pengalaman yang tidak segera menemukan maknanya. Pada saat-saat seperti itulah hati Maria menjadi guru yang lembut bagi kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman Bukan Soal Memilih, Melainkan Satu Hati, Satu Tuhan

Peringatan Hati Tersuci Santa Perawan Maria mengajak kita belajar satu hal yang sederhana tetapi sangat dalam: tidak semua misteri harus segera dipahami; sebagian harus dijalani dengan iman. Allah tidak selalu menjelaskan seluruh rencana-Nya, tetapi Ia selalu memberikan kasih-Nya. Dan hati yang percaya akan menemukan bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan di balik peristiwa-peristiwa yang belum dimengerti.

Petikan BUSA-H untuk kita #13/06/26@:

“Hati yang kudus bukan hati yang memiliki semua jawaban, melainkan hati yang tetap percaya di tengah pertanyaan.”

“Maria tidak memahami segala sesuatu, tetapi ia tidak pernah berhenti mempercayai Allah.”

“Tidak semua misteri harus segera dipahami; sebagian harus dijalani dengan iman.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janda, Garam dan Pelita yang Terlupakan

“Iman bertumbuh bukan hanya dalam terang, tetapi juga dalam ketidakmengertian yang dipersembahkan kepada Tuhan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan