Jumat, 10 Juli 2026. Hari Biasa Pekan XIV. Kitab Hosea 14:2-10; Matius 10:16-23.

Oleh: RD.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara terkasih, tidak sedikit orang mengira bahwa hidup beriman selalu berarti jalan yang mudah dan diterima oleh semua orang.

Kenyataannya, semakin seseorang setia kepada Allah, semakin ia ditantang untuk tetap teguh di tengah penolakan, godaan, dan berbagai kepentingan yang ingin menggoyahkan imannya.

Allah tidak menjanjikan jalan tanpa tantangan, tetapi hati yang dipenuhi hikmat dan keberanian untuk tetap setia.

Harapan itu tampak dalam seruan Nabi Hosea kepada umat yang telah lama menjauh dari Allah, “Bertobatlah, hai Israel, kepada Tuhan, Allahmu.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Diterima Harus Menjadi Kasih yang Dibagikan

Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang jatuh. Sebaliknya, Ia menjanjikan pemulihan, “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela.”

Gambaran yang dipakai Hosea sangat indah: Israel akan bertunas seperti bunga bakung, berakar seperti pohon yang kokoh, dan berkembang seperti pohon zaitun.

Pertobatan ternyata bukan sekadar meninggalkan dosa, melainkan kembali berakar pada Allah agar kehidupan kembali menghasilkan buah yang baik. Hati yang bertobat tidak menjadi lebih lemah, tetapi justru semakin kokoh karena bertumpu pada kasih Allah.

Dari hati yang dipulihkan itulah Yesus mengutus para murid. Ia berkata, “Lihat, Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kalian cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mukjizat yang Membuka Mata Batin

Yesus tidak menyuruh murid-murid menjadi serigala agar mampu bertahan. Mereka tetaplah domba, lambang kelembutan dan kedamaian. Namun kelembutan itu tidak boleh berubah menjadi keluguan. Kecerdikan yang dimaksud Yesus bukanlah kelicikan untuk mengalahkan orang lain, melainkan kebijaksanaan membaca situasi, memilih waktu yang tepat, dan bertindak dengan hati yang jernih.

Ketulusan tanpa kebijaksanaan mudah dimanfaatkan, sedangkan kecerdikan tanpa ketulusan berubah menjadi tipu daya. Murid Kristus dipanggil memadukan keduanya dalam kasih.

Perutusan seperti itu tetap relevan hingga hari ini. Di tengah keluarga, tempat kerja, lingkungan, bahkan ruang digital, kita sering berhadapan dengan “serigala-serigala” berupa kebencian, fitnah, manipulasi, ketidakjujuran, dan tekanan untuk mengorbankan nilai-nilai iman.

Kristus tidak meminta kita membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia menghendaki agar kita tetap tulus dalam hati, tetapi bijaksana dalam bertindak; tetap lembut dalam kasih, tetapi teguh dalam kebenaran. Justru di sanalah kesaksian iman memperoleh kekuatannya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Tidak Pernah Terlambat

Saudari dan saudara terkasih, marilah kita memohon rahmat agar memiliki hati yang selalu kembali kepada Allah seperti yang diwartakan Hosea, sekaligus keberanian menjalani perutusan seperti yang diajarkan Kristus.

Orang yang berakar dalam kasih Allah tidak mudah goyah oleh ancaman, tidak mudah hanyut oleh arus zaman, dan tidak kehilangan damai di tengah tantangan. Ketulusan yang diterangi kebijaksanaan akan menjadikan hidup kita tanda kehadiran Kerajaan Allah di mana pun kita diutus.

Petikan BUSA-H untuk kita #10/07/2026@

“Pertobatan sejati bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi kembali berakar dalam kasih Allah.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kelegaan: Saat Kristus Ikut Memikul Beban Kita

“Ketulusan tanpa kebijaksanaan mudah dilukai, tetapi kebijaksanaan tanpa ketulusan kehilangan kebenaran.”

“Orang yang berakar pada Allah tetap mampu berdiri teguh, sekalipun angin zaman bertiup semakin kencang dari segala arah.”

“Kristus tidak memanggil kita menjadi kuat dengan kebencian, melainkan menjadi bijaksana dalam kasih dan teguh dalam kebenaran.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan