BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Tengah Banyak Peta Hidup, Hanya ‘Yesus Map’ yang Menuntun Arah
Minggu, 03 Mei 2026. Hari Minggu Paskah V. Kisah Para Rasul 6:1-7; Rasul Petrus 2:4-9; Yohanes 14:1-12.
Oleh:Rd. Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih, kita hidup di zaman yang serba cepat dan serba pasti, setidaknya tampaknya demikian yang dapat kita saksikan. Ketika kita tersesat di jalan, kita tinggal membuka aplikasi peta digital, dan dalam sekejap arah ditunjukkan. Ketika kita tidak tahu harus ke mana, Google Map memberi jawaban instan.
Namun anehnya, justru di tengah kemudahan itu, banyak orang merasa semakin bingung tentang arah hidupnya. Kita tahu banyak “cara,” tetapi kehilangan “arah.” Kita menguasai berbagai metode, tetapi hati tetap gelisah. Kita bisa menemukan jalan ke mana saja, tetapi tidak selalu tahu ke mana hidup ini sebenarnya tertuju.
Kegelisahan ini sebenarnya sudah lama ada. Dalam Injil hari ini, Tomas dengan jujur berkata kepada Yesus: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
Pertanyaan ini sangat manusiawi dan sangat relevan dengan kita hari ini. Kita pun sering bertanya: jalan mana yang benar? Arah mana yang harus diambil? Namun Yesus tidak menjawab dengan peta, metode, atau langkah-langkah teknis. Ia tidak berkata, “Ini caranya,” tetapi berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mengenal Kristus, Menghidupi Kesaksian
Di sinilah letak perbedaannya. Yesus tidak menawarkan sekadar cara, tetapi diri-Nya sendiri. Ia bukan “petunjuk arah,” atau Google Map melainkan jalan itu sendiri. Ia bukan sekadar pengajar kebenaran, melainkan kebenaran itu sendiri. Ia bukan hanya pemberi hidup, melainkan sumber hidup itu sendiri. Artinya, keselamatan tidak ditemukan dalam teknik hidup yang benar, tetapi dalam relasi dengan Pribadi yang benar, yaitu Kristus.
Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana Gereja perdana menghadapi persoalan konkret: keluhan, ketidakadilan, dan potensi perpecahan. Para rasul tidak menutup mata terhadap masalah itu, tetapi juga tidak kehilangan arah. Mereka tetap berakar pada panggilan utama: doa dan pelayanan Sabda.
Dari situ lahirlah pembagian tugas yang bijaksana. Diakon-diakon dipilih untuk melayani kebutuhan konkret umat. Menariknya, solusi itu bukan sekadar manajemen yang baik, tetapi buah dari iman yang hidup. Hasilnya? “Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid makin bertambah.” Ini menunjukkan bahwa ketika hidup berpusat pada Kristus, bahkan persoalan pun bisa menjadi jalan pertumbuhan.
Dalam bacaan kedua, Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita adalah “batu-batu hidup” yang dibangun menjadi rumah rohani. Kristus adalah batu penjuru, dan kita dipanggil untuk menjadi bagian dari bangunan itu. Ini berarti hidup kita tidak berdiri sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kristus, Jawaban Hati yang Gelisah
Kita tidak berjalan sendirian. Kita adalah umat pilihan, imamat rajani, bangsa yang kudus, yang dipanggil untuk mewartakan perbuatan-perbuatan besar Allah. Identitas ini bukan sekadar status, tetapi panggilan untuk hidup dalam kebenaran yang sejati, bukan kebenaran buatan manusia yang sering bercampur kepentingan, manipulasi, dan kepura-puraan.
Saudari dan saudara terkasih, sering kali kegelisahan hidup muncul bukan karena jalan terlalu gelap, tetapi karena kita lupa dengan siapa kita berjalan. Kita sibuk mencari metode terbaik, strategi tercepat, dan hasil yang pasti, tetapi lupa membangun relasi dengan Kristus. Kita ingin kepastian yang lengkap sebelum melangkah, padahal Yesus mengajar kita untuk melangkah dengan kepercayaan. Ia tidak menjanjikan peta yang detail, tetapi kehadiran yang setia. Inilah kebenaran yang tidak dapat disangsikan.
Kebenaran yang ditawarkan dunia sering kali bersyarat dan terbatas: ada motif, ada kepentingan, ada manipulasi. Tetapi kebenaran dalam Kristus adalah kebenaran yang murni, tanpa kepura-puraan. Ia mengenal hidup kita sepenuhnya, karena Ia adalah sumber hidup itu sendiri. Maka, hidup dalam Dia berarti meninggalkan topeng, meninggalkan kepalsuan, dan berjalan dalam kejujuran di hadapan Allah.
Karena itu, saudari dan saudara terkasih, marilah kita menata kembali arah hidup kita. Bukan pertama-tama dengan mencari cara yang paling cepat, tetapi dengan memastikan kita berjalan bersama Pribadi yang benar. Sebab ketika kita berjalan bersama Kristus, kita mungkin tidak selalu tahu seluruh jalan di depan kita, tetapi kita tidak akan pernah tersesat.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan tentang Siapa Kita, Tetapi Siapa yang Kita Wartakan
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak kita tahu arah, tetapi tentang seberapa setia kita berjalan bersama Dia yang adalah Jalan itu sendiri. Sudahkah ‘Jesus Map’ terpasang dalam hatimu? Ia bukan sekadar penunjuk arah, tetapi Pribadi yang menuntun langkah kita dengan setia, sehingga kita tidak pernah tersesat.
Petikan BUSA-H untuk kita:
”Kita bisa menemukan banyak jalan di dunia, tetapi hanya Kristus yang membawa kita pulang kepada makna hidup yang sejati.”
”Kegelisahan bukan lahir karena kita tidak tahu jalan, tetapi karena kita lupa berjalan bersama Dia yang adalah Jalan itu sendiri.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Gereja yang Terus Dipanggil dalam Terang
“Ketika ‘Jesus Map’ terpasang dalam hatimu, kamu pasti tidak akan pernah kehilangan arah, karena Dia sendiri berjalan bersamamu.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@
Editor: Eginius Moa





